Monday, 31 January 2011

Kemampuan Paranormal Bung Karno

http://rosodaras.wordpress.com/2009/07/19/kemampuan-paranormal-bung-karno/


Kemampuan Paranormal Bung Karno

Bung Karno Jenguk Rakyat Sakit“Paranormal” adalah sebuah kisah yang terselip di antara perjalanan panjang sejarah Sukarno. Karenanya, sepenggal kisah menarik itu, layak diungkap, sekalipun Sukarno sendiri hanya menuturkannya sedikit dalam biografinya.

Dituturkan, saat usianya sekitar empat-lima tahun neneknya (dari pihak ayah) mengambil dan membawanya ke Tulungagung, tak jauh dari tempat tinggal Bung Karno ketika itu di Mojokerto. “Berikanlah anak itu kepadaku untuk sementara,” kata nenek kepada bapak, “aku akan menjaganya.”

Singkat kalimat, Bung Karno kecil dibawa kakek-neneknya ke Tulungagung. Keluarga kakek-neneknya tidaklah terbilang kaya. Ya… mana ada orang pribumi jelata yang kaya waktu itu? Namun, dari berdagang batik, setidaknya lebih mampu memberi Sukarno makan yang cukup, dibanding kedua orangtuanya.

Saat-saat tinggal bersama kakek-neneknya itulah ia sering mendengar kata-kata “kekuatan-kekuatan gaib”. Sesuatu yang jamak dibicarakan orang zaman dulu (bahkan sampai sekarang). Kakek dan neneknya meyakini betul bahwa Sukarno memiliki “kekuatan gaib” yang sekarang kita kenal sebagai kemampuan paranormal.

Dalam disiplin ilmu parapsikologi, kekuatan gaib pada seorang anak, bukanlah hal aneh. Umumnya, ada dua jenis kekuatan gaib yang melekat sejak si jabang bayi lahir. Kekuatan pertama, dapat memberi daya penyembuhan. Kedua, dapat melihat segala sesuatu yang akan terjadi. Mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi.

Terhadap diri Sukarno, ia diyakini kakek-neneknya memiliki kekuatan gaib keduanya. Artinya, ia punya kemampuan paranormal di bidang penyembuhan berbagai penyakit, sekaligus melekat kemampuan gaib bisa mengetahui segala hal yang akan terjadi dalam dimensi waktu yang akan datang.

Sukarno masih ingat, betapa kakek-neneknya sering mengisahkan kehebatan cucunya. Jamak kakek-nenek membangga-banggakan cucunya. Tapi akibatnya, Sukarno-lah yang harus kerepotan dimintai tolong para tetangga, yang memerlukan “kekuatan gaib” miliknya. Tetangga sakit, Sukarno. Tetangga perlu teropong nasib, Sukarno. Jadilah Sukarno laiknya “dukun”.

Gaya pengobatan ala paranormal Sukarno cilik, umumnya dengan menjilat di area pasien yang sakit. Setelah dijilat Sukarno, aneh bin ajaib, tak lama kemudian sembuh. Demikian pula dalam hal teropong. Ia nyeplos saja menjawab pertanyaan orang-orang yang ingin memanfaatkan kekuatan gaibnya. Aneh, lagi-lagi aneh, tak jarang ceplosan Sukarno benar-benar terjadi.

Keanehan lain menimpa pula terhadap keajaiban yang dimilikinya. Seperti yang dituturkannya kepada Cindy Adams, kemampuan penglihatan gaib lambat laut menghilang, bersamaan datangnya kegaiban Bung Karno merangkai kata, menyihir massa melalui pidato-pidatonya yang membahana. (roso daras)

Kasus Dana Revolusi Tutup

http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1995/08/19/0007.html

Kasus Dana Revolusi Tutup
From: apakabar@clark.net
Date: Sat Aug 19 1995 - 09:57:00 EDT

From: John MacDougall

From: nicojt@server.indo.net.id (Nico J. Tampi)

DANA REVOLUSI

Kisah Perburuan Itu Ditutup

Pemerintah menyatakan, pelacakan Dana Revolusi dianggap sudah
selesai. Sebagian dana itu sudah diperoleh Pemerintah.

IBARAT film, adegan pelacakan Dana Revolusi yang menjadi sorotan
masyarakat sejak akhir 1986 telah berakhir meski dengan setumpuk
pertanyaan. Layar telah ditutup oleh Menteri Sekretaris Negara
Moerdiono, Jumat siang pekan lalu. "Kami berpendapat, selesai
sampai di sini," kata Moerdiono kepada wartawan di Gedung Utama
Veteran, Jakarta. Alasannya: Pemerintah tak menemukan bukti-bukti
baru tentang dana tersebut. Yang ada hanyalah analisis. Artinya,
seperti diungkapkan Jaksa Agung Singgih -- yang juga hadir di
situ -- fakta yang ada hanya berdasarkan analisis berita.
Menyiarkan berita burung, menurut Singgih, bisa meresahkan
masyarakat. "Pernyataan siapa pun yang tak disertai bukti akan
terkena sanksi hukum," kata Singgih mengancam.

Harap maklum, dalam kasus ini, Singgih telah membentuk tim. Tim
itu telah melakukan penelitian, termasuk menanyakan langsung
kepada Soebandrio dan sejumlah orang yang dikabarkan berkaitan
dengan masalah ini. Hari itu tim telah melakukan evaluasi yang
pertama sekaligus terakhir.

Pengumuman ini sekaligus menjawab teka-teki ada atau tidaknya
Dana Revolusi. "Dana Revolusi memang ada," kata Moerdiono. Dana
itu dihimpun pada tahun 1964 atas instruksi Presiden Soekarno.
Ketika itu, menurut Moerdiono, Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno
menginstruksikan kepada Menteri Urusan Bank Sentral untuk
menghimpun dan mengatur Dana Revolusi.

Tapi sejak Orde Lama tumbang, cerita itu seperti hilang ditelan
bumi. Baru pada akhir 1986 Dana Revolusi jadi bahan perbincangan
nasional. Adalah tokoh SOKSI (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri
Indonesia) Dr. Suhardiman, yang ketika itu menjadi salah satu
pimpinan Fraksi Karya di DPR, yang mencuatkannya kepada
masyarakat. Sebelum itu Soebandrio, orang yang disebut memegang
dana tersebut, dari penjara mengirim surat kepada Presiden
Soeharto. Intinya, menyampaikan laporan kepada Presiden bahwa ada
kekayaan negara di bank luar negeri atas namanya. Yaitu US$ 450
juta di Union de Banques Suisses dan emas lantakan senilai 125
juta pound di Bank Barclay's, London. Ada lagi masing-masing US$
250.000 di Bank Guyerzeller Zumont, Zurich, dan Bank Daiwa
Securities, Tokyo. Sayangnya, surat Soebandrio itu, seperti
dikatakan Moerdiono, sama sekali tak dilengkapi bukti.

Namun Pemerintah tak tinggal diam. Presiden Soeharto
menginstruksikan Moerdiono -- ketika itu Menteri Muda Sekretaris
Kabinet -- untuk melacaknya. Moerdiono membentuk Tim Operasi
Teladan. Tim itu dipimpin Marsekal Pertama Kahardiman, waktu itu
Kepala Tim Pemeriksa Pusat (Teperpu). Sekarang Kahardiman menjadi
Hakim Agung di Mahkamah Agung. Anggotanya, antara lain, Hartanto
(Sekretaris Moerdiono) dan Teuku Mochamad Zahirsjah (ketika itu
Direktur Bank Indonesia). "Orang-orang inilah yang saya tugaskan
melacak ke Inggris dan Swiss," kata Moerdiono.

Hasilnya memang nihil. Emas lantakan dan uang US$ 450 juta yang
diharapkan tak ditemukan. Tapi bukan berarti Tim Operasi Teladan
gagal total melacak Dana Revolusi. Pada 1987, tim berhasil
menyelamatkan aset negara. Misalnya, Bank Indonesia telah
menerima dari dana tersebut sekitar US$ 550 ribu dan Rp 1,5
milyar. Selain itu US$ 250 ribu di Bank Guyerzeller Zumont, dan
US$ 250 ribu di Bank Daiwa Securities. "Uang ini semua masuk ke
kas negara sejak 1 Oktober 1987," kata Menteri Moerdiono. Hanya
itu. Jadi jumlahnya tak sebanyak yang digembar-gemborkan.

Jumlah dana yang sudah diselamatkan itu mungkin merupakan hasil
pelacakan yang dilakukan aparat Orde Baru, setelah meletusnya
G-30-S/PKI, September 1965. Soalnya, setelah G-30-S/PKI meletus
dan sejumlah pejabat Orde Lama ditangkap -- termasuk Soebandrio
dan Omar Dhani -- upaya penyelamatan harta negara memang
dilakukan.

Salah satu yang bertugas untuk itu adalah Tim Pekuneg (Pengawasan
Keuangan Negara) pimpinan Mayor Jenderal Soerjo. Dari surat
Kepala Tim Pemeriksa Pusat (Teperpu), Marsekal Pertama
Kahardiman, 30 Juli 1987, kepada salah seorang Direktur Bank
Indonesia, diketahui bahwa sejumlah aset negara yang diselamatkan
Tim Pekuneg. Menurut surat tadi, sejak 1966 sampai Maret 1973,
Pekuneg telah menyelamatkan uang dan barang sekitar US$ 9,8 juta.
Dari jumlah itu sekitar US$ 9 juta berasal dari Dana Revolusi.
Selain itu ada lagi: N FL 500.000, ditambah 153 ribu yen,
ditambah Rp 93.773, dan 100,5 kg emas, serta 100 kg perak.

Dalam surat itu juga disebutkan, pada 26 November 1960,
Soebandrio membuka rekening di Union de Banques Suisses,
Schweizerische Bank Geselinschaft Bern, Switzerland, Nomor GF
90074891. Artinya, Pekuneg sudah tahu rekening Soebandrio di
Swiss itu. "Saya mendapat informasi tentang nomor account itu,
kemudian saya serahkan kepada bank," kata Kahardiman kepada
Gatra.

