Monday, 31 May 2010

Negeri Emas yang Memudar

https://hurahura.wordpress.com/2010/02/26/negeri-emas-yang-memudar/

Oleh DJULIANTO SUSANTIO

Dulu, negeri Indonesia kaya akan emas, sebagaimana disebut-sebut berbagai sumber kuno. Emas telah dikenal masyarakat Indonesia ribuan tahun yang lalu dan semakin populer setelah masyarakat berhasil menyempurnakan teknik peleburan bijih logam.

Diperkirakan logam mulia tersebut telah ada sejak tradisi megalitik, sekitar tahun 3000 hingga 2000 SM. Pendukung tradisi itu antara lain ditemukan di Nias. Di sana emas dan perhiasan merupakan perangkat penting untuk mengadakan owasa (pesta) karena emas dianggap mempunyai hubungan erat dengan “dunia atas” (alam baka) dan sebagai “pemberi hidup”.

Bahkan emas dianggap mempunyai cahaya kuat dan magis. Setiap kesempatan owasa, apa pun tujuannya, sering kali berhubungan dengan pendirian berbagai monumen. Untuk itu selalu diperlukan emas, sehingga tradisi megalitik dan emas tidak dapat dipisahkan (Sejarah Nasional Indonesia Jilid I, 1984).

Barang-barang terbuat dari emas banyak dijumpai pada sejumlah situs arkeologi, terutama di Jawa Barat dan Bali. Di tempat lain emas dikenal lebih belakangan, yakni pada akhir masa perundagian atau pada masa logam akhir sekitar tahun 500 SM.

Di Kalimantan kemungkinan besar perhiasan emas pertama kali dikenakan oleh Suku Dayak Biaju, berasal dari sekitar tahun 2000 SM. Gelang dan cincin banyak ditemukan dalam situs-situs purba di daerah itu.

Kitab Kuno

Dari berbagai kitab agama dan karya sastra kuno, nama Indonesia sebagai “Negeri Emas” juga sering disinggung. Dalam kitab Perjanjian Lama disebutkan sekitar tahun 1500 SM, Raja Sulaiman pernah mengirimkan ekspedisi ke Ophir (Ofir). Dari situ ekspedisi membawa 420 talenta emas. Pada 945 Raja Sulaiman (berbeda dengan Raja Sulaiman di atas) mengirim lagi kapal-kapalnya ke Ofir untuk mencari emas.

Menurut geolog Prof. S. Sartono dalam sebuah tulisannya, Ofir dikenal sebagai daerah yang kaya akan emas dan juga dianggap suatu daerah emas milik Raja Sulaiman. Mungkin Ofir terletak di Sumatera karena di daerah Tapanuli Selatan terdapat pegunungan Ofir. Di sebelah Timur Ofir ditemukan lagi gunung lain, Gunung Amas (Gunung Emas).

Banyaknya emas di Indonesia, tak luput dari perhatian orang-orang Yunani. Kitab Periplous tes Erythras thalasses dari masa awal Masehi, menyebut suatu tempat bernama Chryse yang berarti emas. Negeri ini terletak di sekitar Samudera Hindia yang menurut para pakar tidak lain adalah Indonesia.

Berita lain berasal dari kitab Geographike Hyphegesis karya Ptolomeus. Sungguh menarik kajian dari kitab ini karena di dalamnya disebutkan nama-nama tempat, seperti Argyre Chora (Negeri Perak), Chryse Chora (Negeri Emas), dan Chryse Chersonesos (Semenanjung Emas). Kitab itu juga menyebutkan nama Iabadiou (Pulau Jelai). Dugaan kuat menyatakan istilah Iabadiou identik dengan Yawadwipa dalam bahasa Sansekerta. Yang belum jelas adalah Yawadwipa itu Pulau Jawa atau bukan.

Perdagangan

Sebagai negara kaya, waktu itu Indonesia banyak berhubungan dagang dengan India, China, dan banyak negara lain. Peranan Indonesia dinilai amat penting. Terbukti barang-barang Indonesia mendapat tempat di pasaran internasional.

