Titimangsa

Titimangsa
Mendidik | Cerdas | Inovativ

Tuesday, 18 March 2014

Jalur Langit dan Bumi




Jalur Langit dan Bumi

March 19, 2014 at 12:19pm


Al Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat manusia sampai akhir zaman, sampai sekarang apa yang dijanjikan Allahdalam surat Al Fath ayat 1-4, masih tetap berlaku bagi orang yang beriman. Ada 8 pesan yang terkandung dlam surat Al Fath ayat 1-4 diatas:

  1. Allah telah memberikan kemenangan yang nyata pada orang yang beriman
  2. Allah akan mengampuni dosa mereka yang telah lalu dan yang akan datang
  3. Allah akan menambahkan berbagai kenikmatan bagi mereka diatas kenikmatan yang sudah ada
  4. Allah akan menunjuki mereka jalan yang lurus , yang penuh dengan rahmat dan berkahNya
  5. Allah akan menolong mereka dengan pertolongan yang dahsyat ari sisiNya
  6. Allah akan menurunkan ketenangan kedalam hati mereka
  7. Allah akan meneguhkan iman dan keyakinan mereka
  8. Allah yang memiliki tentara langit dan bumi, maha mengetahui dan maha bijaksana terhadap hamba hambaNya.


MANUSIA DAPAT menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi

Allah berfirman menantang manusia dan jin:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

“Hai bangsa jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. (Ar-Rahman:33)


Adam dan Hawa turun ke bumi
Adam dan Hawa kemudian diturunkan ke Bumi dan mempelajari cara hidup baru yang berbeda jauh dengan keadaan hidup di surga. Mereka harus menempuh kehidupan sementara dengan beragam suka dan duka sambil terus menghasilkan keturunan yang beraneka ragam bentuknya.
  1. Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. (Q.S.Al-Baqarah [2]:36)
  2. Turunlah kamu dari syurga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.


Nabi Isa diangkat ke langit
Muslim menyangkal adanya penyaliban dan kematian atas diri Isa ditangan musuhnya. Al-Qur'an menerangkan Yahudi mencari dan membunuh Isa, tetapi mereka tidak berhasil membunuh dan menyalibkannya. Isa diselamatkan oleh Allah dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan disuatu tempat yang hanya Allah SWT yang tahu tentang hal ini. Al Qur'an menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini.

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya, dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa':158) ”


Nabi Isa Turun kembali ke bumi
Dari keterangan hadist Muhammad diceritakan bahwa menjelang hari kiamat/akhir zaman Isa akan di turunkan oleh Allah dari langit ke bumi.


Hadits tentang Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW
Riwayat tentang perjalanan malam Nabi dan diangkatnya beliau ke langit untuk bertemu langsung dengan Allah dan menerima perintah kewajiban shalat di lima waktu terdapat dalam Kitab Hadits Shahih milik Imam Muslim


MENGENAL TENTARA ALLAAH LANGIT dan BUMI

وَلِلّهِ جُنُوْدُ السَّمَاوَاتِ وَ الأَرْضِ  وَكَانَ اللهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا (سورة الفتح

….dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi[1394] dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Surat Al Fath ayat 4)



”BALA TENTARA 1000 (Seribu) MALAIKAT”

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Bismillaahirrohmaanirrohim,Idz tastaghiisyuuna robbakum fa’astajaaba lakum annii mumid-dukum bi’alfim-minal malaa’ikati murdifiin, Wamaa ja’alahulloohu illa busyro awalitath ma’innabihi quluu bukum,Wamaa annashru illa min indillaah, innallooha aziizun hakiim.(Surat Al-Anfaal : 9-10).

Artinya:(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu:”Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”, Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.


”BALA TENTARA 3000 (Tiga Ribu) MALAIKAT”

إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَنْ يُمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلَاثَةِ آلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُنْزَلِينَ

Bismillaahirrohmaanirrohim,Idz taquulu lil mu’miniina alay-yakfiyakum ayyumiddakum robbukum bitsalaatsati aalaafim-minnal malaa’ikati munzaliin. (Surat Al-Imron : 124).
Artinya: (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”


”BALA TENTARA 5000 (Lima Ribu) MALAIKAT”

إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَنْ يُمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلَاثَةِ آلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُنْزَلِينَ

Bismillaahirrohmaanirrohim,Balaa in-tashbiruu watat-taquu wayaatuukum min faurihim haadzaa yumdidkum robbukum bikhomsati aalaa fim-minal malaa’ikati musawwimiin (Surat Al-Imron : 125).
Artinya: Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.


