Wednesday, 4 January 2012

Kerajaan Sunda

Kerajaan Sunda adalah kerajaan yang pernah ada antara tahun 932 dan 1579 Masehi di bagian Barat pulau Jawa (provinsi Banten, Jakarta, dan Jawa Barat sekarang).

Etimologi

Sampai abad ke-16, toponim (nama tempat) "Sunda" menunjuk kepada daerah pesisir bagian barat pulau Jawa, lebih tepatnya di daerah Banten. Di awal abad ke-13, penulis Zhao Rugua dari Tiongkok menamakan "Sin-t'o" suatu kota dan daerah sekitarnya yang menghasilkan lada. Karena pada masa itu yang menghasilkan lada hanya daerah Banten, maka kini semua pakar sejarah sepakat bahwa "Sunda" tersebut itu Banten. Di sekitar tahun 1500, Shungfeng xiangsong, sebuah buku perjalanan dari Tiongkok, memakai kedua nama "Wan-tan" dan "Shun-t'a" untuk kota Banten. Di masa yang sama dua penulis Arab, Ibn Majid dan Sulaiman, menamakan "Sunda" pelabuhan yang letaknya paling barat di pantai utara pulau Jawa, yang hanya dapat mengacu ke Banten. Peta Portugis yang paling lama mengenai kawasan ini menyebut "Sunda" daerah muara sungai yang letaknya di bagian barat pantai utara Jawa. Naskah Portugis paling sering menamakan "Sunda", kadang-kadang "Bantam" bahkan "Sunda-Bantam", kota Banten sekarang.
Diperkirakan adalah orang Portugis yang pertama menimbulkan kerancuan dengan menamakan "Sunda" keseluruhan Jawa Barat[1]. Namun di akhir abad ke-16 orang Belanda meluruskan kerancuan ini. Setelah dalam perjalanan pertamanya ke Nusantara mendapat keterangan lebih banyak tentang Banten, mereka menulis bahwa "Sunda adalah pelabuhan Banten dengan bagian pulau Jawa yang paling di barat di mana lada tumbuh". Gambar ini sama dengan apa yang ditulis Zhao Rugua hampir 400 tahun sebelumnya.
Prasasti Kebonkopi II, yang ditemukan dekat Bogor dan ditulis dalam bahasa Melayu, mencatat bahwa tahun 932, seorang "raja Sunda" menduduki kembali tahtanya. Penggunaan bahasa Melayu ini menunjukkan pengaruh kerajaan Sriwijaya.
Menurut Prasasti Sanghyang Tapak yang berangka tahun 952 saka (1030 M), pusat kerajaan Sunda di bawah Maharaja Jayabupati, dinyatakan terletak di sekitar Cicatih dekat Cibadak, di pedalaman Jawa Barat, bukan di pesisir lagi.
Menurut naskah Wangsakerta, naskah yang diragukan keasliannya, Sunda merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Saka Sunda (669 M). Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16 ini, kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat , dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah. Namun naskah ini diragukan sebagai sumber sejarah.

[sunting] Wilayah kekuasaan

Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627), batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali ("Sungai Pamali", sekarang disebut sebagai Kali Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah.
Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antara keluarga Kerajaan Sunda dan Lampung. Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda.

[sunting] Historiografi

Padrão Sunda Kalapa (1522), sebuah pilar batu untuk memperingati perjanjian Sunda-Portugis, Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
Rujukan awal nama Sunda sebagai sebuah kerajaan tertulis dalam Prasasti Kebon Kopi II tahun 458 Saka (536 Masehi)[rujukan?]. Prasasti itu ditulis dalam aksara Kawi, namun, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini terjemahannya sebagai berikut:
Batu peringatan ini adalah ucapan Rakryan Juru Pangambat, pada tahun 458 Saka, bahwa tatanan pemerintah dikembalikan kepada kekuasaan raja Sunda.
Beberapa orang berpendapat bahwa tahun prasasti tersebut harus dibaca sebagai 854 Saka (932 Masehi) karena tidak mungkin Kerajaan Sunda telah ada pada tahun 536 AD, di era Kerajaan Tarumanagara (358-669 AD ).
Rujukan lainnya kerajaan Sunda adalah Prasasti Sanghyang Tapak yang terdiri dari 40 baris yang ditulis pada 4 buah batu. Empat batu ini ditemukan di tepi sungai Cicatih di Cibadak, Sukabumi. Prasasti-prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Kawi. Sekarang keempat prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Jakarta, dengan kode D 73 (Cicatih), D 96, D 97 dan D 98. Isi prasasti (menurut Pleyte):
Perdamaian dan kesejahteraan. Pada tahun Saka 952 (1030 M), bulan Kartika pada hari 12 pada bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, hari pertama, wuku Tambir. Hari ini adalah hari ketika raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramattunggadewa, membuat tanda pada bagian timur Sanghiyang Tapak ini. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk melanggar aturan ini. Dalam bagian sungai dilarang menangkap ikan, di daerah suci Sanghyang Tapak dekat sumber sungai. Sampai perbatasan Sanghyang Tapak ditandai oleh dua pohon besar. Jadi tulisan ini dibuat, ditegakkan dengan sumpah. Siapa pun yang melanggar aturan ini akan dihukum oleh makhluk halus, mati dengan cara mengerikan seperti otaknya disedot, darahnya diminum, usus dihancurkan, dan dada dibelah dua.
Tanggal prasasti Jayabupati diperkirakan 11 Oktober 1030. Menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun (952-964) saka (1030 - 1042AD).

Catatan sejarah dari Cina

Menurut F. Hirt dan WW Rockhill, ada sumber Cina tertentu mengenai Kerajaan Sunda. Pada saat Dinasti Sung Selatan, inspektur perdagangan dengan negara-negara asing, Zhao Rugua mengumpulkan laporan dari para pelaut dan pedagang yang benar-benar mengunjungi negara-negara asing. Dalam laporannya tentang negara Jauh, Zhufan Zhi, yang ditulis tahun 1225, menyebutkan pelabuhan di "Sin-t'o". Zhao melaporkan bahwa:
"Orang-oarang tinggal di sepanjang pantai. Orang-orang tersebut bekerja dalam bidang pertanian, rumah-rumah mereka dibangun diatas tiang (rumah panggung) dan dengan atap jerami dengan daun pohon kelapa dan dinding-dindingnya dibuat dengan papan kayu yang diikat dengan rotan. Laki-laki dan perempuan membungkus pinggangnya dengan sepotong kain katun, dan memotong rambut mereka sampai panjangnya setengah inci. Lada yang tumbuh di bukit (negeri ini) bijinya kecil, tetapi berat dan lebih tinggi kualitasnya dari Ta-pan (Tuban, Jawa Timur). Negara ini menghasilkan labu, tebu, telur kacang dan tanaman."
Buku perjalanan Cina Shunfeng xiangsong dari sekitar 1430 mengatakan :
"Dalam perjalanan ke arah timur dari Shun-t'a, sepanjang pantai utara Jawa, kapal dikemudikan 97 1/2 derajat selama tiga jam untuk mencapai Kalapa, mereka kemudian mengikuti pantai (melewati Tanjung Indramayu), akhirnya dikemudikan 187 derajat selama empat jam untuk mencapai Cirebon. Kapal dari Banten berjalan ke arah timur sepanjang pantai utara Jawa, melewati Kalapa, melewati Indramayu, melewati Cirebon."

Catatan sejarah dari Eropa

Laporan Eropa berasal dari periode berikutnya menjelang jatuhnya Kerajaan Sunda oleh kekuatan Kesultanan Banten. Salah satu penjelajah itu adalah Tomé Pires dari Portugal. Dalam bukunya Suma Oriental (1513 - 1515) ia menulis bahwa:
"Beberapa orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda luasnya setengah dari seluruh pulau Jawa; sebagian lagi mengatakan bahwa Kerajaan Sunda luasnya sepertiga dari pulau Jawa dan ditambah seperdelapannya."
Tulisan ini yang membawa kerancuan, dengan menyatakan bahwa kerajaan Sunda meliputi "sepertiga dari pulau Jawa", sedangkan pada masa Pires Sunda masih mengacu ke pelabuhan yang sekarang namanya Banten.