Berita dari dinasti Tang di China (618-906) mengatakan daerah Ho-ling (mungkin kerajaan Kalingga) telah menjalin hubungan dagang dengan China mulai abad ke-5. Barang-barang dari Indonesia yang paling disukai masyarakat China adalah emas, perak, dan kulit penyu.

Adanya negeri penghasil emas juga pernah dikemukakan seorang musafir China, I-tsing. Emas terbanyak dihasilkan oleh kerajaan Sriwijaya, begitu katanya. Para pakar menafsirkan bahwa emas tersebut diperoleh dari Lang-p’o-lu-ssu (Barus). Selama beberapa abad Sriwijaya sering dijuluki Negeri Emas, Pulau Emas, dan Kota Emas.

Catatan China lainnya menyebutkan kerajaan Koying sebagai penghasil emas dan batu mulia. Koying, katanya, merupakan suatu pelabuhan yang terletak di tepi pantai teluk Wen, menjorok ke arah Bukit Barisan.

Dokumen Arab dan Portugis

Kekayaan emas Indonesia banyak terdengar ke mana-mana. Dokumen Arab mengatakan kalau kerajaan Zabag (Muara Sabak) dan Zarbosa menguasai pertambangan emas dan perak.

Diberitakan pula, Pulau Nias kaya akan emas sehingga para pedagang Portugis berusaha mencari emas di pulau itu. Kalah dan Sribuza, selain kaya tambang emas, juga penghasil timah terbesar.

Gambaran lain diberikan oleh sumber Portugis, terutama catatan Tome Pires. Konon Barus, Padir, Tikim, Indragiri, Pariaman, dan Kampar merupakan pelabuhan ekspor emas ke Portugis.

Ditambahkan oleh sumber itu, Pulau Sumatera sangat kaya akan emas sehingga orang China menjulukinya Kintcheou (Pulau Emas).

Dari berbagai sumber kuno tergambar jelas bahwa tambang emas ada di mana-mana. Ekspor emas ke mancanegara begitu banyak, sehingga negeri kita mendapat julukan Negeri Emas, Pulau Emas, atau Kota Emas. Sayang, julukan demikian makin hari makin meredup. Ini disebabkan emasnya juga makin hilang, sehingga tak ada lagi kemakmuran yang bisa dinikmati masyarakatnya. Malah sekarang tambang-tambang emas Indonesia dikuasai pihak asing, sehingga julukan yang pantas untuk negeri kita sekarang adalah “Negeri Emas yang Memudar”.***

DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog, tinggal di Jakarta

Monday, 24 May 2010

Perkembangan Alat Tukar dan Pembayaran Kuno di Nusantara

Tim Wacana Nusantara
22 May 2010

Sebelum muncul teknologi penempaan logam, manusia melakukan transaksi ekonomi melalui benda-benda alami. Barter antarbarang adalah langkah paling awal yang dilakukan manusia untuk memperoleh kebutuhan hidupnya. Di Tana Toraja kini masih terdapat sistem barter saat diadakan upacara kematian.
Begitu kebutuhan hidup makin kompleks dan jumlah manusia makin bertambah, manusia mulai memikirkan cara yang lebih efesien. Penemuan akan logam mulia, emas, mendorong tumbuhnya transaksi yang lebih elegan dan mudah. Nilai barang dipertukarkan dengan nilai emas. Namun, perputaran emas sebagai alat tukar tak serentak terjadi di semua belahan dunia. Di bagian bumi di mana emas jarang ditemukan, otomatis alat tukar pun masih berupa benda alam, seperti kerang kauri; atau benda olahan manusia yang nilainya lebih rendah dari emas, seperti keramik atau perunggu.
Dari semua jenis alat tukar, ada yang menentukan kegunaan mereka sebagai alat pembayaran: mahal. Mahal di sini bisa mengacu pula pada keindahan estetika seperti yang terdapat pada benda perunggu, motif keramik, atau keunikan pada kerang kauri.
Kerang, Perunggu, dan Keramik Cina
Asia Tenggara—yang sejak abad belasan menjadi lintasan kapal-kapal dagang—merupakan jalur persimpangan alat tukar dari berbagai jenis. Lombard mencatat (2008: 158), kerang kauri, yang kebanyakan berasal dari Maladewa dan dari Borneo, terutama diedarkan oleh pelabuhan-pelabuhan Bengali (India) yang meneruskannya ke wilayah Arakan, Pegu, hingga Yunnan, yang diteruskan ke Siam. Marcopolo pada abad ke-13 mencatat adanya kerang sebagai alat pembayaran di Yunnan. Di timur Asia Tenggara, persebaran benda keramik asal Cina telah menggeser pemakaian benda dari perunggu.
Mengenai pemakaian benda perunggu sebagai alat tukar, di Pulau Alor masih terdapat transaksi yang menggunakan genderang perunggu (sejenis moko). Ini mengingatkan kita pada jenis budaya Dongsong, yang merupakan jejaring sosial-budaya yang sangat kuno.