Selain itu Tim Operasi Teladan pada tahun 1987 telah memanggil
sejumlah tokoh untuk ditanyai tentang Dana Revolusi. Di antara
mereka: Husbin Mutahar, eks pejabat keuangan di Departemen Luar
Negeri, Mulyadi Milono, eks bendahara Badan Pusat Intelijen (BPI)
yang dipimpin Soebandrio, Hartono, orang kepercayaan Soebandrio
di Departeman Luar Negeri waktu itu, dan Habir, eks Kepala Bagian
Ekonomi atau Kepala Kantor Pampasan Perang KBRI Tokyo.

Jawaban mereka cukup mengejutkan. Mutahar, misalnya, tahu ada
Dana Revolusi US$ 250 ribu di Bank Guyerzeller Zurmont, Swiss. Ia
juga tahu bahwa Hartono menyimpan US$ 250 ribu di Bank Daiwa
Securities, Tokyo. Dana tersebut akan digunakan untuk
penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika tahun 1965, tapi gagal.
Sisa uang ia berikan kepada tim pemeriksa waktu itu: Kolonel Her
Tasning, Kolonel Harsono, dan Mayor Sudharmono.

Sementara itu Mulyadi Milono dalam pemeriksaan tersebut mengaku
menerima dana US$ 500 ribu. Sekitar US$ 300 ribu dari jumlah itu
ia habiskan untuk membiayai pendidikan dan membeli peralatan
intel. Sisanya, US$ 200 ribu, ia serahkan kepada tim pemeriksa
pada waktu itu yang dipimpin Kolonel Her Tasning. Sedangkan
Hartono mengaku menyimpan uang masing-masing US$ 250 ribu di Bank
Guyerzeller Zurmont, dan Bank Daiwa Securities. Menurut Hartono,
Soebandrio -- dalam status tahanan -- menandatangani surat kuasa
kepada Kolonel Her Tasning untuk mengambil uang di kedua bank
tersebut. Semua dana yang berhasil disita itu mungkin sudah
termasuk dalam angka Dana Revolusi yang berhasil diselamatkan,
seperti disebutkan Menteri Moerdiono tadi.

Bekas Wakil Presiden Sudharmono -- salah satu nama yang disebut
sebagai penyelamat Dana Revolusi itu, selain Kolonel Her Tasning
dan Kolonel Harsono -- tak bersedia memberi keterangan ketika
ditemui Gatra, pekan lalu. Ia manyarankan untuk menanyakan soal
itu kepada Pemerintah. "Saya sudah katakan, kalau ada data atau
informasi baru tentang Dana Revolusi, sebaiknya langsung
dilaporkan kepada Pemerintah," kata Sudharmono kepada Genot
Widjoseno dari Gatra.

Tapi selain Tim Pekuneg dan tim Kolonel Her Tasning tadi ada pula
Tim Operasi Khusus (Opsus) yang dipimpin Ali Moertopo, yang
ternyata turut pula berusaha menyelamatkan harta negara
peninggalan rezim Orde Lama. Ali Moertopo minta bantuan Des Alwi,
tokoh yang terkenal sebagai pemburu benda bersejarah Indonesia di
luar negeri, untuk mengecek dana tersebut di luar negeri. Des
yang mengaku bukan anggota Opsus berhasil menyelamatkan sekitar
S$ 2 juta. Uang itu, katanya, sisa barter ekspor kita -- terutama
karet -- ke Malaysia dan Singapura. Ini dilakukan Des seusai
konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Uang itu dimasukkan Des ke
Bank Indonesia di Hong Kong.

Des Alwi juga berhasil melacak US$ 100 ribu dari Bank Arab di
Paris. Itu terjadi pada 1973. "Tapi uang itu hangus dibawa mati
oleh pimpinan cabang bank tersebut di Amerika Selatan," kata Des
Alwi kepada Dani Hamdani dari Gatra. Pimpinan bank itu, Belgas,
melarikan uang bank yang dipimpinnya ke sebuah negara di Amerika
Latin dan ia meninggal di sana. Bank ini jarang disebut orang
sebab, kata Des, bank itu sendiri sudah bangkrut. Menurut Des
Alwi, pencarian Dana Revolusi ini sebenarnya sia-sia saja. "Tak
masuk akal ada duit sampai trilyunan rupiah," katanya. Sebab,
katanya pula, negara kita waktu itu sedang bangkrut. Utang
kiri-kanan.

Des Alwi mengaku, tak tahu sama sekali tentang temuan Opsus dalam
bentuk emas. Memang ada isu yang menyebutkan bahwa Tim Opsus Ali
Moertopo disebut-sebut berhasil mengamankan 100 kg emas dan 400
kg perak. "Saya tak pernah mendengar itu. Setahu saya, di dunia
tak ada orang menyimpan emas di bank," kata Des Alwi, putra
Bandaneira, yang berusia 68 tahun itu.

Menurut pengetahuan Harry Hoepoedio, kemenakan istri pertama
Soebandrio, ada satu nama lagi yang dianggapnya tahu tentang
dokumen Dana Revolusi. Orang itu, katanya, dari satuan tugas
khusus luar negeri. Ada yang menyebut orang ini cuma informan.
Ketika rumah bekas Waperdam I Soebandrio diserbu mahasiswa dan
pemuda, tahun 1966, orang itu sempat menemukan beberapa dokumen
atau cek. Setelah demo mereda, orang itu ke Jepang untuk
mencairkan cek tersebut. Tapi pihak keamanan tahu kasak-kusuk
orang itu. Nah, begitu sampai di Tanah Air, ia ditangkap.
Kemudian ia dibawa ke Markas Polisi Militer di Guntur, Jakarta
Selatan. Tak ada kabar setelah itu. "Orang itu mati dalam
tahanan. Dana Revolusi ternyata makan korban," kata Haji Harry
Hoepoedio, 50 tahun.

Kini pelacakan Dana Revolusi sudah dihentikan. Pengumuman Menteri
Moerdiono dan Jaksa Agung Singgih tersebut tentu disambut baik
oleh Soebandrio dan keluarganya. Dokter Soebandrio, yang pernah
menjadi orang kuat nomor dua di negeri ini tentu akan bisa
menikmati sisa usianya dengan tenang. Sebab Dana Revolusi sudah
tak diperbincangkan lagi. Layar telah ditutup. Paling-paling
setelah keluar sel, Soebandrio harus memikirkan utangnya kepada
Musa bin Mohamad Kasdi, mitranya dari Malaysia, untuk menguber
Dana Revolusi. Rupanya, 27 Februari 1981, ia mengutang kepada
Musa US$ 10.000 dengan bunga 12% per tahun, yang agaknya akan
dilunasi kalau perburuan Dana Revolusi berhasil.

Julizar Kasiri dan Linda Djalil

Amerika di Belakang Revolusi Mesir

http://international.okezone.com/read/2011/01/31/18/419631/amerika-di-belakang-revolusi-mesir

Amerika di Belakang Revolusi Mesir

Senin, 31 Januari 2011 - 10:23 wib
Tank Mesir diserbu pengunjuk rasa (Foto: CNN)


Skenario itu telah disusun Washington dengan bertema “perubahan rezim” selama tiga tahun terakhir. Skenario itu sangat matang hingga meledak setelah kesuksesan Revolusi Melati yang menggulingkan Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali.

Harian Daily Telegraph terbitan Inggris menyebutkan, AS diam-diam mendukung para pemimpin gerakan revolusi Mesir. Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Kairo pernah membantu seorang anak muda anti-pemerintah untuk menghadiri konferensi para aktivis AS.

Nama pemuda itu dirahasiakan agar tidak diketahui polisi Mesir.Kemudian,saat datang ke Kairo pada Desember 2008,aktivis itu menuturkan bahwa para diplomat AS menggaet kelompok oposisi untuk merencanakan skenario menggulingkan Presiden Mubarak dan membentuk pemerintahan demokratik pada 2011.
Aktivis tersebut kini telah ditangkap dalam kaitannya dengan demonstrasi yang merebak akhirakhir ini.

Identitasnya tetap dilindungi Daily Telegraph. Sementara, data kabel rahasia diplomatik AS yang dirilis situs peretas WikiLeaks menunjukkan, pejabat Washington menekan pemerintah Mesir agar membebaskan para aktivis antipemerintah yang ditahan.

Dalam data diplomatik disebutkan, pada 30 Desember 2008 Duta Besar AS untuk Mesir Margaret Scobey melaporkan bahwa kelompok oposisi sedang menyusun agenda rahasia “perubahan rezim” yang akan dilaksanakan sebelum pemilu, dan dijadwalkan pada September 2011.

Memo yang dikirim Scobey dikirim ke Kementerian Luar Negeri AS di Washington itu bertanda “rahasia” dan berjudul “(Gerakan) 6 April, kunjungan aktivis ke AS dan perubahan rezim di Mesir”.
Data kawat diplomatik juga menyebut bahwa para aktivis mengklaim mendapatkan dukungan dari kekuatan oposisi yang menyepakati rencana tidak tertulis untuk transisi menuju demokrasi parlementer.

Mereka ingin mengubah konsep tataran pemerintahan Mesir dengan memperlemah kekuasaan presiden dan memperkuat perdana menteri dan parlemen. Rencananya, aksi itu akan dilaksanakan sebelum pemilu presiden 2011. Sumber kedutaan menyebutkan, rencana tersebut sangat sensitif dan tidak boleh ditulis.

Bagaimanapun, dari dokumen tersebut menunjukkan para aktivis telah didekati para diplomat AS.Para aktivis juga mendapatkan dukungan besar atas kampanye pro-demokrasi dari para pejabat di Washington.

Ya, aksi demonstrasi Mesir kali ini dikendalikan Gerakan Pemuda 6 April, sebuah kelompok di Facebook yang menarik generasi muda dan kelompok terdidik untuk menentang Mubarak. Kelompok ini beranggotakan 70.000 anggota dan menggunakan situs jejaring sosial untuk mengendalikan demonstrasi.
Meski akhirnya Mubarak memutus semua jaringan komunikasi di negaranya. Mubarak kini menghadapi tantangan paling berat dalam pemerintahannya selama 31 tahun berkuasa.

Sebagai sekutu utama, posisi AS pun serbasulit.Tetapi,AS tetap memainkan standar ganda untuk menutupi skenario revolusi. Itu terbukti ketika Obama berkomentar pada pekan lalu mengenai Mesir.
Presiden AS Barack Obama dalam reaksi atas demonstrasi di Mesir, menyatakan, “Kekerasan bukanlah jawaban dalam penyelesaian permasalahan di Mesir.” Dia juga menegaskan agar Mubarak menempuh langkah reformasi politik. Bisa dibilang, investasi AS untuk Mesir sangatlah banyak.