Berdiriya kerajaan Sunda

Menurut Naskah Wangsakerta dari Cirebon, sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri, Sunda merupakan bawahan Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (memerintah hanya selama tiga tahun, 666-669 M), menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. Dari Ganggasari, beliau memiliki dua anak, yang keduanya perempuan. Déwi Manasih, putri sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sedangkan yang kedua, Sobakancana, menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayasa, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Sriwijaya. Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh, Wretikandayun (612-702) memberontak, melepaskan diri dari Tarumanagara, serta mendirikan Kerajaan Galuh yang mandiri. Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara, dan selanjutnya memindahkan kekuasaannya ke Sunda, di hulu sungai Cipakancilan dimana di daerah tersebut sungai Ciliwung dan sungai Cisadane berdekatan dan berjajar, dekat Bogor saat ini. Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka (kira-kira 18 Mei 669 M). Sunda dan Galuh ini berbatasan, dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum (Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur).

Federasi antara Sunda dan Galuh

Putera Tarusbawa yang terbesar, Rarkyan Sundasambawa, wafat saat masih muda, meninggalkan seorang anak perempuan, Nay Sekarkancana. Cucu Tarusbawa ini lantas dinikahi oleh Rahyang Sanjaya dari Galuh, sampai mempunyai seorang putera, Rahyang Tamperan.
Ibu dari Sanjaya adalah Sanaha, cucu Ratu Shima dari Kalingga di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa/Sena/Sanna, Raja Galuh ketiga sekaligus teman dekat Tarusbawa. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sena di tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh Purbasora. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tetapi lain ayah.
Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan Pajajaran, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh dengan bantuan Tarusbawa. Penyerangan ini bertujuan untuk melengserkan Purbasora.
Saat Tarusbawa meninggal (tahun 723), kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya. Di tangan Sanjaya, Sunda dan Galuh bersatu kembali. Tahun 732, Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh kepada puteranya Rarkyan Panaraban (Tamperan). Di Kalingga Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754), yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwara, yaitu Rakai Panangkaran. Rarkyan Panaraban berkuasa di Sunda-Galuh selama tujuh tahun (732-739), lalu membagi kekuasaan pada dua puteranya; Sang Manarah (dalam carita rakyat disebut Ciung Wanara) di Galuh, serta Sang Banga (Hariang Banga) di Sunda.
Sang Banga (Prabhu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya) menjadi raja selama 27 tahun (739-766), tetapi hanya menguasai Sunda dari tahun 759. Dari Déwi Kancanasari, keturunan Demunawan dari Saunggalah, Sang Banga mempunyai putera bernama Rarkyan Medang, yang kemudian meneruskan kekuasaanya di Sunda selama 17 tahun (766-783) dengan gelar Prabhu Hulukujang. Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya, Rakryan Hujungkulon atau Prabhu Gilingwesi dari Galuh, yang menguasai Sunda selama 12 tahun (783-795).
Karena Rakryan Hujungkulon inipun hanya mempunyai anak perempuan, maka kekuasaan Sunda lantas jatuh ke menantunya, Rakryan Diwus (dengan gelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) yang berkuasa selama 24 tahun (795-819). Dari Rakryan Diwus, kekuasaan Sunda jatuh ke puteranya, Rakryan Wuwus, yang menikah dengan putera dari Sang Welengan (raja Galuh, 806-813). Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya, Sang Prabhu Linggabhumi (813-842), meninggal dunia. Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh Rakryan Wuwus (dengan gelar Prabhu Gajahkulon) sampai ia wafat tahun 891.
Sepeninggal Rakryan Wuwus, kekuasaan Sunda-Galuh jatuh ke adik iparnya dari Galuh, Arya Kadatwan. Hanya saja, karena tidak disukai oleh para pembesar dari Sunda, ia dibunuh tahun 895, sedangkan kekuasaannya diturunkan ke putranya, Rakryan Windusakti. Kekuasaan ini lantas diturunkan pada putera sulungnya, Rakryan Kamuninggading (913). Rakryan Kamuninggading menguasai Sunda-Galuh hanya tiga tahun, sebab kemudian direbut oleh adiknya, Rakryan Jayagiri (916). Rakryan Jayagiri berkuasa selama 28 tahun, kemudian diwariskan kepada menantunya, Rakryan Watuagung, tahun 942. Melanjutkan dendam orangtuanya, Rakryan Watuagung direbut kekuasaannya oleh keponakannya (putera Kamuninggading), Sang Limburkancana (954-964).
Dari Limburkancana, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan oleh putera sulungnya, Rakryan Sundasambawa (964-973). Karena tidak mempunyai putera dari Sundasambawa, kekuasaan tersebut jatuh ke adik iparnya, Rakryan Jayagiri (973-989). Rakryan Jayagiri mewariskan kekuasaannya ka puteranya, Rakryan Gendang (989-1012), dilanjutkan oleh cucunya, Prabhu Déwasanghyang (1012-1019). Dari Déwasanghyang, kekuasaan diwariskan kepada puteranya, lalu ke cucunya yang membuat prasasti Cibadak, Sri Jayabhupati (1030-1042). Sri Jayabhupati adalah menantu dari Dharmawangsa Teguh dari Jawa Timur, mertua raja Airlangga (1019-1042).
Dari Sri Jayabhupati, kekuasaan diwariskan kepada putranya, Dharmaraja (1042-1064), lalu ke cucu menantunya, Prabhu Langlangbhumi ((1064-1154). Prabu Langlangbhumi dilanjutkan oleh putranya, Rakryan Jayagiri (1154-1156), lantas oleh cucunya, Prabhu Dharmakusuma (1156-1175). Dari Prabu Dharmakusuma, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan kepada putranya, Prabhu Guru Dharmasiksa, yang memerintah selama 122 tahun (1175-1297). Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun, tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada Pakuan Pajajaran, kembali lagi ke tempat awal moyangnya (Tarusbawa) memimpin kerajaan Sunda.
Sepeninggal Dharmasiksa, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya yang terbesar, Rakryan Saunggalah (Prabhu Ragasuci), yang berkuasa selama enam tahun (1297-1303). Prabhu Ragasuci kemudian diganti oleh putranya, Prabhu Citraganda, yang berkuasa selama delapan tahun (1303-1311), kemudian oleh keturunannya lagi, Prabu Linggadéwata (1311-1333). Karena hanya mempunyai anak perempuan, Linggadéwata menurunkan kekuasaannya ke menantunya, Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340), kemudian ke Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Dari Prabu Ragamulya, kekuasaan diwariskan ke putranya, Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357), yang di ujung kekuasaannya gugur saat Perang Bubat. Karena saat kejadian di Bubat, putranya -- Niskalawastukancana -- masih kecil, kekuasaan Sunda sementara dipegang oleh Patih Mangkubumi Sang Prabu Bunisora (1357-1371).
Prasasti Kawali di Kabuyutan Astana Gedé, Kawali, Ciamis.
Sapeninggal Prabu Bunisora, kekuasaan kembali lagi ke putra Linggabuana, Niskalawastukancana, yang kemudian memimpin selama 104 tahun (1371-1475). Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan (Prabu Susuktunggal), yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum (daerah asal Sunda). Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama (1382-1482), sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur. Dari Nay Ratna Mayangsari, istrinya yang kedua, ia mempunyai putera Ningratkancana (Prabu Déwaniskala), yang meneruskan kekuasaan ayahnya di daerah Galuh (1475-1482).
Susuktunggal dan Ningratkancana menyatukan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata (putra Ningratkancana) dengan Ambetkasih (putra Susuktunggal). Tahun 1482, kekuasaan Sunda dan Galuh disatukan lagi oleh Jayadéwata, yang bergelar Sri Baduga Maharaja. Sapeninggal Jayadéwata, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya, Prabu Surawisésa (1521-1535), kemudian Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543), Prabu Sakti (1543-1551), Prabu Nilakéndra (1551-1567), serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579). Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten, mengakibatkan kekuasaan Prabu Surya Kancana dan Kerajaan Pajajaran runtuh.

