Thursday, 29 April 2010

Raja-raja dan Sultan Gelar Konvensi




http://bataviase.co.id/node/187432

Raja Sultan Gelar Konvensi

BANDUNG, (PR).

Rasa persaudaraan antarbangsa merupakan kebutuhan hakiki dan hak asasi manusia untuk dilaksanakan sungguh-sungguh. Bangsa-bangsa di ASEAN mempunyai nilai historis dan dari satu rumpun bangsa yang sama, dengan budaya sebagai perekatnya.

Demikian deklarasi yang disepakati raja dan sultan nusantara serta sejumlah pemangku serta kepala adat pada Konvensi Adat Raja-raja dan Sultan Nusantara di Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, Senin (26/4). "Kami merasa berasal dari satu rumpun dan keturunan maka sudah sepantasnya kami menjunjung persaudaraan melalui wujud persatuan dan kesatuan dalam perdamaian," ujar Benny Ahmad Samu Samu, Raja Samu Samu VI dari Negeri Abubu, Pulau Nusa Laut, Maluku.

Dalam deklarasi tersebut, para raja, sultan, dan pemangku adat merasa harus dapat membuktikan eksistensinya dalam menjawab tantangan global. "Selain itu, implikasi dari reformasi birokrasi serta refleksi dari demokrasi semakin menuntut dalam menumbuhkan persaingan di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi tidak harus mengesampingkan persatuan dan kesatuan," ujar Benny.

Tiga kesepakatan

Konvensi Adat Raja-raja dan Sultan Nusantara menghasilkan tiga kesepakatan. Ketiga kesepakatan itu, yaitu para raja dan sultan nusantara menyadari untuk membangkitkan kembali kearifan lokal menghadapi tantangan global.Kemudian, menyadari bahwa dalam pelaksanaannya ha-rus dilandasi rasa kebersamaan yang tinggi, senasib seper-juangan, sama-sama merasa memiliki, dan sama-sama ikut memelihara. Selanjutnya, menyadari bahwa diperlukan hubungan ikatan kerja sama di bidang seni dan budaya yangberbasis ekonomi sosial budaya di kalangan ASEAN plus.

"Melalui pertemuan setiap tahun, kami berharap semakin mempererat persatuan dan kesatuan serta menciptakan kedamaian," ujar Hj. Rustuty Rumaeesan, dari Kerajaan Sekar, Papua Barat. Konvensi tersebut dihadiri sekitar lima puluh perwakilan raja dan sultan serta kepala adat dari sejumlah daerah di tanah air. Selain itu, konvensi juga dihadiri sejumlah sultan dan putri sejumlah kerajaan di Malaysia, seperti Sri Ratu Sandong dan Puteri Fauziah dari Kelantan Malaysia. (A-87)*"

Entitas terkaitASEAN | Kelantan | Kerajaan | Ketiga | Konvensi | Negeri | Papua | Rasa | Rustuty | Konvensi Adat | Pulau Nusa | Puteri Fauziah | Sultan Nusantara | Benny Ahmad Samu | Sri Ratu Sandong | Raja Samu Samu VI | Raja Sultan Gelar Konvensi | Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa |
Ringkasan Artikel Ini
Demikian deklarasi yang disepakati raja dan sultan nusantara serta sejumlah pemangku serta kepala adat pada Konvensi Adat Raja-raja dan Sultan Nusantara di Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, Senin (26/4). "Kami merasa berasal dari satu rumpun dan keturunan maka sudah sepantasnya kami menjunjung persaudaraan melalui wujud persatuan dan kesatuan dalam perdamaian," ujar Benny Ahmad Samu Samu, Raja Samu Samu VI dari Negeri Abubu, Pulau Nusa Laut, Maluku.

Jumlah kata di Artikel : 315
Jumlah kata di Summary : 70
Ratio : 0,222

*Ringkasan berita ini dibuat otomatis dengan bantuan mesin. Saran atau masukan dibutuhkan untuk keperluan pengembangan perangkat ini dan dapat dialamatkan ke tech at mediatrac net.