Salah satunya adalah militer. AS juga dalam kondisi khawatir karena memikirkan apakah militer Mesir akan berpihak ke Washington atau tidak. Sedikitnya USD1,3 miliar bantuan AS dikucurkan untuk militer Mesir pada 2010.Bantuan untuk pasukan huru-hara dan polisi Mesir berjumlah sekitar USD1 juta.
“Hubungan dengan militer merupakan suatu hal yang sangat keramat. Militer merupakan elemen penting dalam hubungan dua negara,”ujar Jon Alterman,peneliti di Pusat Kajian Strategi dan Internasional. Washington telah mengancam militer Mesir agar tidak bertindak keras terhadap demonstran.

Suleiman, Masa Depan Mesir?

Revolusi Mesir kini tidak lagi fokus terhadap penggulingan Mubarak.Rakyat Mesir dan dunia internasional mengarahkan perhatiannya terhadap Omar Suleiman. Siapa dia? Suleiman telah dipilih menjadi Wakil Presiden Mesir.Dia pernah menyelamatkan Mubarak ketika diserang teroris di Etiopia.

Penunjukan Suleiman sebagai wakil presiden pada Sabtu 29 Januari lalu merupakan sinyal bahwa dialah calon pemimpin masa depan Mesir yang direstui Mubarak.
Kedekatan Suleiman dengan militer dan dikenal sebagai pemecah masalah adalah harapan bagi Mubarak yang ingin mempertahankan kekuasaan. Kedua orang tersebut merupakan sahabat lama dan sama-sama dekat dengan Washington.
Para pejabat AS memandang Suleiman sebagai pemimpin transisi nantinya, setelah Mubarak.
Dengan dukungan Ahmed Shafiq, 69, yang ditunjuk sebagai perdana menteri, ditambah dengan Hussein Tantawi yang tetap menjabat panglima militer, maka posisi Suleiman semakin kuat.

“Presiden (Mubarak) memilih seorang pria yang dia percaya ketika dia (Mubarak) sedang digoyang,” ujar Mahmud Shokry, mantan duta besar untuk Suriah dan teman dekat Suleiman,kepada The NewYork Times.

“Tidak ada keraguan bahwa presiden tidak mengetahui apa yang akan terjadi nanti.” Suleiman, mantan jenderal, menjadi kandidat pemimpin Mesir yang telah diskenariokan kubu Mubarak dan militer.
Jika Suleiman tetap maju,maka publik akan marah karena itu tidak dikehendaki oleh rakyat Mesir.Jika Suleiman jadi presiden, maka demokrasi otoriter dengan dukungan militer akan terus berlanjut.

“Dia (Suleiman) merupakan orang yang keras dan kuat dengan orientasi bisnis. Dia juga merupakan negosiator yang ulung,”ujar Emad Shahin, mantan dosen di American University di Kairo.

Menurut Shahin, setelah aksi demonstrasi besar-besaran ini jelas sekali militer akan mengambil alih.Apalagi, sejarah telah membuktikan bahwa rakyat Mesir memang lebih menghormati militer. Itu disebabkan militer yang menyelamatkan Mesir ketika berperang melawan Israel pada 1967 dan 1973.

Mencari Pemimpin Alternatif Mesir

Jadi, apakah Suleiman adalah orang yang dipandang Barat mampu menggantikan Mubarak? Jawabannya memang sangat sulit.Barat tidak memfavoritkan Suleiman sebagai pengganti Mubarak yang telah 30 tahun berkuasa meski wakil presiden baru itu tampaknya akan didukung AS. Telunjuk Barat sebenarnya lebih terarah pada Mohamed ElBaradei yang dielu-elukan Barat.

Dia dianggap cocok menjadi pemimpin transisi bagi Mesir.Pergaulan yang luas membuat ElBaradei dihargai banyak pihak. Apalagi, dia merupakan seorang sekuler. ElBaradei menyerukan agar Ikhwanul Muslimin seharusnya menjadi partai politik dan bekerja sama dalam satu payung bersama Koalisi Nasional untuk Perubahan. (Koran SI/Koran SI/Koran SI/Koran SI/andika hm)
(Andika Hendra Mustakim/Koran SI/faj)
(Andika Hendra Mustakim/Koran SI/faj)Share

Berita Terkait: Mesir memanas

Sunday, 30 January 2011

Dipati Ukur, an Honourable Hero or a Legendary Loser

Sumber :
http://aleut.wordpress.com/2011/01/29/dipati-ukur-an-honourable-hero-or-a-legendary-loser/

Dipati Ukur, an Honourable Hero or a Legendary Loser

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Dipati Ukur, an Honourable Hero or a Legendary Loser

Kalimat tersebut termaktub dalam bagian terakhir karya Rabin Hardjadibrata yang berjudul “Dipati Ukur, Was it the Week that Ushered 350 Years of Dutch Rule”. Tokoh Dipati Ukur memang merupakan seseorang yang misterius dan telah menjadi diskusi selama ratusan tahun. Ada yang menganggapnya pahlawan, ada yang menganggapnya pemberontak yang gagal, ada pula yang melihatnya sebagai sekadar tokoh figuran dalam sejarah. Tapi yang pasti, di luar segala penilaian tersebut, dengan mengenali sejarah tokoh Dipati Ukur, ada banyak hal yang bisa dipelajari.

Di abad-16, seluruh daerah Pasundan berada di bawah kekuasaan Mataram. Berdasarkan babad Limbangan, pangeran Sumedang Arya Suriadiwangsa (Kusumadinata) sengaja mendatangi Sultan Mataram (susuhunan) untuk mengabdikan diri kepada Mataram (serah bongkokan) tahun 1620 M. Susununan kemudian menjadikannya sebagai Bupati-Wedana seluruh tanah Pasundan. Sejak saat itu, tanah pasundan dinamakan “Praiangan” (pemberian) sehingga dikenal di kemudian hari sebagai Priangan. Pangeran Arya Suriadiwangsa pun mendapat gelar baru dari susuhunan, tidak lain adalah “Rangga Gempol”.

West java

Mengenai Dipati Ukur sendiri, identitasnya tidak jelas. Tapi pastinya ia adalah Dipati / Bupati dari daerah Tatar Ukur, sekarang kabupaten Bandung dan beribukota di daerah Pabuntelan. RD. Asikin menyebutkan bahwa Sosok Dipati Ukur bukanlah berasal dari tanah Pasundan melainkan seorang bernama Dipati Wangsanata yang berasal dari Jambu karang, Purbalingga (Banyumas).

Tahun 1625, Rangga Gempol dan Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Mataram untuk menyerang Pamekasan/Sampang. Serangan ini gagal dilaksanakan sehingga kedua pimpinan itu kembali ke Mataram dan terancam hukuman dari Susuhunan Mataram. Sultan yang murka menghukum mati sang Pangeran Sumedang dengan memancung kepalanya. Konon buktinya saat ini makam sang Pangeran Sumedang bisa kita temukan di dua tempat, yaitu di daerah Lempuyangan Jogjakarta dan Jalan Karasak (kotabaru). Satu makam menyimpan kepalanya, dan satu makam lainnya menyimpan tubuhnya.

Sumber lain memuat cerita berbeda, menurut penuturan R.D. Asikin, Pangeran Rangga Gempol dan Dipati Ukur ternyata berhasil menaklukkan Sampang walau dengan jalan perdamaian. Dan untuk mengungkapkan kegembiraan atas kemenangan tersebut, terdengarlah oleh Dipati Ukur bahwa Pangeran Rangga Gempol sempat mengucapkan kalimat sebagai berikut ,

Entong boro Sampang, najan Mataram oge Raji sanggup nalukkeun jero sabedug” (Jangankan Sampang, Mataram pun bisa kutaklukkan).

Walau diucapkan sebagai bentuk lelucon, Dipati Ukur melaporkan ucapan ini ke Sultan Mataram sehingga keluarlah murkanya. Ia menghukum pancung sang Pangeran Rangga Gempol.

Entah mana versi yang benar, namun berdasarkan versi cerita pertama, Dipati Ukur menolak hukuman mati dan meminta kesempatan memimpin pasukan untuk menyerang Batavia, dengan kepalanya sebagai taruhannya.

Nyuhunkeun hampura jeng Gusti. Abdi anggur maju perang, ngarempug tanah Betawi, manawa aya idin, Jaketra arek digempur” Ujar Dipati Ukur

“Sukur maneh sanggup jurit, pibatureun bopati sabeulah girang” Jawab Sultan Agung.

Sang Sultan menyambut tawaran tersebut dan kemudian mengangkat Dipati Ukur sebagai penguasa sekalian kawasan Priangan (Umbul 44) dan memerintahkannya bersama pasukan Mataram yang dipimpin Tumenggung Bahureksa (Dari Kendal) untuk menyerang Batavia.

The Siege of Batavia

Dalam rencana penyerangan Batavia, Dipati Ukur memimpin 10.000 pasukan dari tanah Pasundan dan transit di Karawang untuk bergabung dengan pasukan Mataram pimpinan Bahureksa. Namun setelah selama kurang lebih seminggu menunggu, pasukan Mataram tidak juga tiba. Dipati Ukur kemudian memutuskan untuk menyerang Batavia dengan kekuatan seadanya. Penyerangan Batavia yang dilakukan oleh Dipati Ukur berbuah kegagalan. Pasukan Bahureksa yang tiba di Karawang dan menemukan bahwa pasukan Dipati Ukur telah berangkat tanpa sepengetahuannya kemudian memutuskan pula untuk menyerang Batavia. Usaha penyerangan kedua ini juga gagal karena VOC telah keburu mempersiapkan diri.

Bahureksa yang kecewa kemudian melaporkan kepada Susuhunan Mataram bahwa penyebab dari segala kegagalan ini adalah karena Dipati Ukur yang menyerang Batavia tanpa menunggu tambahan pasukan pimpinan dirinya. Sultan Agung (Susuhunan Mataram) kemudian memerintahkan hukuman mati pada Dipati Ukur akibat kegagalan penyerangan Batavia itu.