Arkeologi

Di Museum Nasional Indonesia di Jakarta terdapat sejumlah arca yang disebut "arca Caringin" karena pernah menjadi hiasan kebun asisten-residen Belanda di tempat tersebut. Arca tersebut dilaporkan ditemukan di Cipanas, dekat kawah Gunung Pulosari, dan terdiri dari satu dasar patung dan 5 arca berupa Shiwa Mahadewa, Durga, Batara Guru, Ganesha dan Brahma. Coraknya mirip corak patung Jawa Tengah dari awal abad ke-10.
Di situs purbakala Banten Girang, yang terletak kira-kira 10 km di sebelah selatan pelabuhan Banten sekarang, terdapat reruntuhan dari satu istana yang diperkirakan didirikan di abad ke-10. Banyak unsur yang ditemukan dalam reruntuhan ini yang menunjukkan pengaruh Jawa Tengah.

Raja-raja Kerajaan Sunda-Galuh

Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi):
  1. Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 - 723)
  2. Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 - 732)
  3. Tamperan Barmawijaya (732 - 739)
  4. Rakeyan Banga (739 - 766)
  5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 - 783)
  6. Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 - 795)
  7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 - 819)
  8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 - 891)
  9. Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 - 895)
  10. Windusakti Prabu Déwageng (895 - 913)
  11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 - 916)
  12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 - 942)
  13. Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954)
  14. Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 - 964)
  15. Munding Ganawirya (964 - 973)
  16. Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989)
  17. Brajawisésa (989 - 1012)
  18. Déwa Sanghyang (1012 - 1019)
  19. Sanghyang Ageng (1019 - 1030)
  20. Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 - 1042)
  21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 - 1065)
  22. Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 - 1155)
  23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 - 1157)
  24. Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 - 1175)
  25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 - 1297)
  26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 - 1303)
  27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 - 1311)
  28. Prabu Linggadéwata (1311-1333)
  29. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)
  30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)
  31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357)
  32. Prabu Bunisora (1357-1371)
  33. Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)
  34. Prabu Susuktunggal (1475-1482)
  35. Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)
  36. Prabu Surawisésa (1521-1535)
  37. Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)
  38. Prabu Sakti (1543-1551)
  39. Prabu Nilakéndra (1551-1567)
  40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579)

Hubungan dengan kerajaan lain

Singasari

Dalam Nagarakretagama, disebutkan bahwa setelah Kertanagara menaklukkan Bali (1206 Saka), kerajaan-kerajaan lain turut bertekuk lutut, tidak terkecuali Sunda. Jika ini benar, adalah aneh jika di kemudian hari, kerajaan Majapahit sebagai penerus yang kekuasaannya lebih besar justru tidak menguasai Sunda, sehingga nama Sunda harus termuat dalam sumpahnya Gajah Mada.

Eropa

Kerajaan Sunda sudah lama menjalin hubungan dagang dengan bangsa Eropa seperti Inggris, Perancis dan Portugis. Kerajaan Sunda bahkan pernah menjalin hubungan politik dengan bangsa Portugis. Dalam tahun 1522, Kerajaan Sunda menandatangani Perjanjian Sunda-Portugis yang membolehkan orang Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kelapa. Sebagai imbalannya, Portugis diharuskan memberi bantuan militer kepada Kerajaan Sunda dalam menghadapi serangan dari Demak dan Cirebon [2](yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda).


Catatan kaki

  1. ^ Claude Guillot et al., 1995, halaman 16
  2. ^ The Sunda Kingdoms of West Java: From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor. Yayasan Cipta Loka Caraka. 4 Januari 2007.

Rujukan

  • Aca. 1968. Carita Parahiyangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Maséhi. Yayasan Kabudayaan Nusalarang, Bandung.
  • Ayatrohaedi. 2005. Sundakala: cuplikan sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah "Panitia Wangsakerta" dari Cirebon. Pustaka Jaya, Jakarta.
  • Edi S. Ekajati. 2005. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-329-1
  • Guillot, Claude, Lukman Nurhakim, Sonny Wibisono, "La principauté de Banten Girang" ("Kerajaan Banten Girang"), Archipel, Tahun 1995, Volume 50, No. 50, halaman 13-24
  • Yoséph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat: yuganing rajakawasa. Geger Sunten, Bandung.

SUMBER :  http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda

Monday, 2 January 2012

Sultan Nusantara Cermati Dinar Dirham

Sultan Nusantara Cermati Dinar Dirham

Dalam sebuah pertemuan di Keraton Kasepuhan, Cirebon, lebih dari 20 Sultan se-Nusantara kembali mengenali Dinar dan Dirham.

Pertemuan itu berlangsung dengan sangat bersahaja, bertempat di Bangsal Pagelaran, dalam komplek Keraton Kasepuhan, Cirebon. Seharian penuh, Senin 19 Desember 2011 lalu, para Sultan yang datang dari berbagai kesultanan, di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, NTB, Maluku, sampai Papua, bersarasehan membahas persoalan kebangsaan saat ini. Hadir dalam pertemuan tersebut, dan memberikan berbagai masukan, Pengurus Majelis Kebangsaan Pancasila Jiwa Nusantara.

Laksamana Slamet Soebiyakto beserta jajarannya dari Majelis Kebangsaan memberikan penjelasan betapa sistem demokrasi telah menyeret bangsa Indonesia ke dalam persoalan kemanusiaan secara mendasar. Demokrasi yang didasarkan kepada persaingan bebas telah menghilangkan sifat-sifat dasar yang baik pada manusaia, seperti kasih sayang, tolong menolong, serta gotong royong, dan menghilangkan martabat manusia.

'Kita harus kembali kepada musyawarah. Kepemimpinan tidak seharusnya ditetapkan melalui proses pemilihan berdasarkan suara terbanyak,' adalah bagian dari solusi yang diberikan Majelis Kebangsaan.

Dalam salah satu sesi, Pak Zaim Saidi, yang hadir sebagai pengamat atas undangan Sultan Sepuh XIV, menambahkan bahwa ada soal penting lain yang harus dibahas, yaitu soal finansial. Harus dipahami bahwa sumber kekuasaan politik ada pada uang, yang saat ini dimanipulasi dan dikendalikan oelh segelintir orang. Solusi untuk itu, sebagaimana ia sampaikan kepada peserta, 20 di antaranya adalah para Sultan dari berbagai pelosok Nusantara, adalah menyatukan kembali kekuasaan dan sumbernya menuruti hukum Ilahi, Syariat Islam. Dan itu berarti mengembalikan peran dan wewenang para Sultan untuk menerbitkan dan mengedarkan Dinar dan Dirham, dan menarik zakat atasnya, untuk diratakan kepada kaum Dhuafa, beserta Fulus untuk uang recehnya .

Atas uraian yang singkat dari Pak Zaim tersebut, para Sultan menyambut dengan gembira, dan berharap agar mendapat penjelasan yang lebih detil nantinya dalam kesempatan lain. Kepada para Sultan Pak Zaim membagikan sebuah risalah berjudul 'Di Ambang Runtuhnya Demokrasi: Menyongsong Kembalinya Sultaniyya di Nusantara'. Para Sultan, tampak sangat paham bahwa Dinar dan Dirham dan syariat Islam, bukan barang asing, melainkan bagian dari tradisi masa lalu para tetua kita dulu.
(001)

sumber : http://wakalanusantara.com/detilurl/Sultan.Nusantara.Cermati..Dinar.Dirham/1066/id

Launch of the American Gold Dinar TM




Dinar Wakala LLC, an alternative bartering solution provider based out of Austin Texas, has launched its newest medallion, the American Gold DinarTM, completing its portfolio of precious metals based tokens targeted primarily to the sound money enthusiasts in the Muslim community, as well as to the broader audience of numismatic collectors and bullion investors.

