Monday, 16 February 2015

Tujuh Saptama-Kala dalam zaman Kali-Sangara


Prabu Jayabaya menulis ramalan Pulau Jawa sejak ditanami yang kedua hingga kiamat, dengan waktu lamanya 2.100 tahun matahari. Ramalan yang kemudian disebut Tri-takali. Dalam rentang waktu tersebut, Jayabaya membagi pulau Jawa dalam tiga zaman, yakni :

1. Zaman permulaan yang disebut Kali-swara, lamanya 700 tahun matahari atau 721 tahun bulan.
2. Zaman pertengahan yang disebut Kali-Yoga, banyak perubahan pada bumi, bumi membelah menyebabkan terjadinya pulau kecil-kecil, banyak makhluk yang salah jalan karena orang yang mati banyak menjelma/nitis.
3. Zaman terakhir adalah zaman yang disebut Kali-Sangara, lamanya 700 tahun. Dimana banyak hujan salah mangsa serta banyak kali dan bengawan yang bergeser, bumi kurang bermanfaat, menghambat datangnya kebahagiaan, mengurangi rasa terima, sebab manusia yang mati banyak yang tetap memegang ilmunya.

Nah, dari tiga zaman tersebut, masing-masing dibagi menjadi Saptama-kala, artinya zaman kecil-kecil. Setiap zaman rata-rata berumur 100 tahun Matahari atau 103 tahun bulan. Dari tiga zaman yang diramalakan Jayabaya tersebut, jika dikontekskan dengan kondisi Indonesia era prakemerdekaan sampai sekarang, maka Indonesia menurut ramalan Jayabaya tersebut terdiri dari tujuh tahapan.

Adapun tujuh tahapan Indonesia itu berada pada zaman akhir atau zaman ketiga dalam rentang waktu 2.100 tahun matahari ramalan Jayabaya, yakni zaman Kali-Sangara.

Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa setiap zaman dibagi menjadi Saptama-Kala. Begitu pula zaman Kali-sangara yang juga dibagi menjadi Saptama-Kala yang terdiri dari tujuh zaman, yaitu :
1. Zaman Kalajangga
2. Zaman Kalasakti
3. Zaman Kalajaya
4. Zaman Kalabendu
5. Zaman Kalasubha
6. Zaman Kalasumbaga
7. Zaman Kalasutra


Itula ketujuh zaman Kali-Sangara ramalan Jayabaya yang berlaku di Indonesia yang dimulai dari era prakemerdekaan hingga sekarang.

TUJUH TAHAPAN INDONESIA MENURUT SERAT JAYABAYA

Dalam serat Jayabaya, kehidupan Nusantara (Indonesia) sejak lahir hingga berakhir, seluruhnya terbagi dalam tujuh jaman :

1. Kalajangga (Jaman Pujangga)
Banyak yang mengibaratkan jaman ini adalah jaman di masa sebelum kemerdekaan, dimana banyak muncul para pujangga yang melahirkan karya-karya besar.


2. Kalasakti
Jaman ini dianggap jaman yang mengiringi munculnya tokoh-tokoh sakti yang memerdekakan Indonesia. Hanya dengan senjata bambu runcing mampu mendesak pasukan penjajah hingga pemimpin bangsa bisa memerdekakan Indonesia.


3. Kalajaya
Jaman kestabilan dan keunggulan bangsa. Pertumbuhan ekonomi nasional bangkit dan berkembang pesat. Namun bayangan para pejabat yang korupsi mulai menghantui, hingga Indonesia mulai menumpuk hutang.


4. Kalabendu
Kala=jaman, bendu=marah, artinya dimana orang mudah marah, saling memaksakan kehendak dan melakukan berbagai tindakan kekerasan. Di tengah situasi pelik, muncul Satria Wirang yang mencoba mengarahkan Indonesia ke jalan yang benar. Satria Wirang artinya tokoh yang sering terlunta-lunta akibat pemerintah terdahulu namun kemudian bangkit sebagai pemimpin.


5. Kalasubha (Jaman sukaria)
Berkat doa rakyat yang teraniaya, akhirnya Sang Khaliq memberi awal kebahagiaan lewat kemunculan Satrio Paningit yang membawa bangsa dari jurang kehancuran.


6. Kalasumbaga (Jaman Ketenaran)
Indonesia dipimpin figur yang membawa pengaruh tingkat dunia dan berjuluk Satrio Lelono (artinya pemimpin yang sering melakukan lobi tingkat dunia) sehingga Indonesia makin berpengaruh di mata dunia internasional.


7. Kalasutra (Jaman Kebijaksanaan)
Setelah ketenaran didapat, Indonesia memasuki jaman kebijaksanaan dan dipimpin Satrio Pinandhito yaitu pemimpin yang berjiwa bagaikan seorang begawan atau ulama. Unsur kebijaksanaan dan nilai moral Indonesia kuno digali kembali dan diterapkan dalam setiap aspek pemerintahan sehingga Indonesia menjadi negara yang damai sejahtera


Link terkait : http://indonesian-treasury.blogspot.com/2014/06/cakra-manggilingan-titik-balik.html

Sumber : 
1. http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2014/07/tujuh-saptama-kala-dalam-zaman-kali.html
2. https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=333191026723259&id=182284255147271

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907