Wednesday, 28 April 2010

The Truth is out There... (Historical of Fallen President of Republic Indonesia)

http://www.facebook.com/ari.harmedi?v=info#!/notes/andy-shabet/the-truth-is-out-there-historical-of-fallen-president-of-republic-indonesia/218323653200

Fall President Indonesia based on Pancasila caused by devide et impera tactics:

1. Belief in one God (Soekarno imposed on charges that he is a communist.)
2. Humanity is just and civilized (Suharto accused of crimes dropped for serious violations of humanity.)
3. Indonesia Bersatu (Habibie fell after timor east out of Indonesia)
4. Democracy guided by the wisdom of representative deliberation (Abdurrahman Wahid was dropped after the decree and plan of People's Representative Council dissolved)
5. Social Justice for the People of Indonesia (Megawati fell after selling state assets to foreigners)

But all that is devide et impera tactic of foreign nations in the scenario for Indonesia to cover the history of this great nation. and the truth is:

1. Sukarno was dropped after a 1963 agreement with Hilton Green JFK, and after that Sukarno overthrown and assassinated JFK.
2. Suharto imposed for alleged corruption and other crimes for saving human assets is mandated by Bung Karno to form a new world according to Green hilton memorial. not to be used for luxurious for developed countries but usedi for humanitarian projects.
3. Habibie aware of this but he was betrayed by the foreigners so off the east Timor.
4. Abdurrahman Wahid was also around the world after he discovered assets of this nation in China, and after taking care that he dropped.
5. Megawati knows the history of these assets, and know that Temasek is owned by an Indonesian, so he took off indosat but also by the scenario trapped foreigners who want to control these assets.

But assets for humanitarian purposes is now mixed up by the assets of the results of human crime (drugs, war, corruption). To this Bapak Muhammad Subuh foynder of SUBUD organization want to separate return these assets into " Bank Susila Bhakti" with the aim of The Bank is one thing that separates between the angels money and demons money, but what happened until now these assets contested by the parties that religion is not to humanity purpose but to raise their respective religion. This is the irony of the world as to religious belief is more than belief in The One and Almighty God.

This is the greatest challenge now president of Indonesia, led by the leadership of Subud "Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono"


Tuesday, 20 April 2010

RUU Tentang Transfer Dana

Ruu Tentang Transfer Dana

Mengenal Bentuk Uang

http://harga-emas.com/mengenal-bentuk-uang/


Perlu Anda ketahui, Uang berdasarkan bentuknya bisa dibagi menjadi beberapa kategori, antara lain yaitu:

* Uang Fiat. Kategori bentuk uang yang termasuk uang fiat memiliki sifat dimana nilai nominalnya jauh lebih tinggi dari bahan pembuat uangnya. Jadi bentuk uang tersebut ditetapkan oleh pemerintahan negera sebagai alat tukar uang sah dalam berbisnis. Untuk memperjelasnya, uang lembaran Rp100.000,- (seratus ribu rupiah) dapat ditukarkan / dibelikan barang dengan nilai setara Rp.100.000,- tapi bila kita lihat bahan pembuat uangnya tidak bernilai seperti itu. Uang kertas dengan nominal yang lain, nilai zat pembuatnya mungkin sama, namun nilai nominalnya berbeda sesuai dengan angka nominal yang tercantum diatasnya.

bentuk uang fiat

* Uang komoditas. Uang bentuk ini memiliki ciri yaitu nilai nominal yang tercantum didalamnya memiliki nilai yang sama dengan intrinsiknya, bila dilihat dari bahan pembuatnya. Jenis uang komoditas ini contohnya emas dan perak, yang dulu digunakan sebagai alat tukar dan bertransaksi bisnis, dimana nilainya sama dengan nilai yang tertera pada uang tersebut. Tentunya uang komoditas dengan nilai nominal lebih kecil memiliki berat yang juga kecil dan uang komoditas dengan nilai yang besar memiliki berat yang lebih besar.

uang komoditas

* Uang likuid hampir sempurna. Bentuk uang ini merupakan aset yang dapat dijadikan sebagai nilai tukar uang namun tidak semua pelaku bisnis mau menerimanya karena harus ditukar lebih dahulu. Contoh yang paling mudah adalah uang dalam bentuk cek bank.

cek Mengenal Bentuk Uang

Ya, penjelasan ketiga bentuk uang diatas semoga bisa membantu pemahaman Anda tentang bentuk uang.