American Gold Dinar: First ever produced in America
The medallion retains the primary design features of a predecessor in its series, the American Silver DirhamTM, featuring an artistic amalgamation of the Middle Eastern symbol of the Rub-el-Hizb with the stars and stripes from the US flag, a combination that faithfully depicts the cross-civilizational partnership underlying the production of the medallion itself. It is the result of collaboration between the Dallas based American Open Currency Standard (AOCS), Dinar Wakala LLC and Emir Ismail Bryant, representing the Muslim communities of North Carolina and Philadelphia.
AOCS is a sound money movement started in the US to establish an honest value-for-value trading standard. AOCS has worked with communities and groups around the world to aid in the development of private trading medallions and guarantee that they conform to a verifiable standard. The American Silver Dirhams and Gold Dinars are the latest addition to their catalog which includes designs for the Ludwig Von Mises institute, Ron Paul's Campaign for Liberty and the sovereign Lakota Nation with whom they co-founded the Free Lakota Bank. Their web site is www.opencurrency.com.
On the other hand, sound money activists in the Muslim community have also been active for over a decade, hailing from both the grassroots, as well as from the Academia, which comes with its scholarly criticism to the Islamic Banking industry. The Gold Dinar as a community medium of exchange, in contrast to traditional Islamic Banking, draws its primary inspiration and religious sanction from the sacred texts of the Quran and the Sunnah. The Dinar and the Dirham, being the currencies of the 7th Century Arabia, are directly mentioned in the Quran and Hadith literature, and figure prominently in the Fiqh jurisprudence governing charity and Zakat-based religious taxation. Additionally, the depth of Muslim’s cultural association with the coin is also obvious by its pervasive historical presence as the uniform currency in the Muslim world. The Dinar derives its name from the Roman Denarius struck around 200 BC, and it subsequently came into use among the Judaic, Christian and Muslim peoples of the Middle East. The Dinar is based on the historical weight measurement of the Mithqal, reputedly consisting of 72 grains of barley seed. Starting from Islam's first city-state in Madina, the Dinars and Dirhams were used as currency in the Muslim world, down to the Ayyubid and more lately, Ottoman empires. Sound money advocates in the Muslim world thus find history and cultural tradition at their side when lobbying in their countries for a return to bullion backed currency.


Packaging of the American Dinars
However, the strongest case for its revival in the modern world runs not on a cultural, but a legal precept in Islamic Finance: The twin prohibition of Riba and Gharar. So while the Austrian Economists criticize central banking from an economical and ethical view point, Islam lends support to the same conclusions on legal footings. The prohibition of usury (Riba) forbids the discounted sale of debt by the Treasury to the Central Bank, and the prohibition of uncertainty (Gharar) forbids the increase in money supply by way of fractional reserve banking. Taken together, the two injunctions provide grounds for Dinar activists to demand monetary and banking reforms along similar lines to those popularly expressed in their own times by Thomas Jefferson and Andrew Jackson. "Long before even starting this initiative”, in the words of Asif Shiraz, the Pakistani American founder and CEO of Dinar Wakala LLC, “I realized the strong congruence that existed between what has been handed down to the Americans by their founding fathers like Jefferson, and to us, by the Imams of Fiqh. It was one and the same thing, at least from a strictly economic perspective: A free market economy, denominated in sound money, with limited government interference. This was a great Eureka moment! That our civilizations are much closer to each other in values, than what appears at first glance from the politically tainted milieu of conflict. From that time on, this singleness of purpose, to collaborate on restoring sound money, has brought me closer to my libertarian friends in America, far more effectively than any number of interfaith conferences or cultural events."
Another distinctive feature of these medallions is their certification by the WIM - The World Islamic Mint (www.islamicmint.com), which serves to verify compliance with legal standards in accordance with Islamic law during the manufacture of coins and medallions. Correctly manufactured products receive a corresponding license from WIM, which greatly facilitates their exchange at par value, even if manufactured in different parts of the world. The American Gold DinarTM will join their existing line up of the much coveted Kelantan Dinar, issued by the Government of the Malaysian State of Kelantan, whose launch last year was noted by the Wall Street Journal as "the forming of Utopia for the world’s gold bugs".


A Gold Dinar of the Ayyubid Sultan Saladin circa 1193
The specifications of the modern Gold Dinar, in its purity and physical measurements, were arrived at carefully to mimic as closely as possible the weight of the historical Arab unit of the Mithqal, which an ideal Dinar must match per Islamic law. According to Umar Ibrahim Vadillo, the visionary founder behind the WIM organization, samples of early Islamic coins from different Museums around the world were taken into consideration, some from as far back as 7th century A.D. to ascertain the weight of the Dinar. Islamic law requires the coins to be of the same weight as they were in use by the Prophet of Islam, Muhammad (sm) ibne Abdullah. Some research teams have even published results based on measurements taken from barley grains to verify the results. While some minority opinions differ, the overwhelming consensus to the weight of these coins is now at 4.25 grams of 22K gold for the Dinar and 2.975 grams of fine silver for the Dirham. The American Gold Dinar conforms to this WIM standard which makes it exactly similar to the coins produced by the Government of Kelantan, Wakala Induk Nusantara in Indonesia, and Emirates Gold DMCC in Dubai, resulting in the medallion’s global exchangeability. Additional technical contributions into the physical characteristics of the coin were provided by long-time dinar activist and strategist Sidi Ahmad Adjie, and the face design was developed by a Ukrainian artist, Muradin. A number of Muslim neighborhoods in the US have expressed intention to use these medallions for dollar-denominated barter trading in their communities, led most actively by Emir Ismail Bryant in the Carolinas, Emir Najib Abdul-Haqq in Georgia and Emir Khalil Abdullahi in Pennsylvania. Some private exporters from Singapore and Malaysia have also expressed interest in international trade arrangements on such barter basis. Bartering in bullion has always posed challenges for its undertakers, in light of an ever tightening regulatory regime from both a taxation and money-laundering perspective. But the trend is nevertheless on the rise in Muslim communities, driven not only by the financial incentive of the metal’s rising price, but also through ideological support by eminent scholars like Sheikh Imran Hosein from Central America, and Imam Hamza Yusuf in California, whose website at Sandala.org makes a point of denouncing fractional reserve banking in its philosophy section. But by far, the most influential person to have swayed the opinions of scholars on the matter has been Shaykh Abdulqadir As-Sufi, formerly Ian Dallas. He is widely recognized as the founder of the modern Dinar movement, producing the bulk of the literature on the jurisprudence issues regarding usury and money, and providing a fresh perspective of Islamic contractual law abreast with the demands of modern finance.


Set of Gold Dinars and Silver Dirhams
Following the terrible tragedy of 9/11, the Gold Dinar was also caught in an impulsive surge of suspicion surrounding all things Middle Eastern, with some analysts misunderstanding its resurgence as being associated with some extremist philosophy. However, as the temperatures have cooled off and the demand for sound money, or at least some prudence in monetary policy, is now a mainstream debate topic, the Gold Dinar is also regaining its stature in the US as a novel avenue for bullion investment. According to Craig Smith, Chairman of the Swiss America Trading Corp. and author of Rediscovering Gold in the 21st Century, "[the] Dinar is a brilliant approach to a world awash with Fiat currencies and Muslims who use the dinar for savings and future buying power will be rewarded." But doing beyond that, as a medium of exchange rather than just an investment instrument, the struggle still continues. Despite active lobbying, the Gold Dinar is not the legal tender of any Muslim country, although the adoption in Kelantan has caused many rulers of other dominions in the Far East to open up dialogue with Umar Ibrahim Vadillo. According to statistics issued by the Kelantan Golden Trade organization, there are over 3000 shops that accept the Dinar, and coins worth over 12 million USD have been issued. The former Prime Minister of Malaysia, Tun Dr Mahathir Mohamad has himself been an avid supporter of the Gold Dinar even while in office, and considers it an instrument for ending currency wars if employed for settlement of international trade.
Whether or not the Gold Dinar is ever able to do that is yet to be seen. In the mean time, however, it is definitely expected to be a welcome addition to numismatic collections the world over. The medallion can be ordered online from the company website at www.dinarwakala.com.
About Dinar Wakala LLC. The company is located in Round Rock, Texas and is the only US body certified by the World Islamic Mint (WIM) to produce medallions conforming to their standard. The company aims to establish an online precious-metal based barter exchange called GoldMoneyShop.com, and is developing its own medallions to be used as dollar-denominated barter tokens on the platform.