Tuesday, 18 May 2010

Ambisi Zionis Menguasai Harta Solomon

http://www.dinamikaebooks.com/resensi/572/ambisi-zionis-menguasai-harta-salomo.html


edisi 29-12-2009
Ambisi Zionis Menguasai Harta Solomon
Lampung Post, Minggu, 20 Desember 2009

"BAGAIMANA jika harta karun Nabi Sulaiman itu jatuh ke tangan orang-orang Zionis? Mereka pasti bertambah sombong..." Petikan di atas saya kira mewakili apa yang dibicarakan novel petualangan ini. Kisah yang menarasikan kekhawatiran beberapa muslim Indonesia yang kebetulan mengetahui rahasia penyimpanan The Lost Ark of Covenant atau Tabut Suci dan harta karun Nabi Sulaiman.

Adalah Heri, mahasiswa S-3 pada Monash University asal Indonesia yang mendalami filologi, menemukan lima lembar manuskrip kuno tentang rahasia orang-orang Beta-Israel. Manuskrip itu ditulis dalam Huruf Ge'ez kuno yang digunakan orang-orang Etiopia kuno yang dikenal dengan nama kaum Falasha. Heri mendapatkannya dari Indra, pedagang barang antik Australia kelahiran Medan. Indra mendapatnya dari tentara Amerika yang bertugas di Somalia.

Kegundahan pun segera menyergap keduanya, pasalnya lembar kelima dari manuskrip itu menyebut-nyebut letak Tabut Suci dan harta Sulaiman. Berbekal izin penelitian dari Monash University terkait disertasinya dan dukungan dana dari Towsend, ahli arkelogi Monash dan Moses Goldstein mereka pun pergi ke Axum, kota lama di Etiopia dan menemukan kunci penyimpanan Tabut berbentuk segitiga samasisi. Saat itulah mereka mulai sadar bahwa mereka dimanfaatkan oleh Towsend dan Goldstein yang ternyata agen Zionis, pengincar lama kunci itu.

Didorong kekhawatiran harta karun Sulaiman jatuh dan disalahgunakan oleh The Knight of Zion (agen Zionis), Indra dan Heri membakar kelima naskah itu. Isinya kini hanya ada dalam kepala mereka. Karena kalap, pasukan Golstein membunuh Heri. Sedang Indra bisa lari tapi menjadi buronan.

Esa, doktor Sastra jebolan Harvard yang mengajar di UPI Bandung dan Nisa yang merupakan teman Heri terseret ke masalah ini karena segitiga itu diberikan Indra pada Esa. Mereka pun tak terhindar untuk berpacu dengan waktu dan bayang-bayang Zionis untuk menemukan lokasi Tabut Suci. Tanpa diduga, di tengah perburuan hadirlah Yitro, seorang anggota The Knight of Zion, pejuang Zion yang membelot dan menjadi kawan. Walaupun ia Yahudi, ia tidak setuju dengan usaha Zionis yang ingin menggenggam dunia dengan segala cara. Akhir cerita, mereka sampai pada tempat penyimpanan harta Sulaiman dan Tabut Suci yang ternyata sudah dipindahkan. Orang-orang yang mengejar mereka mati terperangkap di dalamnya setelah mereka ledakan.