Posted in: Uang.
Tagged: Bentuk Uang

Sunday, 11 April 2010

BUDAYA DINAMIKA KERATON NUSANTARA

http://kenduricinta.com/article.php?id=132

03 April 2009, 09:16:24
BUDAYA DINAMIKA KERATON NUSANTARA
Ditulis Oleh: Kanjeng Pangeran Haryo Gunarso G. Kusumodiningrat
BUDAYA DINAMIKA KERATON NUSANTARA



Oleh:

Kanjeng Pangeran Haryo Gunarso G. Kusumodiningrat

Sekjend : Forum Silaturahmi Keraton se Nusantara (FSKN)

Ketua Umum : Lembaga Pengamatan Penelitian Kraton-kraton se Nusantara (LP2K)



Pemaparan makalah dalam rangka  Sarasehan tabur kebahagiaan

“ Devolusi Anak Negeri ”

 Kamis, 02 April 2009

Di Gedung Kesenian Jakarta Pusat.





I.    LATAR BELAKANG.
Keberadaan Budaya sebagai aset bangsa, tidak  lepas dari sejarah yang lurus dan benar, merupakan peninggalan gagasan masa lampau, antara lain yaitu Budaya yang bersumber di Kerajaan-kerajaan se Nusantara yang kemudian dikenal, dibakukan sebagai Keraton yang diayomi oleh pemimpin komunitas Keraton dengan sesebutan Raja, Sultan, Panembahan, Pangeran Ratu, Datuk, Kadatuan, Suttan, Saoraja, Penglingsir Puri, Pemangku adat bekas Kerajaan yang telah hilang fisik bangunannya.

Kejelasan dari sudut pandang diatas, dimaksud agar tidak terjadi kekeliruan persepsi, sebagai hasil penelitian ilmiah, yang telah diputuskan dalam Konggres Musyawarah Agung - Forum Silaturahmi Keraton se Nusantara (FSKN) - I,  tanggal 29 Juli – 3 Agustus 2007 di Kuta – Bali. Dihadiri oleh 104 Keraton dan Lembaga Adat ex Kerajaan, yang posisi kedudukan Raja/Sultan terakhir disesuaikan dengan situasinya menjelang pasca Kemerdekaan RI.

Ibarat keberadaan asset budaya yang berada dilingkungan situs-situs peninggalan sejarah, tanpa menghidupkan tradisi adat-istiadat budaya di atasnya, dapat ditafsirkan sama dengan melihat benda mati, yang setiap individu mempunyai sudut pandang dan presepsi yang berbeda-beda.

Oleh karena itu semua situs peninggalan sejarah maupun fisik bangunan Keraton, bisa saja menjadi musium namun tidak untuk ” dimusiumkan” artinya, diatas tanah bertuah tersebut harus ada kehidupan yang menjadi ‘simbol panutan’ yaitu adat-istiadat, yang belakangan dengan perjuangan Forum Silaturahmi Keraton se- Nusantara (FSKN)  bersama  Lembaga Pengamatan Penelitian Kraton-kraton se- Nusantara (LP2K) mulai dapat dilestarikan dengan Payung Hukum melalui Permendagri No 39 tahun 2007, tentang Pedoman Fasilitasi Pelestarian Budaya untuk ormas  bidang Kebudayaan, Keraton dan Lembaga Adat.