source : http://www.dinarwakala.com/Media/Index/2011-12-06_Launch_Of_The_American_Gold_Dinar

Friday, 23 December 2011

Ekonomi-Politik Global (Dominasi Dollar-Penjajahan The Fed-Penjajahan Israel Atas Palestina)



I. Pengantar (khususnya untuk teman2 penstudi HI, yang tidak tertarik silahkan langsung saja ke bagian II)
Seorang profesor yang mengajari kami matakuliah EPG (Ekonomi Politik Global), mengatakan bahwa EPG adalah jantung dari HI. Bila Anda menguasai EPG, maka Anda akan menguasai esensi studi HI. Sebabnya, hubungan antarnegara, baik konflik maupun kerjasama ujung-ujungnya adalah hubungan ekonomi, upaya satu aktor (baik aktor negara maupun non-negara) untuk meraup sumber daya sebanyak-banyaknya dari aktor lain. Tapi, dalam pandangan EPG, tak ada aktivitas ekonomi yang terjadi di ruang kosong (pure economic), melainkan pasti ada frame politiknya. Selanjutnya, untuk mempelajari EPG, kita pun harus merunut jauh ke kajian-kajian filsafat mengenai sifat-sifat manusia, lalu ideologi-ideologi yang melandasi aktivitas ekonomi-politik manusia, mulai dari liberalisme, merkantilisme, strukturalisme (marxisme), dan Islam (ini tambahan dari saya saja; setau saya, sejauh ini Islam belum dianggap sebagai ideologi yang melandasi aktivitas ekonomi-politik dalam kajian EPG). Dan masih banyak lagi aspek lain, yang sangat luas spektrumnya.
Menurut saya sendiri, inti dari EPG adalah distribusi uang. Uang-lah yang menjadi pangkal kekisruhan (atau kerjasama) global. Problemnya terletak pada kekacauan fungsi uang. Seharusnya, uang adalah barang berharga yang layak untuk untuk dijadikan alat tukar bagi barang dan jasa. Bila Anda sudah berpeluh mengangkat barang ratusan kilo, sudah selayaknya Anda dibayar dengan benda berharga, semisal emas atau perak dengan jumlah tertentu. Tapi, dewasa ini, upah diberikan dalam bentuk uang kertas, yang dicetak di percetakan, diberi nominal angka tertentu dan ditandatangani oleh pejabat bank. Di sini, ada perubahan proses: uang yang seharusnya didistribusikan, kini malah diciptakan oleh pihak-pihak tertentu. Sesungguhnya, uang diciptakan sekali saja, oleh Tuhan, dalam bentuk logam mulia yang terbatas jumlahnya, dan tidak bisa diciptakan ulang oleh manusia. Ketika jumlahnya terbatas, proses ekonomi adalah proses pendistribusian uang. Pemilik jasa akan mendapat uang, pemakai jasa menyerahkan uang. Pemilik minyak meraup uang, pembeli minyak memberikan uang.
Ketika uang diciptakan di mesin cetak, yang terjadi adalah chaos (kekacauan). Krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1997-1998 adalah salah satu bukti yang kita rasakan bersama, betapa pahitnya. Tapi negara-negara dunia masih mampu bertahan dengan terus-menerus mencetak uang di mesin-mesin percetakan. Namun, semua tipuan ini akan ada ujungnya, pasti. Bahkan ada ekonom yang meramalkan tahun 2011 bank-bank global akan kolaps karena sistem uang kertas sudah tak mampu lagi mendukung aktivitas ekonomi manusia. Namun, pertanyaan pentingnya, siapa yang menciptakan sistem uang kertas ini? Tidakkah mereka dulu memperkirakan adanya kemungkinan chaos (kekacauan) ini? Jawabnya, karena memang semua ini adalah proses penjajahan era baru. Para pencipta sistem keuangan kertas ini memang ingin menjajah manusia di dunia tanpa perlu senjata dan darah. Dan ironisnya, negara yang paling awal terjajah melalui sistem ini justru AS. Berikut ini uraiannya.
II. Sejarah Dominasi Dollar di AS dan Dunia
Awalnya, semua negara di dunia menggunakan emas dan perak ketika bertransaksi satu sama lain. Bahkan AS pun dalam UUD-nya mencantumkan bahwa negara menggunakan koin emas dan perak sebagai alat pembayaran. Pada tahun 1800-an hingga 1900-an, orang-orang AS menggunakan uang koin emas dan perak.
Lalu pada 1862, Presiden Lincoln perlu uang untuk membiayai perang saudara (pertanyaan klasik yang hingga kini bisa terus dipertanyakan: siapakah pemicu perang? siapakah yang meraup uang dari perang?). Parlemen AS mengizinkan Lincoln untuk meminjam uang dari bank negara (saat itu masih benar-benar bank milik pemerintah AS) sebesar 150 juta dollar (dalam bentuk koin emas/perak). Seharusnya, pemerintahan Lincoln mengembalikan uang itu dengan uang lagi, namun karena tidak mampu, diperkenalkanlah uang kertas yang berisi ‘janji’ untuk membayar kelak di lain waktu. Ketika itulah pemerintah AS memperkenalkan uang kertas dalam bentuk ‘sertifikat emas/perak’. Para pemilik uang menyimpan uangnya di bank pemerintah, pemerintah akan memberikan sertifikat bukti simpanan itu. Sertifikat itu kemudian bisa dijadikan alat tukar. Si A bisa membeli barang kepada si B dengan menggunakan sertifikat ini, lalu ketika si B butuh uang, dia bisa menyerahkan sertifikat ke bank dan menukarnya dengan koin emas/perak sesuai yang tertera di sertifikat.
Uang kertas ini secara bertahap diperkenalkan ke masyarakat dan dicetak terus-menerus untuk membiayai pengeluaran negara. Awalnya, saat itu ada cadangan emas di bank yang menjadi penjamin uang kertas itu, namun kelak, lama kelamaan, emas cadangan pun habis, sehingga pada akhirnya, uang kertas hanya uang kertas, bukan lagi ‘bukti’ penyimpanan cadangan emas di bank.
[Pertanyaan: mengapa uang kertas yang dijadikan jalan keluar? Jawabnya:
1) karena dgn uang kertas, segelintir orang bisa melakukan apa saja; misalnya, pemerintah bisa hidup mewah, yang tak mungkin bisa dilakukan bila hanya uang emas yang beredar; uang emas sangat terbatas dan hanya orang yang benar-benar bekerja dan punya sumber daya yang bisa memilikinya. Pemerintah korup tentu tak bisa bermewah-mewah dalam sistem uang emas, kecuali bila dengan terang-terangan menindas rakyat. Padahal, di era modern, penindasan dan perbudakan terang-terangan seperti zaman feodal dulu sudah tidak mungkin lagi dilakukan.
2) karena ada segelintir orang kaya yang bisa meraup kekayaan yang sangat-sangat-super banyak melalui sistem ini; selanjutnya akan dijelaskan pada bagian III “Sejarah The Fed”]
Tentu saja, prosesnya tidak mudah dan memakan waktu sangat panjang. Rakyat AS zaman itu sudah pasti tidak mau begitu saja dibodoh-bodohi: menyerahkan emas perak mereka untuk ditukar dengan kertas cetakan. Akhirnya pada 1933, dengan alasan untuk menyelamatkan perekonomian negara, Presiden Roosevelt menggunakan cara kekerasan: penyitaan emas-perak. Siapa saja yang menyimpan emas-perang dianggap kriminal dan terancam penjara dan denda. Transaksi harus menggunakan uang kertas. Semua kontrak bisnis yang menggunakan uang emas harus dikonversi ke uang kertas. Semua pemilik uang emas-perak harus datang ke bank untuk ditukar dengan sejumlah uang kertas. [Proses penyitaan emas ini juga dibarengi dengan indoktrinasi di sekolah-sekolah/universitas, karena pada era itu, sekolah di AS sudah dibawah kendali pemerintah. Rakyat AS didoktrin bahwa uang kertas sama baiknya dengan uang emas dan bahwa penyitaan emas adalah demi kebaikan rakyat.]
Setelah SEMUA uang emas ditarik, dan rakyat menggenggam uang kertas, bank pun melakukan devaluasi mata uang. Pemerintah AS lalu menjual sebagian emas yang disita dari rakyatnya itu kepada pasar internasional (tentu dengan melalui bank), dengan harga yang lebih mahal daripada harga beli dari rakyat. Pemerintah AS menerima uang kertas sebagai ganti emas yang ‘dirampok’ dari rakyat itu, lalu digunakan untuk membiayai roda pemerintahan (atau tepatnya, untuk membiayai kehidupan mewah para pejabat negara). Jelas ini adalah perampokan uang rakyat besar-besaran. Makanya dikatakan: sejak saat itu, rakyat AS dijajah oleh bank. Mereka harus bekerja keras, dibayar dengan uang kertas. Sumber daya alam –yang sejatinya milik rakyat- dieksplorasi (misalnya, emas dan minyak digali) lalu ditukar dengan uang kertas.
Pertanyaannya: siapa bank yang sedemikian berkuasa itu? Apakah benar-benar bank milik pemerintah AS? Jawabnya: baca di bagian III : Sejarah The Fed]
Selanjutnya, pada tahun 1944, AS menggagas sistem keuangan internasional yang disebut Perjanjian Bretton Woods. Perjanjian ini dihadiri 44 negara Barat ini sepakat bahwa negara-negara tidak lagi menggunakan emas sebagai alat transaksi internasional, melainkan dengan dollar yang di-back up oleh emas. Artinya, AS menjamin bahwa setiap uang kertas dollar yang dicetaknya, ada cadangan emas di bank dalam jumlah tertentu. Lalu, mengapa negara-negara adikuasa macam Inggris, Perancis, dll, mau menerima perjanjian ini? Pertama, karena saat itu mereka sedang dalam posisi lemah akibat Perang Dunia I-II. Kedua, karena bank AS saat itu memiliki cadangan emas terbanyak. Dengan demikian, negara-negara lain diminta percaya pada uang dollar karena bank AS menyimpan 2/3 emas dunia.
Kenyataannya, akhirnya AS tak mampu lagi (atau, saya curiganya, sudah didesain demikian oleh para penggagas uang kertas) mem-back up semua dollar hasil cetakan pabrik dengan uang (seperti dikatakan tadi, emas itu terbatas, uang kertas bisa dicetak semau pemilik percetakan). Akibatnya, pertukaran dolar dengan emas tidak lagi setara dengan harga pertukaran emas resmi yang disepakati di Bretton Woods. Pada tahun 1971, AS sepihak mengumumkan tidak lagi terikat pada Bretton Woods dan tidak lagi melakukan back-up emas terhadap dollar yang dicetaknya. Namun terlambat bagi dunia, dollar sudah merasuk ke seluruh penjuru dunia dan menjadi alat tukar utama transaksi internasional. Dunia sudah dicengkeram oleh penjajahan bank AS yang bisa seenaknya mencetak dollar. Pertanyaannya, siapakah sebenarnya bank yang mencetak dollar itu?