”BALA TENTARA (70 Ribu) MALAIKAT”

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Bismillaahirrohmaanirrohim,Lau anzalnaa haadzal qur’aana alaa jabalil laro’aitahuu khoosyi’am mutashod-di’am min khosyyatil-laah, Wa tilkal amtsaalu nadhribuhaa lin-naasi la’al-lahum yatafak-karuun. Huwalloohul-ladzii laailaahaillaa huwa aalimul ghoibi wasy-syahaadah huwar-rohmaanur rohiim. Huwalloohul-ladzii laailaahaillaa huwa almalikul qud-duusus salaamul mu’minul muhaiminul aziizul jabbaarul mutakabbir,Suhaanalloohi amma yusyrikuun, Huwalloohul khooliqul baari’ul mushowwiru lahul asmaa’ul husnaa, Yusabbihu lahuu maa fissamaawaati wal ardhi wahuwal aziizul hakiim.(Surat Al-Hasyr : 21,22,23,24)

Artinya: Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir, Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Dialah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan, Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.


 
ALLAH SWT AKAN MENURUNKAN NABI ISA DARI LANGIT UNTUK MEMBUNUH DAJJAL


Kemunculan Imam Mahdi 
“Al-Mahdi berasal dari umatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah) ”

Kemunculan Imam Mahdi akan di dahului oleh beberapa tanda-tanda sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadist:

Mahdi akan muncul ketika banyak perselisihan antar manusia dan banyaknya gempa.“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad 10898)

Baitullah akan diserang oleh suatu pasukan, tetapi bagian tengah pasukan tersebut akan ditelan bumi.
  1. Aisyah berkata, "Pada suatu hari tubuh Rasulullah bergetar dalam tidurnya. Lalu kami bertanya, 'Mengapa engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan wahai Rasulullah?' Rasulullah menjawab, 'Akan terjadi suatu keanehan, yaitu bahwa sekelompok orang dari umatku akan berangkat menuju Baitullah (Ka'bah) untuk memburu seorang laki-laki Quraisy yang pergi mengungsi ke Ka'bah. Sehingga apabila orang-orang tersebut telah sampai ke padang pasir, maka mereka ditelan bumi.' Kemudian kami bertanya, 'Bukankah di jalan padang pasir itu terdapat bermacam-macam orang?' Beliau menjawab, 'Benar, di antara mereka yang ditelan bumi tersebut ada yang sengaja pergi untuk berperang, dan ada pula yang dipaksa untuk berperang, serta ada pula orang yang sedang berada dalam suatu perjalanan, akan tetapi mereka binasa dalam satu waktu dan tempat yang sama. Sedangkan mereka berasal dari arah (niat) yang berbeda-beda. Kemudian Allah SWT akan membangkitkan mereka pada hari berbangkit, menurut niat mereka masing-masing." (HR. Bukhary, Muslim)
  2. ^ Telah bersabda Rasullah: "Sungguh, Baitullah ini akan diserang oleh suatu pasukan, sehingga apabila pasukan tersebut telah sampai pada sebuah padang pasir, maka bagian tengah pasukan itu ditelan bumi. Maka berteriaklah pasukan bagian depan kepada pasukan bagian belakang, dimana kemudian semua mereka ditenggelamkan bumi dan tidak ada yang tersisa, kecuali seseorang yang selamat, yang akan mengabarkan tentang kejadian yang menimpa mereka. (HR. Muslim, Ahmad, Nasai, dan Ibnu Majah)
  3. ^ "Suatu kaum yang mempunyai jumlah dan kekuatan yang tidak berarti akan kembali ke Baitullah. Lalu diutuslah (oleh penguasa) sekelompok tentara untuk mengejar mereka, sehingga apabila mereka telah sampai pada suatu padang pasir, maka mereka ditelan bumi." (HR. Muslim)

Seseorang akan dibaiat di antara makam Ibrahim dengan sudut Kabah.
  1. ^ “Akan terjadi perselisihan setelah wafatnya seorang pemimpin, maka keluarlah seorang lelaki dari penduduk Madinah mencari perlindungan ke Mekkah, lalu datanglah kepada lelaki ini beberapa orang dari penduduk Mekkah, lalu mereka membai’at Imam Mahdi secara paksa, maka ia dibai’at di antara Rukun dengan Maqam Ibrahim (di depan Ka’bah). Kemudian diutuslah sepasukan manusia dari penduduk Syam, maka mereka dibenamkan di sebuah daerah bernama Al-Baida yang berada di antara Mekkah dan Madinah.” (HR Abu Dawud 3737)
  2. ^ Telah bersabda Rasulullah SAW: "Akan dibaiat seorang laki-laki antara makam Ibrahim dengan sudut Ka'bah." (HR. Ahmad)


Suatu pasukan yang datang dari negeri Syam menuju Baitullah untuk mengejar seorang lelaki yang dilindungi oleh Allah.