Menyimak novel ini, kita akan menemukan banyak spekulasi "nakal" yang bisa jadi merupakan kebenaran, misalnya Ratu Saba itu berkulit hitam, Tabut Suci dan The Kingdom Heaven itu berpindah dari Etiopia ke Mekah dan lain-lain. Menariknya, semua cerita yang ditampilkan oleh penulis berdasar fakta yang terungkap dari beberapa literatur kuno seperti Kebra Negas, (kitab silsilah kekaisaran Etiopia sejak Manelik, 3000 SM sampai generasi terakhir yang di kudeta pada 1976), Al Kitab dan Alquran.

Sayangnya penulis yang jebolan sastra Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini kurang lihai memainkan kata. Banyak situasi-situasi emosional yang digambarkan datar saja, semisal saat menggambarkan kesedihan Ibu Heri saat anaknya mati (h.22), perasaan Indra, Esa dan Nisa saat melihat kematian Ibu Indra, Bayu dan yang lainnya (h.268).

Begitu juga dalam mendeskripsikan perasaan cinta antara Esa dan Nisa, kurang terasa. Banyak ditemui juga peristiwa yang menurut saya terlalu "kebetulan", contohnya saat Nisa kehabisan tiket pesawat di Yaman, ia tiba-tiba diberi tiket gratis oleh seseorang (h.110) dan lain-lain.

Terlepas dari kekurangan itu, karya mantan ketua kelompok Analis Kisah Sejarah dalam Kitab Suci (AKSi) ini tetap layak untuk dibaca. Di dalamya kita akan menemukan banyak fakta mengenai Yahudi, Bani Israel, Zionisme dan seluk beluknya. Berbagai kutipan literatur menjadikan novel ini terlihat nyata daripada fiksi. Tak salah kiranya jika novel yang dibuat berdasarkan riset selama 3 tahun ini disebut Seno Gumira Ajidarma--testimoninya di sampul--sebagai novel yang ensiklopedis.

Agus Hariyanto, penyuka buku, tinggal di Semarang.

Atlantis, The Lost Continent Finally Found

http://www.atlan.org/book/

Introduction

"Unlocking the Secrets of Plato’s Lost Continent"

Atlantis, The Lost Continent Finally Found, released on August 2005, is Prof. Arysio Santos' latest work. Following the same line of thought that made his homonymous website become the most popular in its category, having received more than 2.5 million visits within the past few years, he explains in this book his Theory on Atlantis, using an infinitude of arguments, which range from the strictly scientific (such as Geology, Linguistics, and Anthropology) to the more arcane and occult ones.

A professional scientist with a PhD in Nuclear Physics and Free-Docency in Physical-Chemistry, the author has dedicated himself intensely to the study of the Atlantis problem, for about 30 years now. Being the first one to ever link the catastrophic events of the end of the last Ice Age (11.600 years ago) with the world-wide traditions of the universal Flood and the destruction of Atlantis, Prof. Santos managed to find a perfect site for the location of the Lost Continent. Such site strives unrivaled as being the most logical one ever proposed, matching all the features mentioned by the Greek philosopher Plato, as well as those cited by other sources.

The reader will be confronted with strongly based evidence of all sorts to the existence of Atlantis, written by a reputed scientist, enough to shake the beliefs of the most hard-core skeptic. This book should also please the fans of the occult and symbolic disciplines, as the author frequently interconnects them with Atlantis and explains their meaning. Illustrated with over 30 line-art figures and printed in high quality white paper, Prof. Santos’ book is a must for everyone interested in the subject of Atlantis and lost civilizations.

Use the links above for more information about this book, such as page samples and excerpts. If you are a book reviewer or journalist and are interested in reviewing this book in your publication, please review our Information for the Press.

Monday, 17 May 2010

BUKTI KEBERADAAN SULAIMAN DI INDONESIA

https://astuy19.wordpress.com/2010/05/16/bukti-keberadaan-sulaiman-di-indonesia/


BUKTI KEBERADAAN SULAIMAN DI INDONESIA


“Dan Kami tundukkan angin bagi Sulaiman, yang perjalanan (angin) di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanan (Angin) di waktu sore sama dengan sebulan…”

(Q.S. Saba : 12/ 3412)

Dari keterangan ayat tersebut di atas (Q.S. Saba : 12) bahwa Nabi Sulaiman a.s. hidup di negeri yang perjalanan angin di waktu pagi sama dengan perjalanan selama satu bulan begitupun dengan perjalanan angin di waktu sore harinya, inilah yang kita kenal dengan Angin Muson yang terjadi di Indonesia, yaitu angin muson barat dan angin muson timur.