III. Sejarah The Fed
Satu-satunya lembaga yang ‘berhak’ mencetak dollar adalah bank bernama The Fed (Federal Reserve Bank). Ironisnya, ternyata bank ini bukan bagian/milik pemerintah AS. Bank itu murni bank swasta, bahkan dimiliki bukan oleh orang AS, melainkan klan konglomerat Yahudi-Zionis, bernama Rothschild dan rekan-rekannya (antara lain: Rothschild Bank of London, Rothschild Bank of Berlin, Warburg Bank of Hamburg, Warburg Bank of Amsterdam, Israel Moses Seif Bank of Italy, Lazard Brothers of Paris, Citibank, Goldman & Sach of New York, Lehman & Brothers of New York, Chase Manhattan Bank of New York, dan Kuhn & Loeb Bank of New York.)
Awalnya pada 1837-1862 AS punya bank pemerintah yang mencetak uang (sertifikat emas/perak, seperti sudah diceritakan sebelumnya). Secara bertahap, uang kertas diperkenalkan kepada masyarakat dan menjadi alat tukar pengganti koin emas/perak. Lalu, pada tahun 1913, Rothschild dkk membentuk The Fed. The Fed memiliki cadangan emas yang sangat banyak, sehingga mampu meminjamkan uang yang sangat besar kepada pemerintah AS. Kandidat-kandidat presiden AS dibiayai kampanye mereka oleh The Fed, dan setelah berkuasa, para presiden itu mengeluarkan keputusan/UU yang menguntungkan The Fed. Dimulai dari Presiden Woodrow Wilson, pada tahun 1914 menandatangani keputusan memberikan hak cetak mata uang AS kepada The Fed. Pemerintah mendapatkan uang kertas produksi The Fed dalam bentuk hutang yang harus dibayar kembali beserta bunganya. Rakyat AS dipaksa membayar pajak untuk membayar bunga tersebut.
Kelak Wilson menyesali keputusannya ini dan berkata, “Saya adalah orang yang paling tidak bahagia. Saya telah menghancurkan negara saya. Sebuah bangsa industri yang besar ini dikontrol oleh sistem kredit. Sistem kredit kita terkonsentrasi. Pertumbuhan bangsa ini dan seluruh aktivitas kita berada di tangan segelintir orang. Kita telah menjadi pemerintah yang paling diatur, dikontrol, dan didominasi di dunia modern. [Kita] tidak lagi pemerintah yang memiliki pandangan yang bebas, pemerintah yang diakui, yang dipilih oleh suara mayoritas, melainkan pemerintah yang dikontrol oleh opini dan paksaan sekelompok kecil orang yang mendominasi.”
(“I am a most unhappy man. I have unwittingly ruined my country. A great industrial nation is controlled by its system of credit. Our system of credit is concentrated. The growth of the nation, therefore, and all our activities are in the hands of a few men. We have come to be one of the worst ruled, one of the most completely controlled and dominated governments in the civilized world. No longer a government by free opinion, no longer a government by conviction and the vote of the majority, but a government by the opinion and duress of a small group of dominant men.”)
Pada tahun 1933, menyusul terjadinya krisis moneter, Presiden Roosevelt yang juga kampanyenya didanai The Fed, melakukan aksi penyitaan emas rakyat dan menyerahkannya kepada The Fed sehingga dollar benar-benar menjadi mata uang AS dan uang emas/perak tidak digunakan lagi.
Tentu tidak semua presiden AS sebodoh Wilson atau Roosevelt, sehingga mau menukar kedaulatan negara dengan uang bantuan kampanye. Presiden F Kennedy pernah berusaha melepaskan AS dari jeratan The Fed dengan membuat rencana penerbitan mata uang sendiri. Namun, sebelum rencananya terlaksana, dia sudah mati dibunuh. Presiden-presiden sebelumnya, dan para politisi dan ekonom AS pun sudah banyak yang memperingatkan bahaya penyerahan hak cetak dollar dan hak pendistribusiannya kepada bankir swasta; namun suara-suara itu lenyap begitu saja, seiring dengan terus berlanjutnya proses indoktrinasi sistem ekonomi uang kertas di kalangan akademisi seluruh dunia.
Situasi ini dijelaskan sendiri oleh Rothschild pada tahun 1863, “Sedikit orang yang memahami sistem ini sangat tertarik pada keuntungan sistem ini atau sangat memiliki ketergantungan pada sistem ini, sehingga tidak akan ada perlawanan dari mereka” (“The few who understand the system, will either be so interested from it’s profits or so dependant on it’s favours, that there will be no opposition from that class.”)
Meluasnya penggunaan dollar di dunia, dan dijadikannya dollar sebagai standar mata uang dunia (contoh: harga2 di Indonesia selalui dikaitkan dengan dollar, dollar naik, harga barang di Indonesia juga naik) membuat The Fed kini pada hakikatnya adalah penjajah dunia, termasuk rakyat AS sendiri. The Fed leluasa mencetak dollar, dan rakyat sedunia memberikan kekayaan alam dan keringat mereka untuk ditukar dengan dollar. Contohnya Indonesia, karena pemerintah Indonesia mau saja dibodoh-bodohi menerima hutang dollar; untuk membayarnya, digunakanlah uang pajak hasil keringat rakyat dan dengan menjual sumber daya alam.
IV. Kemana Uang The Fed Mengalir?
Pertanyaan akhir, buat apa klan Rothschild dan kroni-kroninya itu mengeruk kekayaan dari seluruh penjuru dunia? Masih kurang kayakah mereka? Kapankah mereka akan bisa terpuaskan?
Jawabnya:
1. Kalau kita kembali pada Al Quran (AlHumazah:2-3), mereka inilah yang disebut “orang yang mengumpulkan uang dan menghitung-hitungnya; dan mengira bahwa hartanya itu akan mengekalkan dirinya.”
Mereka terus-menerus mengumpulkan uang, dengan menghalalkan segala cara, termasuk dengan menjajah secara terang-terangan, atau menjajah melalui sistem uang kertas, demi mempertahankan keabadian diri dan keluarga mereka di muka bumi. Dan inilah ujian bagi manusia yang beriman: mau terus tunduk di bawah penjajahan manusia-manusia jenis ini, atau bergerak, bergerak, bergerak, berjuang membebaskan diri dan menciptakan keadilan di muka bumi.
2. Kalau mau diperdalam lagi pembahasannya: Rothschild adalah Yahudi-Zionis yang punya impian untuk membangun Israel Raya. Israel mengenang Baron Edmond James (Avrahim Binyamin) de Rothschild (1845-1934) sebagai “Father of the Settlement”. Dialah yang pertama kali memulai proyek permukiman Israel dengan membeli tanah-tanah di Palestina untuk kemudian dihuni oleh imigran-imigran Yahudi dari berbagai penjuru dunia. Impian Edmond Rothschild ini diteruskan oleh keturunannya (bahkan, darah klan Rothschild tetap ‘murni’ hingga sekarang karena ada aturan ketat tentang pernikahan dalam keluarga itu). Ketika jumlah penduduk Yahudi sudah cukup signifikan, dengan uangnya, klan Rothschild menggunakan segala macam cara untuk menekan wakil-wakil negara-negara anggota PBB sampai mereka akhirnya pada tahun 1947 menyetujui Resolusi 181 yang merampas 56,5% wilayah Palestina untuk dijadikan negara Israel. Hingga kini, biaya operasional Israel masih terus disuplai oleh AS (dan siapa sesungguhnya pemilik uang di AS, dan bagaimana uang itu dikeruk, sudah terjawab di uraian di atas). Oya, ingat juga fakta bahwa Deklarasi Balfour 1917 -yang berisi kesepakatan Inggris untuk menyiapkan tanah air bagi bangsa Yahudi- disampaikan secara resmi oleh Menlu Inggris kepada Walter Rothschild (anak Edmon Rothschild).
Jasa Edmond Rothschild diabadikan dalam uang koin emas Israel yang dimanai “Koin Hari Kemerdekaan” berikut ini:
foto Baron Rothschild bertulisan aksara Hebrew “Father of the Jewish Settlement"
Bagian depan: foto Baron Rothschild bertulisan aksara Hebrew “Father of the Jewish Settlement”.
Bagian belakang: lambang negara Israel dengan tulisan di bawahnya “Baron Edmond de Rothschild”, “1845-1934″ (masa hidup Edmond Rothschild), “Centenary of His First Settlement Activities in Eretz Israel”. Kata “Israel” ditulis dalam huruf Hebrew, Inggris, dan Arab. Tahun penerbitan mata uang ini adalah 1982.
V. Penutup
Jadi menurut pendapat pribadi saya, inilah esensi Hubungan Internasional yang sesungguhnya: dunia ini berjalin berkelindan, tak ada manusia/bangsa yang benar-benar hidup sendirian, semua saling terkait dan terpaut, dan karenanya umat manusia seharusnya berjalan bersama, berjuang bersama mencapai kesadaran diri (emansipasi), dan memandang dunia secara jernih supaya bisa melihat bahwa sebagian besar penduduk dunia ini saat ini sedang ditindas oleh segelintir lainnya. Dan karenanya, masihkah ada lagi yang harus bertanya: mengapa kita orang Indonesia musti membela Palestina, bukankah lebih baik mengurusi korban Lapindo? Lihatlah, siapa yang ada di balik semua ini dan bergeraklah! Minimalnya, bergeraklah dengan cara menyebarluaskan penyadaran dan pencerahan, melalui sikap sehari-hari (misalnya, mulai bersikap independen dan tidak lagi selalu berorientasi uang dalam menjalani hidup), kata-kata, atau tulisan.[Dina Y. Sulaeman]
Catatan:
-Bila berkenan, silahkan disebarkan, tak perlu pakai izin
-Kalau masih ada yang belum dipahami/masih ada loncatan logika, please feel free to inform me, untuk penyempurnaan artikel ini
-Sumber foto koin Israel: http://www.sweetliberty.org/issues/israel/roth-israel.html