 Telah bersabda Rasulullah SAW: "Suatu pasukan dari umatku akan datang dari arah negeri Syam ke Baitullah (Ka'bah) untuk mengejar seorang laki-laki yang akan dijaga Allah dari mereka. (HR. Ahmad)


Allah SWT akan menurunkan Nabi Isa dari langit untuk membunuh DAJJAL
  1. Kemenangan demi kemenangan yang diraih Imam Mahdi dan pasukannya[14] akan membuat murka raja kezaliman (Dajjal) sehingga membuat Dajjal keluar dari persembunyiannya dan berusaha membunuh Imam Mahdi serta pengikutnya.
  2. Kekuasaan dan kehebatan Dajjal bukanlah lawan tanding Imam Mahdi oleh karena itu sesuai dengan takdir Allah, maka Allah SWT akan menurunkan Nabi Isa dari langityang bertugas membunuh Dajjal. Imam Mahdi dan Nabi Isa akan bersama-sama memerangi Dajjal dan pengikutnya, hingga Dajjal mati ditombak oleh Nabi Isa di "Pintu Lud" dalam kompleks Al-Aqsa.
 “Kalian perangi jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian Persia (Iran), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum (Romawi), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Dajjal, dan Allah beri kalian kemenangan.” (HR Muslim 5161)


Wassalam

Kang Ari Tea

Keterangan gambar hanya ilustrasi :