II.    Pembagian Jaman dalam Penelitian Kerajaan di Nusantara.

Dari Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Pengamatan Penelitian Kraton –kraton se Nusantara (LP2K), dapat diasumsikan dan diperjelas untuk mempermudah, dengan membagi dalam 5 (lima) tahap jaman Kerajaan di  Nusantara :

1.    Zaman 100 thn Pemerintahan Hindia Belanda (1800an s/d 1900an) dimana 261 Kerajaan mendapat Pengakuan dengan Perjanjian Panjang (Politic contract) dan Perjanjian Pendek (Korte verklaring) (dokumen Leiden – Nedherland)

2.    Zaman Mataram, yang datanya telah tersimpan di Perpustakaan Keraton Surakarta, maupun Yogyakarta.

3.    Zaman Majapahit yang banyak dibuat buku-buku dari sumber di Arsip Nasional maupun dari Luar Negri.

4.    Zaman Sriwijaya dalam hal situs tempat lokasi Kerajaan, sangat minim akan bukti-bukti otentik peninggalan Kerajaan tersebut,  sehingga banyak informasi menjadi sebuah mitos dan cerita rakyat yang berkembang, daripada Penelitian secara Ilmiah.

5.    Periode Peradaban zaman Kerajaan  Mataram.

Kerajaan-Kerajaan besar yang pernah Berjaya pada masanya :

~    Kutai  ( th 300 – 1400 M )
~    Taruma Negara ( th 500 s/d 750 M )
~    Sriwijaya dan Melayu (th 650 – 1200M)
~    Pagaruyung ( th 1100 – 1400 M )
~    Singosari  (th 1200 – 1300 M )
~    Majapahit (th 1300 – 1550 M )
~    Setelah itu, Mataram, Kertosuro, Kasunanan Solo,    
~    Kasultanan Yogya, dan Keraton se Nusantara.

Jumlah Keraton yang masih ada, dari 300an Kerajaan pada era 100 tahun Pemerintahan Hindia Belanda, LP2K hanya berhasil mendata  127 Kerajaan dan Lembaga Adat ex Kerajaan di 23 Provinsi, 118 diantaranya telah bergabung dalam wadah FSKN.



III.    Dasar Pola Pikir Budaya yang Bersumber di Keraton sebagai panutan dan Pengayom Masyarakat .

Berbicara tentang Pemuliaan Budaya luhur, merupakan hal yang sangat erat kaitannya terhadap adat istiadat gagasan masa lampau yang sarat akan kebesaran jiwa, sangat menghormati kepada yang lebuh dituakan, mampu menahan diri, sanggup berkorban untuk kepentingan orang banyak, menjadi local leader  yang dapat dicontoh perilakunya dan sentuhan nurani yang dilandasi dengan spiritual. Dalam pola dasar pemikiran tersebut, dikenal sebagai  ilmu keseimbangan, artinya manusia seyogyanya hidup dengan pola fifty-fifty  yaitu 50% menyangkut materi dan 50% laku spiritual, dimana belakangan ini berkaitan dengan komitmen segala perubahan jaman.

Jika keberadaan pola pikir budaya tersebut dapat dipahami dengan nurani yang dalam, barangkali bangsa ini akan menjadi besar kembali seperti ketika pada jaman Sriwijaya dan Majapahit yang luas wilayahnya sampai ke Madagaskar. Namun didalam pengertian dan pemahamannya, masih sangat diperlukan dukungan komunitas Budaya secara Nasional, yang mampu menunjang segala asset warisan gagasan masa lampau tersebut, untuk mengembangkan dinamika Keraton diseluruh Nusantara sebagai Jati Diri Bangsa yang memiliki Harkat dan Martabat.



IV.    Tantangan Global pada Dinamika Keraton Nusantara.

Maraknya hiruk pikuk kebebasan demokrasi tanpa batas, dan sistim politik di Negeri ini, pada hakekatnya semakin menjauhkan fungsi Kerajaan/Keraton terhadap dinamika pengembangan Pelestarian Budaya di masyarakat , membuat sumber dan pengembangan nilai luhur tersebut menjadi terpinggirkan.

Pada era perubahan jaman ini Raja Sultan melakukan komitmen untuk tidak kembali kealam feodalisme dan tidak membentuk monarki baru, namun sebagai aristokrat kultural  Raja Sultan bertanggung jawab menjadikan bangsa ini terhormat dan disegani berbasis peradaban budaya yang adiluhung. Pada kenyataannya walaupun Keraton dalam keadaan yang memprihatinkan, Raja, Sultan, Pewaris, Ahli waris Keraton masih tetap konsisten dengan segala kemandiriannya melestarikan adat istiadat di wilayahnya masing-masing.