Dipati Ukur sebenarnya sudah mengetahui konsekwensi akibat kegagalan serangannya tersebut. Daripada menghadap Mataram dan mati di tangan Sultan, Dipati Ukur memutuskan untuk menghimpun kekuatan guna memisahkan diri dari kekuasaan sang Susuhunan.

Mun aing ngasih kawula, tangtu aing meunang nyeri, kadangkala dipaehan. Anggur urang mapag baris. Sabalad-baladna kami, urang pindah ka gunung, nyarieun benteng di dinya…”

Dipati Ukur mengajak pimpinan-pimpinan Sunda (Umbul) untuk ikut bersama dengannya membangun pertahanan di Gunung Lumbung. Namun ajakan ini ditolak oleh beberapa pimpinan lokal : Ngabehi Wirawangsa (Sukakerta), Ngabehi Samahita (Sindangkasih), Ngabehi Astramanggala (Sindangkasih) dan Uyang Sarana (Indihiang). Keempat umbul ini kemudian melaporkan tindakan Dipati Ukur kepada Sultan Agung. Sebagai ungkapan terima kasih atas laporan tersebut, Sultan Agung mengampuni mereka.

Sultan Mataram kemudian mengirim pasukan dipimpin Narapaksa untuk menghancurkan pasukan Dipati Ukur. Berdasarkan catatan Belanda. Sekitar 100.000 pasukan dikerahkan untuk meratakan tanah Ukur dan Sumedang. Banyak dari penduduk Ukur ini yang mengungsi ke Banten dan Batavia. Pasukan Dipati Ukur yang bertahan di Gunung Lumbung berhasil menahan serangan pertama dari pasukan Mataram. Sultan Agung kemudian mendapatkan informasi bahwa Dipati Ukur hanya dapat dikalahkan oelh pasukan yang berasal dari tanah Pasundan, oleh karena itu dalam serangan kedua, beliau menyertakan pasukan Bagus Sutapura dari Galuh dan serangan ini mampu mematahkan pertahanan Dipati Ukur.

Dipati Ukur berhasil ditawan dan dihukum mati di Mataram. Daerah kekuasaan Dipati Ukur kemudian dibagi kepada tida umbul yang tidak ikut berontak : Ngabehi Astamanggala menjadi Tumenggung Wiraangun-angun, Ngabehi Samanhita menjadi Tumenggung Tanubaya. Ngabehi Wirawangsa menjadi Tumenggung Wiradadaha. Masing-masing mereka menjadi Bupati daerah Bandung, Sukapura dan Parakanmuncang. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa daerah Bandung (kabupaten) merupakan hadiah atas usaha mengalahkan Dipati Ukur.

Sultan Agung

Berdasarkan riwayat, hukuman yang diterima Dipati Ukur dan pengikutnya cukup keji dalam ukuran modern, yaitu Dipenggal leher, dimutilasi, dibakar, direbus dalam air, dipicis, dan ditumbuk. Para tawanan wanita ditenggelamkan sampai mati. Entah di mana Dipati Ukur dimakamkan, namun hingga sekarang kita dapat menemukan beberapa lokasi makam Dipati Ukur : Astana Luhur (Pameungpeuk), Puncak Gunung Geulis (Ciparay), Tepi Citarum (Desa Manggahang), Gunung Sadu (Soreang), kampung Cikatul/Pabuntelan (Pacet), Astana Handap (Banjaran), Gunung Tikukur (desa Manggahang) dan Pasir Luhur (Ujungberung utara).

Sebenarnya ada beberapa versi mengenai kisah Dipati Ukur yang lengkapnya dapat dibaca dalam karya Dr. Edi S. Ekadjati “Ceritera Dipati Ukur”. Hampir mustahil untuk memastikan versi mana yang paling benar karena setiap versi disusun berdasarkan Babad yang nilai subjektifitasnya tinggi. Dalam akhir bukunya tersebut, sang Doktor menyebutkan :

Terjadinya saling menuduh di antara keluarga bangsawan Priangan (Galuh, Sukapura, Bandung, Sumedang, Cianjur, Dll.) yang bertalian dengan penilaian terhadap tokoh Dipaati Ukur, kiranya merupakan perselisihan yang sesungguhnya memperebutkan “Picisan Kosong”. Hal itu disebabkan anggapan yang tidak pada tempatnya tentang CDU (Cerita Dipati Ukur). Penempatan CDU pada kedudukan yang semestinya, akan menghindari salah faham yang bukan-bukan.”

Melalui tulisan ini, Saya tidak akan menilai baik-buruknya tokoh Dipati Ukur, melainkan hanya mengambil kesimpulan bahwa pada dasarnya berdasarkan Kisah Dipati Ukurtersebut, adalah tidak mudah untuk bisa mempersatukan tokoh-tokoh pemimpin (politik) dari Jawa Barat. Padahal kalau mereka bersatu, mungkin mereka bisa mengalahkan suatu Emporium seperti Mataram atau bahkan VOC sekalipun. Yang pasti kelemahan inilah yang digunakan pihak-pihak tertentu untuk terus melemahkan Jawa Barat. Saatnya tokoh-tokoh Sunda bersatu, dan menunjukan bahwa kita punya kekuatan.

Sumber :

Dr. Edi S. Ekadjati. Ceritera Dipati Ukur. Pustaka Jaya 1982

Rabin Hardjadibrata, Dipati Ukur : Was it the Week that Ushered 350 Years of Dutch Rule?. Pusat Studi Sunda, 2009

R.D. Asikin Widjajakoesoema. Sadjarah Sumedang. Firma Dana Guru, 1960

Menggugat Hari Kebangkitan Nasional

http://www.serambinews.com/news/printit/31000

Thu, May 20th 2010, 09:27

Menggugat Hari Kebangkitan Nasional

“Setiap manusia mempunyai kekuatan sejarah yang menyingkapkan masa lalunya. Sejarah telah mendudukkan kembali dalam ukuran yang lebih berat dan kokoh bagi yang bersangkutan dan beribu-ribu rahasia dari masa lalu terbit kembali dari lubuk yang tersembunyi dari cahaya matanya. Masih tidak ada sahabat yang tidak mengerti arti mimpi yang akan menjelma menjadi kenyataan sejarah satu saat nanti, karena terkadang masa lalu masih belum semua nampak. Banyak kekuatan yang agaknya belum kita ketahui.” (Feriderick Nietzche).

UCAPAN Nietzche tersebut bisa merangsang orang untuk menyingkap fakta sejarah yang menyimpan sejuta rahasia masa lalu yang belum terungkap. Kehadiran Organisasi Boedi Oetomo (20 Mei 1908) misalnya, secara jujur perlu dipaparkan keabsahannya untuk diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sebabnya, organisasi ini bersifat jawa centries, anti agama, tidak berjiwa nasionalis, terang-terangan mendukung kesinambungan penjajahan Belanda dan tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, konon lagi berjuang. Sayangnya, beberapa pakar sejarah berkomplot mengelabui fakta sejarah Indonesia yang sesungguhnya. Padahal sejarah adalah surat keramat, yang selain mengisahkan keagungan, juga menyimpan kepalsuan dan membesar-besarkan suatu peristiwa yang tidak pernah wujud dinyatakan telah terjadi, hingga fakta sejarah yang palsu tadi dianggap sebagai suatu kebenaran sejarah. Dalam konteks ini sikap kritis diperlukan, sebab “siapapun yang mempercayai sesuatu (pen: fakta) tanpa pengetahuan yang cukup, sama dengan orang jahiliyah.” (Sayyid Quthb, “Tafsir Baru Atas Realitas”, 1996.)

Sebelum ini dan juga sekarang, orang sudah telanjur mengakui bahwa Budi Utomo adalah embrio dari kebangkitan nasionalisme Indonesia, sekaligus motor penggerak perjuangan kesadaran politik berbangsa dan bernegara serta bercita-cita memerdekakan Indonesia. Benarkah? Ternyata setelah diteliti terbukti bahwa pertemuan yang diadakan oleh organinsasi Budi Utomo sifatnya terbatas, hanya dihadiri oleh kalangan orang-orang Jawa saja (alumnus STOVIA asal Jawa Tengah dan Timur), tidak dihadiri oleh orang Sunda (Jawa Barat), apalagi orang-orang (perwakilan) dari luar pulau Jawa. Agenda pertemuan difokuskan kepada perubahan nasib masa depan politik orang Jawa dan Madura. Hal ini secara tegas dinyatakan dalam pasal 2 Anggaran Dasar Budi Utomo bahwa: “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis.” Jadi, argumentasi KH. Firdaus AN dalam buku: “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa” yang menyatakan: “Tidak pernah sekalipun rapat Budi Utomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka” adalah akurat. Apalagi terbukti bahwa, bahasa resmi yang digunakan dalam setiap pertemuan, surat-menyurat, termasuk Anggaran Dasar organisasi ini ditulis dalam bahasa Belanda. Ini berarti, Budi Utomo bersifat ke-Jawa-Madura-an (ethnocentries) dan sama sekali bukan berjiwa kebangsaan (nasionalisme).

Puluhan tahun kemudian, rahasia ini juga terkuak, setelah Ali Sastroamijoyo (salah seorang anggota Budi Utomo) mengaku bahwa tujuan organisasi ini waktu itu memang terbatas bagi kalangan masyarakat Jawa dan Madura saja. Garis perjuangan Budi Utomo yang menggalang kerjasama dengan pemerintahan Hindia Belanda, dibangun atas dasar perubahan politik yang sedang bergulir di Eropa, dari isu kolonialisme yang mengandalkan kekerasan kepada isu demokrasi. Para penasehat politik Belanda berpendapat bahwa, sudah saatnya “politik ethis” dilaksanakan di wilayah “Netherlands East Indie”. Dengan begitu, diharap bisa mengurangi atau meredam ketegangan konflik vertikal. Untuk itu, kepada aktivis Budi Utomo yang sudah dicuci otaknya (brain washing), diangkat menjadi anggota Volkstraad (parlemen) untuk menyuarakan aspirasi politik anak jajahan.