Saturday, 8 March 2014

Padjadjaran Anyar: U G A

U G A

Oleh : Nandang Rusnandar 
Penelitian yang mendalam mengenai ‘uga’ pada umumnya dan Uga Bandung pada khususnya masih terbatas sekali dilakukan, walaupun ada hanya sebatas tulisan lepas berupa artikel dalam media massa. Demikian juga halnya dengan penelitian yang secara khusus mengenai Uga Bandung sebagai Pengetahuan Orang Sunda dalam Memprediksi dan Mengantisipasi Fenomena Alam, belum ada yang melakukan penelitian. Penelitian yang dilakukan sebatas pengungkapan yang dituangkan dalam berbagai artikel dalam suratkabar, seperti yang dilakukan oleh Nina Herlina Lubis yang membahas mengenai Uga Kampung Dukuh.[1] Begitu pula dengan Surat Kabar lokal[2] menulis beberapa artikel sekaligus, di antaranya artikel yang berjudul Wangsit Siliwangi; dalam kolom Bray, Jakob Sumardjo mengungkapkan Uga mengenaiKepemimpinan Trias Politika Siliwangi yang diuraikan berdasarkan kajian hermeunetika.
Artikel lain yang berjudul Wangsit Siliwangi “Leubeut ku Siloka jeung Simbul” (Wangsit Siliwangi “penuh dengan siloka dan simbol”), hasil wawancara dengan Oman Abdurahman. Begitu pula penelitian yang dilakukan oleh Suwarsih Warnaen, dkk. (1987)Dalam bukunya yang berjudul Pandangan Hidup Orang Sunda Seperti Tercermin Dalam Tradisi Lisan dan Sastra Sunda, uraian mengenai Uga mulai dari halaman 5 (lima) sampai dengan halaman 17 (tujuh belas). Mereka mengungkapkan Uga secara umum di antaranya:
1) Uga Bandung : Sunda nanjung, lamun nu pundung tiBandung ka Cikapundung geus balik deui. (wawancara, 1980)
2) Uga galunggung : Sunda nanjung lamun pulung turun ti Galunggung. (wawancara, 1980)
3) Uga Banten : Nagara kartaraharja lamun lebak cawene geus kapanggih. (wawancara 1980)
4) Uga Kawasen : Urang kudu peperangan, dina keur nyieun jalan tengah di Gunung Kendeng, maung ngembang dadap di cai buhaya ngembang kaso. Dina keur peperangan kade kudu bareng jeung kolot, urang ulah hareup teuing bisi kaleyek, ulah tukang teuing bisi katinggaleun.
5) Ari nu bakal jadi ratu, baju butut bobodong batok, anu jolna ti gunung surandil, banderana kararas cau.[3]
Bagi masyarakat Banjar khususnya masyarakat yang berdomisili di daerah Lakbok, Uga Kawasen ini lebih dikenal dengan istilah Buk Kawasen. Dalam tradisi masyarakat Agraris-tradisional, baik di daerah Sunda (Jawa Barat) harapan yang disimpan dalam bentuk ramalan disebut Uga. Hal tersebut dikarenakan masyarakat percaya bahwa perubahan sosial akan terjadi sesuai dengan ramalan para karuhun. Bagi tradisi Jawa, dikenal dengan istilah pralambang,dengan adanya ramalan yang terkenal dengan sebutan Ramalan Jayabaya, dengan ramalan ini, mayarakat Jawa yang sangat mempercayai akan lahir dan datangnya Ratu Adil. Bagi kalangan masyarakat suku Bangsa di sekitar kepulauan Melanesia termasuk suku-suku bangsa di Irian Jaya, kepercayaan itu biasa disebut orang-orang barat dengan istilah cargo cult (Worsley, 1957; Koentjaraningrat, 1963, Suwarsih, 1987 :7)
Dalam penelitian yang diketuai oleh Suwarsih Warnaen, dengan anggota : Dodong Djiwapradja, H. Wahyu Wibisana, Kusnaka Adimihardja, Nina Herlina Sukmana, dan Ottih Rostoyati, diuraikan bahwa uga sebagai suatu ramalan ‘prophecy’ atau dalam bahasa Sunda disebut tujuman di dalamnya mengandung pengertian adanya ramalan ke arah perubahan sosial dan politik, ‘prophetic ideology’, dalam pengertian uga, juga terkandung faktor waktu yang sudah ditentukan oleh karuhun ’ leluhur’, dapat dipergunakan untuk melihat tanda-tanda zaman, dan dalam uga dapat dijadikan sebagai gerakan nativisme, yaitu gerakan sosial yang digerakkan oleh interpretasi yang ada di dalamnya. Untuk memahami apa yang ada dalam uga ini, maka cara menganalisis dan menginterpretasinya mempergunakan kata-kata kunci ‘key words’ yang terdapat dalam uga sehingga pada akhirnya makna dan arti uga itu dapat ditelusuri sesuai dengan makna yang ada dalam kata-kata itu sendiri dikaitkan dengan situasi sekarang.