Sumber : http://politik.kompasiana.com/2010/09/18/ekonomi-politik-global-dominasi-dollar-penjajahan-the-fed-penjajahan-israel-atas-palestina/

Sunday, 18 December 2011

Bintang Daud , Cincin Sulaiman atau Bintang Goloka?

Bintang Daud , Cincin Sulaiman atau Bintang Goloka?


Kali ini saya tidak melakukan penelusuran suatu Mitos atau Misteri, tapi hanya menampilkan simbol simbol Bintang Daud yang tersebar di dunia. Apakah kalian berpikir bahwa Israel saja yang memiliki simbol hexagram ini? tentu saja tidak, tapi dimana kita bisa melihat Bintang Daud lainnya?

Sab-kona, simbol Goloka, tempat tinggal Krisna


Sab-kona Bintang Goloka atau Goloka-Yantra, tercatat sejarah dalam Weda dan kebudayaan kuno lainnya, juga dipatri dalam peninggalan sejarah Kristen dan Islam, dan akhirnya di adopsi keyakinan Yahudi di abad ke-17 sebagai simbol populer Yudaisme.
Simbol yang menjadi bagian dari sejarah peradaban besar di dunia tanpa kecuali, Bintang Daud atau David Star kita menyebutnya. Tapi sebelum simbol ini muncul di dunia Barat, Bintang Daud disebut Sab Kona dan sudah ada di jantung spiritualitas di India.
Sab-Kona mendefinisikan sebuah bintang bersudut enam mewakili ruang suci. Dibangun dengan menggabungkan dua segitiga sempurna, segitiga yang menghadap keatas disebut Purusa dan yang menghadap kebawah disebut Prakarti.
Dalam literature Weda yang di tulis bahwa Sri Brahma Samhita tinggal di Goloka.
Sudarsana Sab-Kona
Baiklah, sekarang kita lihat dimana saja bisa kita temukan simbol Bintang Daud atau Sab Kona ini.

1.Sumeria
Museum Vorderasiatisches di Berlin menampilkan beberapa segel silinder dari abad 2500 SM, dihiasi dengan simbol langit yang menggambarkan bintang-bintang dengan enam, tujuh, delapan dan segi. Bintang-bintang muncul di sana dalam konteks astrologi atau dalam konteks astronomi. Di antaranya ada lingkaran dikelilingi oleh enam segitiga.

2.Assyria
Lihat disebelah kanan, klik gambar untuk lebih jelas. Black Obelisk' dari Shalamaneser III di Irak, obelisk ini di dirikan di kota Asiria, Nimrud sebagai monumen publik tahun 825 Sebelum Masehi pada waktu perang saudara.