AnginMuson (Monsun)

Angin muson adalah angin yang berhembus secara periodik (minimal 3 bulan) dan antara periode yang satu dengan yang lain polanya akan berlawanan yang berganti arah secara berlawanan setiap setengah tahun. Umumnya pada setengah tahun pertama bertiup angin darat yang kering dan setengah tahun berikutnya bertiup angin laut yang basah. Pada bulan Oktober – April, matahari berada pada belahan langit Selatan, sehingga benua Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari dari benua Asia. Akibatnya di Australia terdapat pusat tekanan udara rendah (depresi) sedangkan di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi (kompresi). Keadaan ini menyebabkan arus angin dari benua Asia ke benua Australia. Di Indonesia angin ini merupakan angin musim Timur Laut di belahan bumi Utara dan angin musim Barat di belahan bumi Selatan. Oleh karena angin ini melewati Samudra Pasifik dan Samudra Hindia maka banyak membawa uap air, sehingga pada umumnya di Indonesia terjadi musim penghujan.

Angin Muson bisa terjadi apabila suatu Negara berada diantara 2 (dua) kontinen/benua. Indonesia sendiri berada di antara dua benua,yaitu benua Asia dan Australia selain itu juga Indonesia berada di antara 2 (dua) samudera, yaitu samudera Pasifik dan samudera Atlantik.

Nama Sulaiman sendiri merupakan nama khas dari orang Jawa dan merupakan satu-satunya nabi dan Rasul (yang wajib diketahui) yang memiliki nama khas ini, yaitu perpaduan antara kata-kata Su-lai-man, sama halnya dengan nama-nama seperti Sudirman, Sukirman, Sutarman dll.

Selain itu kita sampai saat ini masih terdapat sebuah tempat/kota di Jogjakarta dengan nama Sulaiman yaitu Sleman, di daerah ini terdapat banyak sekali peninggalan dari masa lampau yang penuh misteri, diantaranya bangunan Borobudur, Prambanan, Situs Ratu Boko dll.

Dari beberapa sumber sejarah, Bangunan/candi Borobudur dibangun oleh Dinasti Sailendra, namun itupun hanya sebatas perkiraan, karena tidak ada bukti autentik yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Daoed Joesoef (mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) dalam bukunya “BOROBUDUR” pada halaman 43, menjelaskan makna dari kata Sailendra berasal dari kata Saila indra yang artinya Raja Gunung. Ini bisa difahami dalam beberapa kisah/legenda di tanah Jawa khususnya di Trowulan (ibukota Majapahit), bahwa Sailendra ini mampu menaklukkan gunung dan sanggup memutarnya saat melawan seorang raksasa.

Dalam sejarah Islam sendiri, kita mengenal satu-satunya nabi yang memiliki mu’jizat sanggup menaklukkan gunung adalah Nabi Daud a.s. dan dalam kisahpun Nabi Daud a.s. pernah mengalahkan seorang raksasa bernama Jalut. Dialah ayah dari Nabi Sulaiman a.s.

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud” dan kami telah melunakkan besi untuknya.

(Q.S. Saba ; 10/ 3410)

Atau dari beberapa sumber, makna Sailendra inipun berasal dari kata Salin Indra yang artinya bisa menguasai/berganti-ganti alam, yaitu alam manusia , alam ghaib (jin/setan dll) dan alam binatang.

Satu-satunya Nabi yang menguasai alam-alam ini, sehingga mampu berkomunikasi bahkan menguasainya adalah Nabi Sulaiman a.s.

“Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata; ‘Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya semua itu benar-benar suatu karunia yang nyata”

(Q.S. An Naml : 16/ 2716)


“Dan dikumpulkan bagi Sulaiman tentaranya dari Jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib”

(Q.S. An Naml : 17/2717)


“Dan Kami tundukkan angin bagi Sulaiman, yang perjalanan (angin) di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanan (Angin) di waktu sore sama dengan sebulan dan kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di bawah kekuasaannya dengan izin Tuhannya………..”

(Q.S. Saba : 12/ 3412)

Wikipedia

Search results

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907