Jika dasar pola yang membangun dinamika tersebut tersingkirkan, barangkali generasi penerus bangsa ini harus belajar budaya dan adat istiadat yang telah hilang, dari bangsa lain.  Pelurusan Sejarah yang benar telah mengembalikan dinamika Keraton Nusantara, bahwa peran Raja-raja Nusantara di pasca Proklamasi yang intinya Undang-Undang Dasar ’45 dan Pancasila serta Proklamasi itu lahir karena adanya komitmen Raja-raja dengan Bung Karno.

Para Raja telah memberikan sumbangsihnya berupa asset kekayaannya untuk dijadikan modal didirikannya republik ini, tidak ada salahnya jika Pewaris dan Ahli waris Kerajaan mempertanyakan, “akan dibawa kemana Bangsa ini“  untuk itulah Keraton tidak mungkin dapat berjalan sendiri-sendiri, dinamika yang dibangun bersama 118 Keraton bersatu dalam wadah FSKN, seberapa besar kecilnya kerikil yang menghambat, Raja Sultan tetap didalam konsistensinya bersinergi dengan Pemerintah melalui Budaya demi mensejahterakan bangsa.



V.    Mencari jalan keluar antara tradisi murni peninggalan gagasan masa lampau dengan tanda-tanda perubahan jaman dalam membangun peradaban nusantara mempertahankan NKRI.

Pada jaman ‘ goro-goro/jaman edan’  dikatakan jika tidak ikut-ikutan tidak akan kebagian, ‘ Ratu Adil ‘ akan muncul menyelamatkan bangsa yang sedang dilanda goncangan     ( “ itu kata Paranormal “ )

Namun secara rasional, ratu adil merupakan wujud legenda yang sesungguhnya ada didalam hati nurani komunitas keraton Nusantara. Dalam hal keberadaan generasi muda yang sedang dilanda pengaruh globalisasi dan modernisasi merupakan tantangan bahwa seolah-olah yang berbau ‘tradisi ‘itu merupakan suatu hal yang sudah ‘ ketinggalan jaman ‘. Padahal nilai-nilai tradisi yang ditinggalkan, hanya akan memicu masalah besar yang akan dialami oleh bangsa ini. Dengan digelarnya Sarasehan Tabur Kebahagiaan “ Devolusi Anak Negeri “ dikaitkan dengan Pengembangan dinamika Budaya Keraton Nusantara dapat diartikan sebagai ‘ Munculnya momentum untuk mencari jalan keluar dalam membangun peradaban Nusantara dan mempertahankan pakem yang benar membentuk dinamika di semua aspek.’ Sarasehan yang langka ini mutlak dilanjutkan untuk membentuk character building, sehingga dapat dipahami dan disosialisasikan bersama seluruh anak bangsa. Sesungguhnya program  Sarasehan yang dapat menghasilkan nilai tambah ini, menjadi tanggung jawab Pemerintah dan dapat diatur dalam Peraturan Pemerintah, SKB Menteri, sehingga dikemudian hari setelah semua peserta keluar dari Gedung tempat Sarasehan ini dapat mendengar “ Gema kebesaran warisan Budaya “  yang mampu mengangkat semangat dan dinamika untuk ditindak lanjuti.                      

( jangan sampai terjadi mubazir, menjadikan suasana didalam gedung sarasehan ini bagaikan katak dalam tempurung karena hasil sarasehan kurang disosialisasikan dan ditindak lanjuti.)



Solusi :

Bahwa kesepakatan terdahulu tentang Kebudayaan Nasional adalah Puncak-puncak Kebudayaan daerah, diperubahan jaman ini agar tidak menjadi sekedar ‘ slogan ’  dapat dikembangkan,  namun perlu dibangun dinamika yang nyata, dalam menjadikan Budaya yang bersumber di Keraton se Nusantara bersama masyarakat adat, menjadi tanggung jawab Nasional untuk Dilestarikan membentuk ‘character building’.

Jelasnya : Budaya Nusantara yang hilang merupakan tanda-tanda Kemusnahan Bangsa.



Semoga bermanfaat,

Terima kasih.

Wikipedia

Search results

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907