Berangkat dari sini, maka lahirlah beberapa partai politik seperti, PNI, PKI, Partindo, Gerindo, Patai Indonesia Raya (PIR) dll yang mempunyai wakil dalam Volksraad Hindia Belanda. Namun demikian, Budi Utomo tidak memiliki andil sedikitpun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Budi Utomo tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. Budi Utomo adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, dimana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya.” (KH. Firdaus AN. “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa”

Ketika disadari bahwa ideologi organisasi ini tidak mampu lagi berhadapan dengan perubahan politik yang terjadi, akhirnya Dewan Pengurus sepakat untuk membubarkan organisasi Budi Utomo, 1935. Mereka mengurung diri dari pentas politik dan memenjarakan diri dalam faham kerakyatan yang berciri feodal dan keningratan. Tidak seorangpun diantara mereka yang dijebloskan ke dalam penjara karena alasan menentang kebijakan politik pemerintah Hindia Belanda.

Diakatakan pula bahwa, Budi Utomo yang untuk pertama sekali dipimpin oleh Raden T. Tirtokusumo (Bupati Karanganyar, priode 1908-1911) dan diteruskan oleh Pangeran Aryo Notodirodjo (Keraton Paku Alam Yogyakarta) yang digaji Belanda: “bersikap terbuka, toleran dan menghormati keberagaman agama.” Padahal Noto Soeroto, salah seorang tokoh Budi Utomo, dalam pidatonya tentang “Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging”, terang-terangan berkata, “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya. Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan.” Bukti lain. Dalam “Suara Umum” (media milik Budi Utomo) yang dipimpin Dr. Soetomo terbitan Surabaya, memuat sebuah artikel, yang dikutip oleh A. Hassan dalam Majalah “Al-Lisan”, berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (M.S) Al-Lisan nomor 24, 1938.

Hubungan antara aktivis Budi Utomo dan tokoh Serikat Islam (S.I-1902) sangat runcing. Hal ini, selain disebabkan oleh perbedaan falsafah dan tujuan oraganisasi; S.I menuduh bahwa organisasi Budi Utomo anti agama, khususnya Islam. Tuduhan ini didasarkan atas statemen tokoh-tokoh Budi Utomo, apalagi Raden Adipati Tirtokusumo, dikenal pasti sebagai salah seorang pengikut Freemasonry, yang aktif menjalankan missinya sejak 1895 di daerah Mataram. Selain dia, Boediardjo, (Sekretaris Budi Utomo, 1916), juga seorang Mason dan pernah mendirikan “Mason Boediardjo. Dr. Th. Stevens” di pulau Jawa.

Fakta diatas, agaknya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa organisasi Budi Utomo tidak pernah memiliki cita-cita untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jadi, sangat naif sekali kalau dikatakan Budi Utomo sebagai embrio dari kebangkitan nasional dan demokrasi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini a-historis! Membesar-besarkan peranan Budi Utomo, tidak lebih dari konspirasi politik sejarah yang sesat dan menyesatkan.

* Penulis adalah Director Institute for Ethnics Civilization Research, Denmark.

link terkait :
http://demulkos.wordpress.com/2007/05/22/20-mei-bukan-hari-kebangkitan-nasional/

Sultan Cirebon Undang Wapres Hadiri Maulid Nabi

http://news.okezone.com/read/2011/01/28/337/418983/sultan-cirebon-undang-wapres-hadiri-maulid-nabi

Sultan Cirebon Undang Wapres Hadiri Maulid Nabi

Jum'at, 28 Januari 2011 - 14:12 wib
Insaf Albert Tarigan - Okezone
Wapres Boediono. (Foto: Koran SI)

JAKARTA - Sultan Sepuh XIV Kesultanan Kesepuhan Cirebon Arief Natadiningrat mengundang Wakil Presiden Boediono dalam acara pawai budaya, dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kraton Kesepuhan Cirebon.

Acara tersebut merupakan acara rutin tahunan yang digelar Kesultanan Cirebon dan biasanya dihadiri ribuan orang termasuk raja-raja yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Kraton-kraton Nusantara.

"Kami catat undangan itu, karena kalender agenda Wapres udah cukup padat. Acara ini cukup besar, biasanya ada pawai besar," kata Juru bicara Wakil Presiden Yopie Hidayat kepada wartawan di Jakarta, Jumat (28/1/2011)

Selain menyampaikan undangan, Sultan Cirebon juga meminta bantuan proyek pembangunan bandar udara internasional di daerah Kertajati dan pembangunan pelabuhan laut alternatif di daerah Indramayu.

Namun, karena hal tersebut bersifat teknis dan bukan proyek baru, Boediono harus membicarakannya dengan menteri terkait.(hri)

Saturday, 29 January 2011

Cadas Pangeran: Di Antara Mitos dan Fakta

http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=817

Cadas Pangeran: Di Antara Mitos dan Fakta


Saat tikus digeser-geser menelesuri senarai situs di laman google yang memuat kata kunci “cadas pangeran” berhentilah di satu alamat http://staff.ui.ac.id/internal/131124734/material/ArtikelCadasPangeran.pdf
Klik, unduh, baca… dan terpana.

Sebulan sebelumnya, akhir September 2010 ketika melihat-lihat deretan buku di Rumah Buku, toko buku diskon saingan Togamas, sama-sama di Jl. Supratman Bandung, pandangan mata saya tertuju ke satu judul buku tipis: Pangéran Kornél, karangan R. Méméd Sastrahadiprawira, terbitan Kiblat, Bandung, 2009. Buku yang ditulis dalam Bahasa Sunda itu tinggal terpajang satu-satunya saat itu.

Rasa penasaran akan cerita dibalik pembuatan jalan Daendels di Cadas Pangeran Sumedang, patung Pangéran Kornél dan Daendels berjabat tangan, serta prasasti batu tentang penyelesaian jalan, mempengaruhi pikiran saya untuk memilih buku ini daripada buku lain yang sebenarnya sudah dipegang. Selain itu, beberapa kali mengunjungi jalan raya pos Cadas Pangeran untuk ekskursi geologi, yang berada di sebelah kiri jalan raya sekarang dari arah Bandung (sebelah kiri patung), banyak pertanyaan yang menggelantung di seputaran Cadas Pangeran ini.

Secara geologis, Cadas Pangeran memang mempunyai batuan yang keras. Bukit ini tersusun dari endapan volkanik tua breksi bersifat laharik dan lava berumur Pleistosen Awal kira-kira 700.000 hingga dua juta tahun yang lalu (Silitonga, 1972). Sumber gunungapi yang telah mati ini diperkirakan dari G. Kadaka di daerah Rancakalong, sebelah barat Sumedang, atau dari G. Kareumbi-Kerenceng, barat daya Sumedang. Memang sangatlah berat menembus bebatuan di Cadas Pangeran ini untuk mewujudkan keinginan Daendels merampungkan jalan raya pos dari Anyer ke Panarukan.

Tiga minggu kemudian barulah bisa menamatkan buku setebal 151 halaman itu. Selain tidak bisa setiap saat membaca buku itu, lidah dan terutama sensor bahasa di otak ini harus beradaptasi dengan bahasa Sunda yang menjadi bahasa yang digunakan di buku itu.

Buku yang merupakan novel dengan tokoh-tokoh yang beberapa nyata dan disebut dalam sejarah, dimulai dengan penceritaan situasi di Sumedang 1773. Saat itu keturunan Bupati Geusan Ulun tidak dapat melanjutkan pemerintahannya di Sumedang karena belum mempunyai anak yang telah dewasa. Akhirnya Pemerintah Belanda mengangkat bangsawan dari Parakanmuncang untuk mengisi kekosongan.

Dengan intrik politik yang diperankan oleh seorang mantan pejabat bejat dari Pegaden, Subang, berjuluk Demang Dongkol dan kemudian dipercaya oleh Bupati yang baru sebagai kaki tangannya, beralurlah kisah seorang anak bernama Radén Jamu. Ialah yang seharusnya paling berhak terhadap tahta Sumedang. Saat menjadi pemuda dan dipanggil Radén Surianagara, ia terusir dari Sumedang dan harus terlunta-lunta hingga ke Cianjur pada 1780. Namun atas kecakapannya dan adanya hubungan kekerabatan, ia dipercaya Bupati Cianjur memimpin Cikalong sebagai Kapala Cutak (sekarang mungkin setara dengan Camat). Akhirnya pada 1791 ia kembali ke pangkuan ibu pertiwinya di Sumedang sebagai Bupati yang ditunggu-tunggu rakyatnya, dan kemudian bergelar Pangéran Kusumah Dinata.

…lalu terjadilah peristiwa Pangeran Kusumah Dinata bersalaman dengan tangan kiri menyambut tangan kanan Marsekal Daendels, sementara tangan kanan siap menghunus keris; seperti tergambarkan pada patung di Ciherang yang menghiasi jalan raya Bandung – Sumedang memasuki segmen Cadas Pangeran.

Benarkah? Itulah yang ditanyakan Djoko Marihandono seorang sejarawan dari Universitas Indonesia melalui makalahnya berjudul “Mendekonstruksi Mitos Pembangunan Jalan Raya Cadas Pangeran 1808: Komparasi Sejarah dan Tradisi Lisan” yang disampaikan pada seminar “Peringatan 70 tahun Prof. Dr. RZ Leirissa,” 29 – 30 April 2008, di Universitas Indonesia. Makalah yang pada saat tulisan ini dibuat dapat diunduh di alamat situs di awal tulisan ini jelas akan membuat terpana orang yang membacanya. Makalah ini hampir menafikan semua cerita – terutama yang bersifat fiksi – tentang Cadas Pangeran dan Jalan Raya Pos Daendels, di antaranya buku Méméd Pangéran Kornél, buku Pramoedya Anyer Panarukan, dan dua buku lainnya.

Fakta-fakta dari arsip sejarah yang disampaikan makalah ini membuat kita sedikit terkesima bahwa versi yang rasanya benar di benak kita ternyata banyak distorsinya. Daendels tidak pernah ke Cadas Pangeran, apalagi berjabat tangan dengan Pangéran Kusumah Dinata yang kemudian terkenal juga dengan sebutan Pangéran Kornél. Menurut Marihandono, tidaklah mungkin bagi Daendels yang berkuasa penuh atas Hindia Timur menurut begitu saja atas ancaman dan penghinaan Pangéran Kornél. Pada awal kedatangannya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, dengan tegas ia memecat banyak perwira tinggi bahkan raja-raja bandel yang tidak mau menuruti perintahnya. Apalagi hanya selevel bupati. Arsip-arsip sejarah bahkan menunjukkan bahwa tidak ada penentangan dari bupati-bupati yang dilalui oleh jalan raya pos. Semua mendukung bahkan meminta kelanjutan proyek.