Nina HL, jauh sebelumnya merupakan anggota peneliti yang diketuai oleh Suwarsih Warnaen, sehingga dalam uraiannya mengenai pengertian uga sama dengan apa yang diungkapkan dalam penelitian sebelumnya. Ia menyitir uga Dukuh sebagai berikut : Di ahir jaman bakal loba parahu. Urang Dukuh mah makena parahu belang “Di akhir zaman nanti akan terdapat banyak perahu. Orang Dukuh akan memakai perahu belang”. Dalam uraiannya, dapat disimpulkan bahwa Uga yang dipercayai oleh komunitasnya merupakan suatu harapan yang bersifat mesianistis, bisa menjadi kekuatan sosial yang mendorong ke arah tindakan-tindakan untuk mengubah situasi sehingga melahirkan gerakan sosial. Dengan Uga juga, sangat dipercaya bahwa perubahan sosial pasti akan terjadi sesuai dengan ramalan yang tersurat dan tersirat di dalamnya. Uga dapat diinterpretasikan sesuai dengan tingkat kepercayaan orang yang menginterpretasikannya. Bagi orang tua, Uga bisa untuk melihat ‘tanda-tanda zaman’, meramalkan adanya perubahan sosial dan politik pada masa yang akan datang di lingkungan mereka sendiri. Dan Uga sangat berhubungan dengan masalah waktu, waktu di sini sangat relatif kejadiannya. Namun bila sesuatu telah terjadi sesuai dengan kenyataan, maka ungkapan geus nepi kana uga-na, geus nepi kana waktu nu ditujum ku karuhun. ‘sudah sampai pada waktunya, sudah tiba pada saatyang diramalkan oleh leluhur’ merupakan jawaban dari kejadian itu.
Oman Abdurahman dalam wawancaranya, menyatakan bahwa untuk memahami uga, kita dapat mempergunakannya dengan akal dan pengetahuan bukan dengan hal-hal yang bersifat mistis, walaupun masyarakat pada umumnya sangat mempercayai bahwa uga dapat dipahami lewat hal-hal yang mistis. Ia mencontohkan cara pengurainya berdasarkan arti dan makna kata yang tersurat di dalamnya, sehingga dapat dimengerti ke mana arah dan tujuannya uga yang dimaksud tersebut. Seperti adanya kalimat pajajaran anyar dapat diartikan bahwa dewasa ini merupakan perkembangan dan perubahan sosial dalam sistem pemerintahan otonomi daerah. Sementara Jakob Sumarjo, sangat mempermasalahkan bahasa yang dipergunakan dalam uga yang ada sekarang ini. Apakah bahasa tersebut asli atau tidak ? Karena dilihat dari kata-kata yang dipergunakannya merupakan kata-kata yang dapat dikategorikan kata-kata sekarang. Jadi kesimpulannya bahwa kata-kata yang dipergunakan dalam Uga Wangsit Siliwangi bukan merupakan kata-kata yang diucapkan atau disampaikan langsung oleh raja Sunda pada waktu itu. Terlepas dari itu semua, bagi Jakob Sumardjo, dalam menafsir Wangsit Siliwangi ada yang mempergunakan akal sehat dan logika yang dikaitkan dengan sejarah dan perkembangan jaman, bahkan ada pula yang menafsir dengan cara mistis.
2.1.1 Pengertian Uga
‘Uga’ dengan bentuk lainnya yang ada di seantero dunia, sudah ada sejak dahulu kala. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan-ungkapan baik itu dari ajaran agama, ataupun folklor yang ada di setiap bangsa. Dalam istilah agama Islam disebut dengan ‘nubuat’ yang mengandung ramalan ke depan.
Dalam Kamoes Basa Soenda, dikatakan bahwa Oega nya eta waktoe parobahan, babakoena parobahan kaajaan nagara atawa bangsa (Moen geus nepi ka oegana, tangtoe tanah oerang merdeka “Uga adalah waktu perubahan terutama perubahan keadaan negara atau bangsa (pabila sudah sampai kepada uganya, tentu tanah air kita merdeka”(Satjadibrata, 1948 :249). Sedangkan dalam Kamus Basa Sunda, yang disusun oleh Lembaga Basa & Sastra Sunda (1980 : 547) dikatakan bahwa ugaberarti tujuan nu aya patalina jeung parobahan penting, babakuna parobahan kaayaan nagara atawa daerah; Geus nepi kana ugana, geus nepi kana waktuna nu ditujum ku karuhun ‘Suatu ramalan yang ada hubungannya dengan perubahan penting suatu negara atau daerah; Sudah sampai pada waktu yang ditetapkan nenek moyang’. KH. Hasan Mustafa (1890), dalam sebuah tulisannya memberikan pengertian uga yang lebih deskriptif bahwa:
Basa uga ditelahkeunana kana omongan anu méré béja piayaeun naon-naon kangeunahan atawa bancang pakéwuh (kasusahan) di ahir, tapi lain anu bangsa lahir, saperti kana tangkal caujaga bakaljantunganIeu jelema jagana bakal diruang; tapi kapakéna uga mah kanu moal kapanggih, tapi ku pikiran tahayulan jelema tangtu kapangih, ngan teu nyaho di urang kénéh atawa ku anak incu. Nu matak ari aya nu rada sarupa jeung taksiran sok diaoromongkeun ‘geus tepi ka ugana’ atawa ‘samorong ceuk uga’
Ari conto-contona omongan baheula,
“Jaga mah, barudak, sajajalana disaungan”. Béh karéta api.
“Gancang carita béja, mun geus aya balabar kawat”. Béh telegram.