3.Minos
Di Museum Heraklion di Kreta ada Piringan Phaestos kuno terbuat dari tanah liat dibakar. Piringan ini memiliki banyak ukiran. Salah satu ukirannya adalah lingkaran dengan enam titik dalam bentuk hexagram dengan titik ketujuh di tengah, bentuk Hexagram bisa kalian lihat jika menghubungkan titik titik itu dengan sebuah garis. Piringan ini berasal dari 1700 Sebelum Masehi.

4.Carthage atau Tunisia
Koin ini ditemukan di Carthage (modern: Tunisia di Afrika Utara) yang memiliki lambang hexagram disebut koin Fenisia dari abad ke 5 SM.

5.Jepang
The Crest Kagome dapat ditemukan di beberapa kuil Shinto tertua di Jepang berasal dari abad ke-5 SM. Di Kuil Utama Ise yang dibangun untuk Gedung Kekaisaran Jepang, simbol hexagram ini diukir pada semua lampu di sepanjang jalan menuju ke kuil.

6.Yunani
Berasal dari 560 SM, bisa dilihat di Metropolitan Museum of Art in New York yang menyimpan sebuah "Terracotta Drinking Cup" dari Yunani. Bentuk hexagram bisa juga dilihat jika menambahkan garis dari lengan , kaki, lengan dan lutut, kepala, lutut. 

7.Sri Lanka
ditemukan di Kataragama di Srilanka, sebuah situs ziarah yang terkenal untuk kepercayaan Hindu dan Buddha. Ukiran ini dari abad ke-3 SM. Dengan huruf Tamil 'Om' di tengah bisa di lihat di Museum für Völkerkunde, Basel.

8.Israel
Capernaum
Beberapa Bintang David  kuno telah ditemukan di Israel tetapi semua itu berasal dari masa sebelum agama Yahudi benar-benar mengadopsi simbol ini untuk mewakili keyakinan mereka. Hexagram juga ditemukan terukir pada guci guci Gibeon, Israel yang berasal dari akhir masa Kuil Pertama Kerajaan Israel ,  yaitu abad ke 6SM. Namun, arkeolog mengatakan bahwa bisa saja ini adalah salinan lambang Thasos dan Carthago dari Yunani yang berfungsi untuk menandai anggur. Hexagram lainnya telah ditemukan di Caperneum tapi itu mungkin milik kuil Romawi. Pada dinding sebuah kamar di Meggido juga ada ditemukan hexagram jika ditarik dengan garis dan berasal dari abad ke-8 SM.
Hisam Palace Israel
Hisam Palace,Yerikho memiliki hexagram dengan ukuran yang sangat besar dan paling terkenal di Israel, Hisam's Palace dibangun oleh Penguasa Muslim Al-Walid bin Yazid yang membangun istananya pada 743 CE.

9.Mesir
Perhatikan simbol hexagram pada logam pemberat timbangan yang hampir pudar,ini berasal dari abad ke 2 SM.
Guci kaca dari Arab ini berasal dari 1000CE.

10.Romawi
Bardo Tunisia, Roman Mosaic
Cyprus, Roman Mosaic
11.Meksiko
Simbol ini di ambil dari Benteng  Uxma Maya di Meksiko yang menunjukkan beberapa contoh yang menyerupai hexagram. Para sarjana Mesoamerika menyakini simbol ini mewakili matahari. Benteng Uxma dibangun sekitar 700 CE. Berikut formasi aslinya
dan klik disini untuk zoom in
12.Lebanon
Sebuah cincin dari abad ke 7 SM ditemukan di reruntuhan kota Sidon Fenisia, sayang sekali saya tidak menemukan gambar cincinnya.

13.India
Perisai Kaisar Akbar
Juga di India, Istana Hisam dari Kekaisaran Moghul, Kaisar Akbar (abad ke-16 Masehi) berkuda ke medan pertempuran dengan simbol hexagram pada perisai kebanggaannya.

Masih banyak lagi simbol hexagram, diantaranya ada pada simbol Alchemy dari abad ke 5 hingga ke 17.
hexagram terdiri dari dua segitiga sempurna ini juga mewakili laki laki (segitiga keatas) dan wanita untuk segitiga kebawah. Namun dalam alchemy di abad ke 5-15 selalu diartikan sebagai enam buah planet yang mengelilingi matahari ditengahnya atau mewakili unsur api dan air juga mewakili bumi dan langit.
Simbol Alchemist abad 17
Simbol universal mewakili seni Alchemist bagi Muslim, Kristen dan Yahudi sebagai representasi dari kombinasi berlawanan dan transmutasi.
Kalian pasti kenal simbol ini, ya simbol Freemason di sebuah penginapan Mason di Edinburgh
Kuil Hanuman di Kathamandu dan sebuah hexagram pada pintu bangunan di Istanbul
Dan akhirnya Cincin Sulaiman yang terkenal itu, 
Solomon Ring
Waaah ternyata ada banyak tempat yang memiliki simbol hexagram ini dan memiliki banyak nama berbeda pula, begitu juga keyakinan yang dibawanya. Lalu bagaimana dengan Solomon Ring? Pasti banyak yang sudah mengetahuinya, disini saya hanya mengambil garis besarnya saja. Tapi jika saya harus menuliskan kisahnya maka judul tulisan harus saya ubah menjadi "Kuil Kuil Solomon " dan itu membutuhkan waktu agak lama untuk menulisnya.

Kisah Solomon Ring

Sebagian orang mengatakan bahwa ini adalah kisah mitos, yang dimulai ketika Daud  membunuh raksasa dari Filistin yaitu Goliath. Daud menjatuhkan Goliath dengan batu bertali dan memenggal kepala raksasa itu. Lalu Daud dipromosikan menjadi komandan pasukan Raja Saul dan menikah dengan wanita dari keluarga raja. Kemudian Saul tewas dalam pertempuran dan Daud menjadi Raja dan mitos yang mengatakan bahwa Tuhan melindungi Daud dalam banyak pertempuran. Simbol Cincin Daud telah diadopsi oleh orang-orang Yahudi untuk mewakili perlindungan atau perisai yang disediakan Allah bagi Daud.
Raja Daud digantikan oleh anaknya Salomo. Mitos kuno menyebutkan bahwa Raja Salomo memiliki cincin berkekuatan magis. Mitos tentang Ring of Solomon terutama dikembangkan oleh penulis Arab yang mengklaim bahwa Allah memberikan cincin itu kepada Salomo. Cincin ini dikatakan memiliki nama Allah terukir di atasnya. Tapi hal  ini menimbulkan masalah dengan komunitas Yahudi karena hukum Yahudi melarang orang Yahudi untuk menulis nama Allah. Pada abad Pertengahan Yahudi, legenda Kristen dan Islam percaya bahwa Raja Salomo memerintahkan setan dan berbicara dengan binatang oleh kekuatan cincin.

Suatu kisah narasi Arab menceritakan sisi lain cincin ini, seorang saudara perempuan Sulaiman diperdaya oleh Iblis agar Sulaiman mau memberikan cincin itu padanya(Sakhr) , Sakhr lalu memerintah kerajaan Sulaiman selama empat puluh tahun. Sedangkan Sulaiman sendiri pergi mengembara ke tanah yang miskin. Suatu ketika Sakhr membuang cincin ini ke laut untuk suatu alasan yang tidak diketahui, lalu seekor ikan memakan cincin ini dan seorang nelayan menangkapnya tanpa sengaja, ketika dilihatnya ada cincin Sulaiman didalam perut ikan, nelayan itu pun mempersembahkan cincin itu kembali kepada Sulaiman. Mengetahui cincinnya telah ditemukan dalam perut seekor ikan, Sulaiman lalu kembali ke Kerajaan dan menghukum Sakhr. Ia meminta Sakhr membangun sebuah Masjid yang disebut Masjid Agung Sulaiman.

Apakah benar begitu asal usul Simbol Bintang David ini? sebab ada banyak versi yang mengulasnya. Kebenaran kembali ke tangan anda.
 

Wikipedia

Search results

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907