Tetapi ada perbedaan yang sangat signifikan pada makalah Marihandono, kalau tidak dianggap keliru. Ia menyebutkan bagaimana seorang Bupati yang baru berumur 20-an tahun berani berhadapan dengan penguasa tertinggi Hindia Belanda. Rupanya Marihandono menyangka Pangéran Kornél lahir pada 1791. Padahal, pada buku Pangéran Kornél (yang juga menjadi acuan makalah Marihandono, tetapi memakai terjemahan bahasa Indonesia oleh Abdoel Moeis, Balai Poestaka, 1952), Méméd justru menuliskan dengan jelas angka tahun 1791 sebagai tahun pelantikan (ngistrénan) Radén Suryanagara sebagai Bupati Sumedang. Pada buku Méméd, ketika ia membela rakyatnya dari kekejaman Daendels, ia adalah seorang pangeran matang penuh pengalaman berumur 40-an tahun yang berwibawa.

Pangéran Kusumah Dinata mendapat gelar kemiliteran dari Belanda sebagai kolonel yang ditugasi menjadi pemimpin pasukan dari beberapa kabupaten di Jawa Barat untuk mencegah meluasnya Perang Jawa 1825 – 1830 yang disulut Pangéran Dipanegara ke Jawa Barat. Itulah kemudian ia digelari juga Pangéran Kornél, demikian diceritakan di buku itu. Sebelumnya ia juga terlibat dalam penumpasan pemberontakan Bagus Rangin di Jatitujuh dan terkenal dengan Perang Bantarjati awal 1800-an. Pangeran Kornel wafat pada 29 Juli 1828 meninggalkan nama harum terutama bagi Sumedang.

Pada bab 2 Méméd menuliskan hal-hal yang mungkin perlu untuk dicermati bagi pemerhati geografi dan sejarah Bandung dan Jawa Barat. Tentang kapan surutnya Situhiang Danau Bandung, tidak ada seorang pun yang akan tahu, karena dari jaman dulu pun dataran Bandung sudah kering hanya tinggal sungai-sungai. Jangan-jangan cerita itu hanya karangan para pujangga saja, demikian tulisnya. Disebut pula sebuah kabuyutan (keramat) di Kampung Pabuntelan yang membuat G. Malabar selalu berkabut tempat dimakamkannya Sunan Dampal karuhun (leluhur) pedataran Bandung. Namun yang pasti tulisnya, pedataran Bandung pernah dikuasai oleh Dipati Ukur Wangsanata, bangsawan asal Purbalingga yang ditempatkan Sultan Agung di Jawa Barat saat menggempur Batavia.

Pada buku terbitan Kiblat (2009) terdapat keterangan bahwa buku Pangéran Kornél oleh R. Méméd Sastrahadiprawira diterbitkan setelah wafatnya pada tahun 1932 di Jakarta. R. Méméd menjadi redaktur Balai Pustaka yang dijabatnya dari tahun 1928. Ia lahir di Manonjaya, Tasikmalaya, 1897; mengenyam pendidikan di STOVIA dan diangkat menjadi CA (Candidaat Ambtenaar) di beberapa tempat sampai menjadi Camat di Bojongloa, Bandung, kemudian menjadi Camat TB (ditempatkan; mungkin kependekan dari Bahasa Belanda) di Kantor Kabupaten Bandung.

Membaca buku Méméd pikiran kita sedikit sulit untuk memisahkan apakah alur cerita ini berdasarkan sejarah nyata, atau hanya novel fiksi, bahkan beberapa bagian mungkin mitos? Ketika terdapat bantahan dari makalah Marihandono yang didasarkan arsip-arsip sejarah, kita semakin merenung jauh akan kebenaran cerita di balik pembobolan Cadas Pangeran yang selama ini kita terima begitu saja.

Pada kesimpulan Marihandono terdapat hal yang baik untuk kita cermati, bahwa mitos berfungsi sebagai identitas lokal. Menurutnya, penggunaan mitos untuk penulisan sejarah harus dicermati secara kritis karena banyak kelemahan dan penentuan temporal yang tidak jelas. Mitos sengaja dibuat di antaranya untuk menonjolkan peran seseorang dengan tujuan legitimasi kekuasaan atau pembenaran atas hak dan wewenang kelompok tertentu.

Kesimpulan di atas mengingatkan saya akan buku karangan Prof. Santos tentang Atlantis di Indonesia (Atlantis, The Lost Continent Finally Found) yang juga hanya mengandalkan mitos sebagai sumber datanya. Tiga blog saya tentang bantahan akan Atlantis di Indonesia itu ditanggapi secara luar biasa. Hingga saat ini telah masuk total lebih dari 400 tanggapan yang kebanyakan mengecam bantahan saya, baik dengan kalimat-kalimat santun, namun banyak juga yang memaki-maki dengan kalimat yang sangat kasar. Kecuali yang melecehkan agama dan kata-kata yang tidak pantas, semua saya approve di kolom komentar blog saya itu… dan saya hanya tersenyum saja, tidak akan pernah berkomentar lagi atas komentar. Enough is enough.

Referensi:

  • Sastrahadiprawira, R.M., 2009. Pangéran Kornél, Kiblat, Bandung.
  • Marihandono, J., 2008, Mendekonstruksi Mitos Pembangunan Jalan Raya Cadas Pangeran 1808: Komparasi Sejarah dan Tradisi Lisan, Seminar “Peringatan 70 tahun Prof. Dr. RZ Leirissa,” 29 – 30 April 2008, Universitas Indonesia (http://staff.ui.ac.id/internal/131124734/material/ArtikelCadasPangeran.pdf) diunduh 14 Okt 2010.
  • Silitonga, P.H., 1972. Geologi Lembar Bandung, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Wednesday, 26 January 2011

Avatar Of Aang Itu Dajjal?

sumber :
http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/avatar-of-aang-itu-dajjal.htm

Avatar Of Aang Itu Dajjal?

Jumat, 03/10/2008 15:42 WIB

Assalamu'alaikum wr wb,

Ana pernah dengar bahwa kartun "Avatar: The Legend of Aang" yang masih tayang di suatu TV swasta nasional itu sebenarnya mengisahkan tentang juru selamat umat Yahudi, yaitu Dajjal.Apakah hal itu benar mengingat kartun ini cukup banyak fansnya mulai dari anak-anak hingga dewasa.Bahkan ana juga menyukainya, ustadz?Apakah di dalam kartun ini juga ada doktrinasi secara tidak langsung? Mohon penjelasannya. Jazakalloh khoiron katsir

assalamu'alaikum wr wb

Nisa

Jawaban

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Film kartun Avatar: Legend of the Aang (di AS namanya Avatar: The Last Bender) merupakan salah satu film kartun yang paling banyak peminatnya, bukan saja di Indonesia namun juga di negara-negara lain. Dari anak-anak yang jika bicara saja masih susah, sampai bapak-bapak yang beberapa rambutnya sudah mulai memutih. Hanya saja, saya belum pernah mendengar ada kakek-kakek yang suka nonton Avatar.

Serial film kartun Avatar banyak mengadopsi seni budaya, adat istiadat, dan mitologi dari benua Asia dalam penciptaan fiksinya. Avatar juga mencampur filosofi, bahasa, agama, seni bela diri, pakaian, dan budaya dari negara-negara Asia seperti Cina, Jepang, Mongolia, Korea, India, dan Tibet. Hal ini bisa dimungkinkan sebab kru dari film seri Avatar sendiri mempekerjakan konsultan budaya, Edwin Zane, untuk memeriksa naskah cerita.

Secara etimologi, istilah Avatar berasal dari bahasa Sansekerta (Avatāra) yang secara harfiah berarti "turun", atau dalam pengertian luas berarti “Datangnya Ratu Adil”, seperti halnya Maranatha dalam paham Katolik. Dalam mitologi Hindu, para dewa memanifestasikan dirinya sebagai manusia super dengan turun menjelma ke dunia untuk mengembalikan keseimbangan di muka bumi, setelah mengalami zaman kejahatan yang teramat sangat. Penjelmaan dewa inilah, sang penyelamat terakhir, yang disebut sebagai Sang Avatar.

Belakangan, ada yang menyatakan serial Avatar memuat misi tersembunyi untuk kepentingan Sang Dajjal. Sangat mungkin, penilaian ini berangkat dari pengakuan Sai Baba, manusia nyentrik dari Khurasan yang dianggap sebagian orang sebagai penjelmaan Dajjal di abad ke-21, yang memang mengaku sebagai Avatar (Sang Penyelamat). Benar tidaknya Sai Baba seorang Dajjal, wallahu’alam bishawab.

Ada pun mengenai misi tersembunyi dari serial kartun Avatar, hal ini bisa benar dan bisa pula tidak. Namun mengingat Avatar termasuk dalam film kartun jaringan Holywood (Nickelodeon), agaknya memang perlu dikritisi lebih lanjut. Sebab, film-film produksi Hollywood memang tidak pernah bebas nilai, selalu saja mengandung isme-isme yang aneh.

Wes Penre, salah satu tokoh artis AS yang ‘membangunkan’ kelompok musik cadas di AS di era 1980-an, menyatakan jika serial-serial besutan Walt Disney yang di luaran sepertinya aman-aman saja dipirsa sebenarnya mengandung pengajaran kepada anak-anak kecil tentang dunia magis dan ilmu hitam yang membahayakan keimanan. Wes Penre sudah bertobat dan kini giat melakukan pencerahan kepada khalayak AS dan dunia tentang bahayanya produk-produk Hollywood.

Tentang bahaya atau tidaknya serial Avatar memang perlu penelusuran yang lebih serius. Namun yang pasti, sinetron-sinetron made in Indonesia yang konyol, jauh dari realitas kehidupan rakyat kita, mengajarkan banyak kekerasan, membiasakan pola hidup pacaran (bahkan bulan Ramadhan kemarin ada sinetron yang perempuannya pakai cadar tapi tetap saja pacaran! Naudzubillah!), dan memperlihatkan kekayaan yang luar biasa, ini jauh lebih berbahaya dipandang dari segi akidah. Seolah-olah kesuksesan hidup di dunia ini semata-mata diukur dari banyak sedikitnya kita berhasil mengumpulkan harta kekayaan, tidak perlu bertanya dari mana asalnya, tidak perduli jika hal itu memiskinkan orang lain.