“Jaga mah, barudak, batu turun keusik naék”. Béh anak somah naék pangkat, anak ménak teu pangkat.
“Jaga mah, barudak, ngateuran ka nu digawé gé mawa kéjo dina iteuk, nandakeun angker gawé” Béh nu dagang di pagawéan.
Kitu deui kana cacandran nagara, jaga mah barudak, Bandung heurin ku tangtung /…/ Éta gé jadi omong geus tepi kana ugana. Jeung sajaba ti éta loba deui uga geus tepi jeung nu acan, nurutkeun tahayul pikiranana, nu jadi basa jangji kudu ngabukti, subaya kudu mangrupa. Malum perkara tahayul ti unggal ati, anu keur ngarep-ngarep kaanéhan. (Rosidi, 1989 :350-351)
Artinya :
“Kata Uga diartikan terhadap pembicaraan mengenai berita tentang sesuatu yang akan terjadi baik berita yang baik ataupun berita bencana di suatu waktu nanti. Uga tidak diartikan berita sesuatu yang nyata, seperti “pohon pisang nantinya berjantung” atau “Manusia nantinya akan dikubur” Tapi Uga diartikan terhadap hal yang bersifat abstrak, dengan pemikiran yang dipercayainya, maka uga akan dapat dimengerti dan dirasakan. Tapi apakah uga itu dapat dirasakan langsung atau nanti oleh anak cucu. Maka bila ada yang sama dengan tafsiran selalu disebutkan ‘sudah sampai pada waktunya’ atau ‘sesuai dengan/kata ramalan’
Contoh-contoh uga :
“Anak-anak, kelak di akhir jaman, sepanjang jalan dinaungi’ Muncul Kereta.
“Berita yang cepat, bila ada berita kawat” Muncul Telegram.
“Anak-anak, kelak di akhir jaman, batu turun, pasir naik” Terbukti, anak cacah memiliki pangkat / terpandang, dan anak menak tidak berpangkat.
“Anak-anak, kelak di akhir jaman, memberi makan orang yang kerja dengan cara membawa nasi dengan tongkat”. Muncul atau adanya pedagang yang datang ke tempat kerja.
Begitu pual dengan cacandran / uga mengenai perjalanan negara “Anak-anak, kelak di akhir jaman, Bandung sesak dengan ‘tangtung’ /…/” Hal tersebut sudah terbukti ‘geus nepi kana ugana’. Ada banyak uga yang sudah terbukti dan yang masih belum terbukti, menurut kepercayaannya bahwa ‘janji harus terbukti,harapan harus nampak’ maklum kepercayaan datang dari setiap hati, manusia yang sedang menunggu datangnya keunikan”
Uga merupakan suatu keniscayaan atau kepastian, hal tersebut dikarenakan dalam pengertian yang terungkap pada anak kalimat geus nepi kana ugana ‘sudah sampai pada saatnya’. Dalam pengertian anak kalimat di atas dapat dilihat bahwa kejadian yang diharapkan sudah nampak di depan mata dan dialami sesuai dengan apa-apa yang diramalkan. Kesimpulan pengertian yang diberikan oleh beberapa informan mengenai Uga, adalah “ramalan yang diberikan oleh karuhun, mengenai apa yang akan terjadi di kemudian hari”. Dalam buku Diktat untuk murid-murid SGB yang berjudul Kasusastraan Sundadikatakan bahwa uga disebut juga Tjatjandran nya eta tjarita karuhun nu ngagambarkeun kaajaan nagara djst., nu bakal kasorang, saperti tjatjandran Djajabaja, atawa di urang aya oge kolot-kolot baheula geus njarebutkeun Sumedang ngarangrangan, galunggung ngadeg tumenggung, Sukapura ngadaun ngora, Bandung heurin ku tangtung, Tjiandjur katalandjuran, Tjiamis amis ku maneh, Banagara sor ka tengah ’Uga disebut juga cacandran yaitu ceritanenek moyang yang menggambarkan keadaan negara dan sebagainya yang bakal dialami, seperti cacandran masyarakat Sunda menurut orang tua dahulu sudah menyatakan bahwaSumedang ngarangrangan, galunggung ngadeg tumenggung, Sukapura ngadaun ngora, Bandung heurin ku tangtung, Tjiandjur kataladjuran, Tjiamis amis ku maneh, Banagara sor ka tengah.’
Istilah Uga bisa berasal dari kata ngayuga yang berarti membimbing atau duga ‘duga’. Dalam Kamoes Basa Soenda (1948 : 149) kata yoega berarti, naon-naon nu diwudjudkeun‘apa-apa yang diwujudkan’; ngayoegakeun berartingawudjudkeun, ngalahirkeun orok djeung ngadjaga kasalamateanana ‘mewujudkan, melahirkan bayi dengan menjaga keselamatannya’. Dalam ungkapan tradisional Sunda dikenal adanya ungkapan yang menyatakan fungsi orang tua dengan fraseIndung nu ngandung, bapa nu ngayuga ‘Ibu yang mengandung, Bapak yang membimbing dan menjaga keselamatannya’. Hubungan antara kata uga dan yuga, yaitu sama-sama mempunyai pengertian untuk membimbing dan menjaga keselamatan dari orang tua (karuhun) kepada ‘bayi’ dalam artian anak atau masyarakat. Dalam pengertian yang lebih luas bahwa uga merupakan suatu bimbingan dari karuhun kepada seuweu siwi ‘generasi yang akan datang’, karena dengan bimbingannya yang merupakan cecepengan‘pedoman hidup’ manusia kini dapat hidup dengan selamat. Suria Saputra, memberi pengertian mengenai uga sebagai berikut : Istilah Uga bisa jadi asal muasalnya tina kecap ‘Yuga’ atawa ‘duga’. Di Jawa Tengah boh di Tatar Sundaremen disebut ‘ogan’ saperti ‘ogan lopian’ (gambar lopian), nya éta jimat milik Batara Kresna, nu hartina ‘ramalan’.[4]
Uga terlahir dari sebuah cara berfikir karuhun berdasarkan kausalitet ‘sebab akibat’ yang dilatarbelakangi pola hidup agraris tradisional, sehingga melahirkan manusia-manusia yang weruh sadurung winarah ‘tahu akan kejadian-kejadian yang akan datang’, karena manusianya sudah legok tapak genteng kadek‘banyak pengalamannya’.
Berdasarkan pengertian di atas, bahwa uga merupakan suatutujuman atau ramalan ‘prophecy’ yang menyangkut kehidupan sosial dan politik di kalangan orang-orang Sunda. Dalam pengertian uga, juga terkandung faktor ‘waktu’ yang sudah ditentukan oleh karuhun. Suwarsih Warnaen, mengatakan bahwa uga sebagai suatu ramalan, tentu akan menimbulkan banyak interpretasi terhadap kata-kata yang digunakannya. Bahkan tidak jarang kata-kata yang terkandung dalam uga diartikan banyak orang secara harfiah atau secara kongkrit. Hal itu menyangkut sejauh mana keyakinan orang terhadap kebenaran ramalan yang terkandung dalam uga itu. Keadaan ini dapat menimbulkan frustasi bagi orang-orang yang mempercayainya, karena yang ditunggu sesuai dengan interpretasinya terhadap ramalan yang terkandung dalam uga tidak kunjung datang. Namun demikian, bagi orang-orang yang mempercayai kebenaran uga itu, mempergunakannya sebagai ‘prophetic ideology’ dalam usaha memahami pertanda zaman. Sebagai suatu ramalan maka uga cenderung untuk membicarakan hal-hal yang bersifat duniawi. Oleh karena itu, uga lebih mencerminkan pandangan hidup manusia (1987 : 5-8).
Dari uraian itu, dapat ditarik satu kesimpulan mengenai pengertian dan makna uga. Dalam kehidupan masyarakat Sunda uga dapat berarti sebuah ramalan atau prediksi mengenai perubahan dalam kehidupan baik yang berhubungan perubahan secara fisik, perubahan politik, ekonomi maupun kehidupan sosial lainnya dengan jangkauan waktu yang pasti terjadi. Bagi masyarakat Sunda, uga dapat bermakna sebagai pedoman dan bimbingan dalam menentukan langkah untuk menyongsong perubahan yang akan terjadi. Uga merupakan tradisi lisan, biasanya diucapkan dalam bentuk simbolisasi, sehingga untuk memaknainya memerlukan interpretasi berdasarkan 5S (lima S, silib-sindir, suluk, siloka, dan simbul) agar bentuk-bentuk simbol yang diterimanya itu tidak melenceng jauh dalam arti yang sebenarnya.
2.1.2 Uga Bandung sebagai Tradisi Lisan
Menurut Suripan Sadi Hutomo (1991 :11) dan Yus Rusyana (2006: 8) tradisi lisan itu mencakup beberapa hal, yakni (1) yang berupa kesusastraan lisan, (2) yang berupa teknologi tradisional, (3) yang berupa pengetahuan ‘folk’ di luar pusat-pusat istana dan kota metropolitan, (4) yang berupa unsur-unsur religi dan kepercayaan ‘folk’ di luar batas formal agama-agama besar, (5) yang berupa kesenian ‘folk’ di luar pusat-pusat istana dan kota metropolitan, (6) yang berupa hukum adat. (dalam uraian Yus Rusyana, dikatakan bahwa untuk keadaan di Indonesia hukum adat dikeluarkan dari tradisi lisan sebab sudah merupakan bagian khusus dari ilmu hukum Indonesia (2006 : 8)). Tradisi lisan adalah cerita yang hidup secara lisan, tersebar dalam bentuk tidak tertulis, disampaikan dari bahasa mulut. Cerita lisan ini adalah bagian dari persediaan cerita yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat terutama dalam masyarakat tunaksara (Yus Rusyana, 1981 :1). Tradisi lisan merupakan bagian dari budaya dan sekaligus mencerminkan pula budaya keseluruhannya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa cerita selalu mengandung unsur-unsur kehidupan sosial budaya dan seperangkat nilai budaya yang unik dari masyarakatnya pada saat diciptakan.
Sastra lisan tidak mempunyai naskah. Jika sudah berbentuk tulisan naskah itu hanya merupakan cacatan yang tidak mungkin mencakup keseluruhan pernyataan sastra lisan itu, misalnya mengenai guna dan perilaku yang menyertainya (Yus Rusyana, 1981 :2) Walaupun demikian dari sastra lisan yang sudah direkam dapat kita tarik unsur-unsur yang pada akhirnya akan memperlihatkan makna secara keseluruhan dipandang dari aspek bahwa cerita itu merupakan karya sastra lisan.