Acara-acara di teve selain sinetron juga konyol, merusak akidah, dan melecehkan intelektual. Hal ini bisa dilihat dari acara-acara seperti Extravaganza, dangut mania, idol-idol, paranoia, dan sebagainya. Bisa jadi, karena muatan acara di teve sekarang mayoritas diisi dengan acara yang merusak dan sama sekali tidak bermanfaat, banyak keluarga modern kini membuang pesawat tevenya dan menggantinya dengan rak buku yang diisi dengan buku-buku yang bermanfaat dan jauh lebih berguna kelak. Wallahu’alam bishawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Di Balik Konspirasi Lainnya

Menyongsong "Imam Mahdi" sang penakluk Dajjal

Sumber :
http://satriasputra.blogspot.com/2010/04/sang-penakluk-dajjal.html


Sang peNakluk dajjal

Posted on 21.56 by Satria Sutardi Putra

Imam Mahdi as. Beliau adalah Muhammad bin Abdillah Al Alawi Al Fathimi Al Hasani gan. kalau beliau udah muncul berarti kiamat udah dekat banget gan. Beliau manusia biasa gan n agan2 sekalian gak akan tahu klo dia imam mahdi
tapi untungnya kita bisa tahu ciri2nya gan Ciri-cirinya gan.
1. Seorang pemuda yung usianya hampir mencapai 40 tahun,
2. Warna kulitnya coklat,
3. Hidungnya mancung,
4. Dahinya lebar,
5. Berjenggot tebal,
6. Pada pipinya ada tahi lalat,
7. Postur tubuhnya tegap,
8. tidak terlalu gemuk,
9. Berbicaranya gagap jika ucapannya lambat ia memukul paha kirinya dengan tangan kanannya.sehingga ucapannya menjadi lancar.


tanda-tanda alam yang mengisyratkan kemunculannya gan
1. Gerhana matahari dan bulan pada bulan Ramadhan yang didiringi oleh suara keras di bumi dan adanya bintang berekor kemudian disusul oleh adanya huru-hara,
2. Kekacauan dan malapetaka dibulan Syawal,
3. Pertikaian dan konflik yang terjadi di bulan Dzulqa’dah disusul peristiwa perampokan dan pembantaian jamaah haji hingga darah menggenang di Jumratul Aqabah,
4. Dibulan Muharram dibaiatlah Imam Mahdi oleh sejumlah kaum muslimin.

Penaklukan dan ekspansi Imam Mahdi
Setelah proses pemba’iatan Imam Mahdi selesai maka mulailah dia melakukan penaklukan-penaklukan. Dengan izin Allah wilayah-wilayah yang akan dia taklukannya adalah:
1. Bani Kalb (pendukung Sufyani)
2. Jazirah Arab yang meliputi Saudi, Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Oman dan seluruh kawasan Jazirah.
3. Persi/Iran (Syiah), kaum Syiah kecewa karena Imam Mahdi bukan berasal dari kalangan mereka. Mereka melawan Imam Mahdi namun belliau berhasil menghancurkan mereka.
4. Penaklukan Baitul Maqdis dan Palestina seluruhnya.
5. Malhamah kubra di Al Qur'an’ maq dan Dabiq (Damaskus). Ini mereupakan pertempuran paling dahsyat yang terjadi antara pasukan Imam Mahdi dan pasukan Rum. Perang ini terjadi selama empat hari berturut-turut, sepertiga dari kaum muslimin lari dari pertempuran. Sepertiga lagi mati syahid dan sepertiga sisanya mendapat kemenangan.
6. Penaklukan China, Rusia dan India.
7. Penaklukan Konstantinopel (Turki sekuler), penaklukan ini tidak memakai senjata tetapi hanya menggunakan takbir dan tahlil.
8. Perang melawan Dajjal bersama tujuh puluh ribu Yahudi.
9. Penaklukan Roma seluruhnya.

Monday, 24 January 2011

WikiLeaks chief: Expect UFO talk in future files

http://www.msnbc.msn.com/id/40491489/ns/us_news-wikileaks_in_security/

WikiLeaks founder Julian Assange said on Friday that there were some references to UFOs in "yet-to-be-published" confidential files obtained from the U.S. government.

In an online chat hosted by the U.K.'s Guardian newspaper, he also said that no one has been harmed by his organization's release of troves of secret documents.

"WikiLeaks has a four-year publishing history. During that time there has been no credible allegation, even by organizations like the Pentagon, that even a single person has come to harm as a result of our activities," Assange said in response to a reader's question. "This is despite much-attempted manipulation and spin trying to lead people to a counter-factual conclusion. We do not expect any change in this regard."

Assange said he and colleagues were aware of death threats following the publication of diplomatic cables on their website.

"The threats against our lives are a matter of public record, however, we are taking the appropriate precautions to the degree that we are able when dealing with a superpower," Assange was quoted as saying.


Asked if he has ever been forwarded documents dealing with UFOs or extraterrestrials, Assange responded, "Many weirdos e-mail us about UFOs or how they discovered that they were the anti-Christ whilst talking with their ex-wife at a garden party over a pot plant. However, as yet they have not satisfied two of our publishing rules:

1) that the documents not be self-authored;

2) that they be original.

"However, it is worth noting that in yet-to-be-published parts of the Cablegate archive, there are indeed references to UFOs."

Britain's Guardian is one of a number of newspapers around the world with early access to diplomatic cables seen by WikiLeaks.

The whereabouts of Assange, a 39-year-old Australian, are unknown, but some reports have said he is believed to be in southern England.

Swedish authorities said on Friday that information missing from a European arrest warrant they had issued against Assange for alleged sex crimes had been handed to British authorities.

"We sent it. They asked for complementary information and now they have it," Swedish Prosecution Authority spokeswoman Karin Rosander said.

Bjorn Hurtig, Assange's attorney in Sweden, told Dutch TV that the WikiliLeaks founder would fight extradition if arrested.

Hurtig repeated Assange's denials of a sexual crime in Sweden and said any evidence against him was "very very weak."

"One woman says it's rape another woman says its a sexual offense," Hurtig said. "I will not say if he says he has had sex with them. I will tell you he denies rape he denies sexual offenses he denies having committed any sort of crime against these women or against any other person."

Crippling Web traffic
In his reponses on the Guardian's online question-and-answer session, Assange described Pfc. Bradley Manning, who was detained in connection with the leaked documents, as an "unparalleled hero" — if it was he who leaked the cables to WikiLeaks, he said.

Video: WikiLeaks chief could be arrested today

The Q&A session with was crippled at first by heavy traffic but it was not immediately clear if The Guardian newspaper website was under a denial of service attack.

The Guardian said on one of its Twitter feeds that readers should be patient because the website is under heavy visitor loads.

Assange has not made a public appearance in nearly a month, although he has spoken to journalists over the Internet.

Swedish authorities have issued a Europe-wide warrant for his arrest, while WikiLeaks has been forced to switch to a Swiss domain name after its American domain name provider withdrew service. Its sites have also been hit by denial of service attacks.

'History will win'
"The Cable Gate archive has been spread, along with significant material from the US and other countries to over 100,000 people in encrypted form. If something happens to us, the key parts will be released automatically," Assange wrote in response to a question about the way material is distributed.

  1. Only on msnbc.com
    1. Industrial heartland showing signs of life
    2. Dial it down: Pesky CDC callers incite fury
    3. Father to alleged kidnapper: Why?
    4. It's time to deal with that overflowing inbox
    5. 25 years after Challenger, teacher’s words resonate
    6. Is China's 'Mr. Ferrari' slowing down at 60?
    7. He trained the Taliban – and they kidnapped him

"Further, the Cable Gate archives is in the hands of multiple news organizations. History will win. The world will be elevated to a better place. Will we survive? That depends on you."

Assange also addressed the attention he has been getting while the rest of his organization has remained largely anonymous.

"In the end, someone must be responsible to the public and only a leadership that is willing to be publicly courageous can genuinely suggest that sources take risks for the greater good," he said.

"In that process, I have become the lightning rod. I get undue attacks on every aspect of my life, but then I also get undue credit as some kind of balancing force."

Reuters and The Associated Press contributed to this report.


Answering questions online, Assange also said that anyone making threats against his life should be charged with incitement to murder.

  1. Related content
    1. WikiLeaks developments: Site seeks refuge
    2. Attorney: Assange rape claim ‘not political’
    3. Senators call for WikiLeaks prosecution
    4. Lieberman pressures 2nd firm on WikiLeaks
    5. A look inside WikiLeaks' server bunker
    6. Wiki fallout? Canada's envoy offers to resign



sumber :
http://www.ufo-blogger.com/2011/01/yogyakarta-crop-circle-indonesian-air.html?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_campaign=Feed%3A+ufo_blogger+%28UFO-Blogger+Uncover+The+UFO+Truth%29

Indonesian Air Force Orders Probe Into Crop Circle Formation Formed By UFO

Share10 Air Force orders probe into crop circle formation in Krasakan, Jogotirto Village, District Berbah, Sleman, Yogyakarta

Yogyakarta - Indonesian Air Force chief Marshall Imam Sufaat on Monday instructed his staff to use a helicopter to take aerial photographs of crop circles discovered on Sunday .

Crop circle was formed in the rice fields in Krasakan, Jogotirto Village, District Berbah, Sleman, Yogyakarta on 23rd January, 2011. The circle had a diameter of about 25-30 meters residents are alleging them to be created by UFO.Rice field located in the village street was like a beautiful work of art. There is no trace of damage in rice crop around the circle. The circle that was formed from the plants are still green rice. Wind can't cause because the shape is very neat and for animals it also impossible.

Marshall Imam Sufaat said : "If we examine the photographs, we will possibility see if the patterns were in fact created with powers beyond human knowledge," Imam said as quoted by tempointeraktif.com, on the sidelines of the Air Force commander meeting in Yogyakarta."

Imam, however, declined to comment further on the geometric pattern.

The crop circles are in a paddy field and resemble a geometric artwork, while the other parts of the field remain untouched.

The patterns were first reported by a farmer, Tukiman, on Sunday at 6 a.m.

As seen from the hill Suru Tempo in a distance of 200 meters from the circle, looking like a UFO shape.

Sleman Police Chief Adjunct Commissioner Irwan Ramaini not sure whether its created by UFO or other natural phenomena. What is certain is that great circle tracks are still being investigated scientifically. "We can not ensure that traces of what could be a natural phenomenon or something else," he said.

According to UFO Indonesian Community or UFONESIA on his Twitter account UFONESIA, crop circles that characterized the original rod bent and not broken just because the object of providing an intense explosion.

Based on observations UFO trail in Sleman, genuine possibility, because the rice stems are not damaged and only bowed.

To prove the genuine crop circles or not, they takes the data in the field and advanced research in the laboratory. If these plants prove to be defective then it is a human act.

"This particular crop circle is fascinating because of its striking resemblance to the muladhara chakra -- one of the basic chakras in Tantric Hinduism."

The pattern has already drawn thousands of locals and people from outside Yogyakarta, causing traffic jams in the vicinity.

Update :

Kompas.com quoted a Rejosari villager named Basori as saying that he had heard a strange noise like that of a helicopter on Saturday at 10.30 PM West Indonesia Time landing on a rice field near his house.

Basori, whose house was located on the northern part of the crop circle-marked rice field said he heard the flying object’s sound for thirty minutes.

"The sound was heard for thirty minutes but at the moment I didn’t think much of it I thought it was only the sound of a passing helicopter," said the 41-year-old Basori.

The man’s confession was confirmed by Ayu Rukini, 32. "I also heard the sound. At the time, I and my husband were wathing TV. I thought it was an air force helicopter on a training flight," said Basori’s wife.

The crop circle at the rice field that certain people in the world frequently associated with UFOs was first observed by Yudi, 20. Yudi was quoted by Kompas.com as saying that he first saw the crop circle when passing the rice field on his way to work on Sunday at 05.00 AM local time.

"When passing the rice field, I saw the paddies fall down but they formed a neat, orderly pattern," he said adding that he had not heard the sound Basori and his wife, Ayu Rukini, had claimed on Saturday night.

Yudi said he sat near Basori’s house from Saturday evening to early Sunday at 03.00 AM but he heard nothing. "During the night, there was no rainfall... But on Sunday morning, there was this pattern (crop circle) in the middle of the rice field," Yudi said.

This crop circle could clearly be seen from the peak of a hill on the northern part of the rice field. Locals called the hill "Mount Suru", he said. Tens of people who were eager to see the unprecedented phenomenon climbed the slippery hill, including Syamsul Bahri, 37.

Sunday, 23 January 2011

Meluruskan Sejarah Wiranatakusumah

sumber : http://bataviase.co.id/node/542367












Meluruskan Sejarah Wiranatakusumah

MELURUSKAN sejarah, menjadi maksud dan tujuan pada kegiatan mengenang 46 tahun wafatnya Raden Aria Adipati Haji Muharam Wiranataku-sumah V (23 November 1888-22 Januari 1965). Bupati Bandung ke-14 tersebut merupakan salah satu legenda tanah Pasundan yang turut andil membangun peradaban Bandung.

Kiprahnya sebagai politisi, ahli ilmu pemerintahan, santri, serta budayawan memberikan kontribusi \ang besar bagi kedaulatan Bandung di nusantara. Namun, kontribusi besar tersebut dirusak oleh beberapa fakta yang salah. Salah satunya adalah

Wiranatakusumah V dianggap sebagai pengkhianat Indonesia karena mendirikan Negara Pasundan.

Salah seorang tokoh Jawa Barat Popong Orje Djundju-nan mengungkapkan, Wiranatakusumah V bukanlah pengkhianat atau ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia. Menurut Popong, Wiranatakusumah V adalah seseorang yang sangat nasionalis. Dia mendirikan Negara Pasundan bukan untuk memisahkan diri, tetapi itu taktik dia untuk melawan Belanda.

"Dia menjadi Wah Negara Pasundan pun ditunjuk oleh

Presiden Soekarno. Hal ini menunjukkan, Kanjeng Haji (Wiranatakusumah V) merupakan seseorang yang cinta Indonesia seutuhnya," kata Po-pong pada acara mengenang wafatnya KJlA. Wiranatakusumah V di Convention Hall, Hotel Grand Pasundan Jln. Peta, Kota Bandung,

Sabtu (22/1). Hadir Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf dan para tokoh Jawa Barat lainnya.

Akibat dari catatan sejarah yang salah tersebut, Wiranatakusumah V jarang disebut pada peringatan hari jadi Kota Bandung atau peringatan lainnya.

Selain dianggap pro-Belanda, ada catatan sejarah lain yang perlu diluruskan, yaitu dengan jumlah istri tujuh orang, Wiranatakusumah V dianggap gemar kawin dan berpoligaml Salah seorang eratnya, sekaligus Ketua Bale Bandung Fazwan Kusumadinata mengungkapkan,

buyutnya tersebut tidak pernah berpoligami. Meskipun punya tujuh istri, dia selalu menceraikan istrinya terlebih dahulu jika ingin menikah lagi Dari tujuh istri tersebut, Wiranatakusumah V dikaruniai 24 anak Saat ini, ada sekitar 800 orang keturunan

Wiranatakusumah V yang bernaung di bawah Yayasan Wiranatakusumah.

Kiprah Wiranatakusumah di dunia politik dan pemerintahan tercatat panjang dalam sejarah tanah Pasundan. Karier pertamanya di bidang pemerintahan dimulai saat menjadi juru tulis Wedana Tanjungsarl Sumedang pada 1910. Satu tahun kemudian, dia menjadi Mantri Polisi di Cibadak, G-heulang. Sukabumi dan dilanjutkan dengan jabatan yang sama di Sukapura, Tasikmalaya. Pada 1912, dia menjadi Asisten Wedana Obeureum, Tasikmalaya, sebelum

akhirnya diangkat menjadi Bupati Cianjur sejak 1912 sampai 1920. Setelah itu, dia menjabat sebagai Bupati Bandung pada 1920-

1931 dan 1935-1945-

Saat Indonesia resmi merdeka pada 17 Agustus 1945, Wiranatakusumah V diangkat oleh Presiden Soekarno untuk menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri. Pada 1948 sampai 1950, dia ditunjuk sebagai Wah Negara Pasundan.

Wiranatakusumah V juga aktif pada kegiatan jurnalistik sebagai salah satu wahana untuk menyalurkan pemikirannya. Dia aktif sebagai pelindung Ma-jalah TJahaja Pasoendan (1914-197), pemimpin umum Majalah Obor (1921-1924), dan pemimpin umum Majalah Pemimpin (1929-1935).

Pemikiran-pemikiran kritis dan cerdas Wiranatakusumah V bisa terlihat dari beberapa kutipannya di media massa. Salah satu kutipan yang masih relevan dengan masa sekarang dan bisa

kita renungkan termuat dalam Majalah Pandji Poestaka pada 1931.

"...Saya selalu melawan peraturan yang menurut pendapat saya tak baik bagi rakyat saya. Saya seorang nasional dan hal itu harus saya tunjukkan."

Sebelumnya, pada Sabtu (22/1) pagi, keluarga besar Wiranatakusumah V melaksanakan ziarah ke makam Wiranatakusumah di Makam Boepati Bandung Jln. Karang Amar Kota Bandung.

Ketua Umum Yayasan R.HAAJI. Wiranatakusumah. Matoyo Male Wiranatakusumah mengatakan, ayahnya telah memberikan contoh sebagai pemimpin yang peduli pada rakyatnya di segala bidang. "Beliau peduli terhadap masyarakatnya. Sewaktu menjadi Bupati Cianjur, beliau mengembangkan koperasi Beliau sangat peduli Beliau gemar sekali dengan cianjuran," katanya. (Windy Eka Pramudya/-Catur Ratna/TR")***


Entitas terkaitAkibat | Bandung | Beliau | Bupati | Catur | Convention | Indonesia | Karier | Kiprahnya | MELURUSKAN | Pasundan | Presiden | Republik | Sewaktu | Sukabumi | Wiranatakusumah | Yayasan | Asisten Wedana | Bupati Bandung | Bupati Cianjur | Jahaja Pasoendan | Jawa Barat | Kanjeng Haji | Kiprah Wiranatakusumah | Kota Bandung | Majalah Obor | Majalah Pemimpin | Mantri Polisi | Menteri Dalam | Negara Pasundan | Presiden Soekarno | Saat Indonesia | Wah Negara | Windy Eka | Wiranatakusumah V | Hotel Grand Pasundan | Karang Amar Kota | Ketua Umum Yayasan | Majalah Pandji Poestaka | Makam Boepati Bandung | Matoyo Male Wiranatakusumah | Meluruskan Sejarah Wiranatakusumah | Wah Negara Pasundan | Wedana Tanjungsarl Sumedang | Jawa Barat Popong Orje | Ketua Bale Bandung Fazwan Kusumadinata | Raden Aria Adipati Haji Muharam | Hadir Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf |
Ringkasan Artikel Ini
Akibat dari catatan sejarah yang salah tersebut, Wiranatakusumah V jarang disebut pada peringatan hari jadi Kota Bandung atau peringatan lainnya. Meskipun punya tujuh istri, dia selalu menceraikan istrinya terlebih dahulu jika ingin menikah lagi Dari tujuh istri tersebut, Wiranatakusumah V dikaruniai 24 anak Saat ini, ada sekitar 800 orang keturunan Wiranatakusumah V yang bernaung di bawah Yayasan Wiranatakusumah. Setelah itu, dia menjabat sebagai Bupati Bandung pada 1920- 1931 dan 1935-1945- Saat Indonesia resmi merdeka pada 17 Agustus 1945, Wiranatakusumah V diangkat oleh Presiden Soekarno untuk menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri. Sebelumnya, pada Sabtu (22/1) pagi, keluarga besar Wiranatakusumah V melaksanakan ziarah ke makam Wiranatakusumah di Makam Boepati Bandung Jln.

Jumlah kata di Artikel : 601
Jumlah kata di Summary : 111
Ratio : 0,185

*Ringkasan berita ini dibuat otomatis dengan bantuan mesin. Saran atau masukan dibutuhkan untuk keperluan pengembangan perangkat ini dan dapat dialamatkan ke tech at mediatrac net.

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907