Dengan demikian Uga Bandung adalah tradisi lisan masyarakat Sunda yang diperoleh dari penuturan orang Sunda sendiri yang berada di lingkungan Kota Bandung.
2.1.3 Uga Bandung dalam Kehidupan Sosial Budaya
Dalam kehidupan sekelompok etnik, di dalamnya terkandung berbagai atau sejumlah adat istiadat, kepercayaan, bahasa dan kebiasaan yang dilakukan dalam keseharian atau ciri lain sebagi bagian dari kebudayaannya. Semuanya itu merupakan warisan yang telah diterimanya sejak dahulu dan menjadi kebiasaan bagi generasi kini.
Begitu pula dengan Uga Bandung, merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat atau etnik Sunda, dan khususnya masyrakat di kota Bandung sebagai pendukungnya. Di dalam uga tersebut dapat dikenali kehidupan budaya masyarakat pendukungnya. Dengan kata lain bahwa untuk mempelajari suatu masyarakat antara lain kita dapat mempelajari tradisi lisan yang ada di dalamnya. Karena tradisi lisan dapat memberikan gambaran tentang masyarakat pendukungnya, maka tradisi lisan merupakan bagian dari sistem kebudayaan (Boas, 1935, Nimpuno, 1999: 61).
Uga atau cacandran yang meramalkan sesuatu akan terjadi di masa yang akan datang, dapat pula disebut ‘the bible of the folk’.Dengan demikian uga dapat dikatakan merupakan futurisme yang berbeda dengan futurologi ilmiah yang berdasarkan data statistik, pengamatan dan analisis yang menggunakan metodologi ilmiah. Sedangkan uga hanya disusun berdasarkan ilham, insting, penghayatan ‘kotemplasi’. Dengan kearifannya, karuhun mampu mengabstraksikan dan menggeneralisasikan putaran perjalanan hidup manusia sehingga melahirkan uga. Uga dalam bentuk kata-kata yang dihubungkan dengan tanda-tanda alam, baik secara simbolik atau perlambang atau dilisankan secara harfiah. Contoh uga perlambang adalah Uga Bandung, dinyatakan bahwa bangsa Indonesia baru bisa adil dan sejahtera bila Kawah Ratu (penguasa) bersatu dengan Kawah Upas (rakyat). Atau dengan kata lain bahwa para pemimpin bangsa sudah mau menerima aspirasi rakyat baru Indonesia makmur dan adil.
Ramalan yang menyebutkan bahwa uga itu berlaku tidak hanya bersifat lokalitas saja melainkan luas ke seluruh dunia. Disebutkan dalam sebuah uga yang tertulis dalam sebuah lembaran kusam (Naskah kertas Nederlander) yang berbahasa Sunda campur Melayu ditulis dengan aksara Arab Pegon tertera di sana Yén engké bakal karandapan hujan racun ! Kita lihat ramalan hujan racun itu terjadi di Negara-negara Eropa, Jepang, RRC, India, Kanada dan Amerika. Bahkan yang lebih mengenaskan yaitu ketika kejadian Chernobyl di Sovyet Rusia atau perang dengan menggunakan senjata biologi.
Uga dalam wujud pantun (cerita pantun), seperti Pantun Bogor : Paku Jajar di Lawang Gintung; Uga Lebak Cawene, Ronggeng Tujuh Kalasirna, Dadap Malang Sisi Cimandiri, Ngahiangna Pajajaran (Uga Wangsit Siliwangi), Ngadegna Pajajaran, Kujang Di Hanjuang Siang. Begitu pula Pantun-pantun yang berasal dari Aki Uyut Baju Rambeng dan Pantun Pa Cilong.
Uga dalam kakawihan barudak atau tembang barudak Sunda, seperti : Ayang-ayang Gung dan Prang pring Prang Pring Sabulu-bulu Gading atau Milang Bincurang.
Ayang-ayang Gung
Ayang-ayang gung, gung
Gung goongna ramé, mé
Ménak Ki Mas Tanu, nu
Nu jadi wadana, na
Naha maké kitu, tu
Tukang olo-olo, lo
Loba anu giruk, ruk
Ruket jeung kumpeni, ni
Niat jadi pangkat, kat
Katon kagoréngan, ngan
Ngantos Tuan Besar, sar
Sareng Kangjeng Dalem, lem
Lempa lempi lempong
Ngadu pipi jeung nu ompong
Jalan ka batawi ngemplong
Arti uga dari nyanyian atau kakawihan barudak di atas adalah kearifan karuhun yang disimbolkan yaitu ketidaksenangan rakyat terhadap pemimpim feodal, yang digambarkan oleh sikap Menak Ki Mas Tanu[5] yang menjadi bupati yang bersikap bunglon ‘tanu’ dan ber-KKN dengan kompeni karena ingin menjadi penguasa sehingga jalan menuju Batawi (Jakarta, pusat kekuasaan) mulus. Di sana ia bertemu dengan orang yang pikirannya kosong ‘Ngadu pipi jeung nu ompong’. Situasi dan kondisi saat ini pun kini masih berlaku, mau ber-KKN dan cepat naik pangkat ? Jadilah orang yang berwatak Ki Mas Tanu walaupun pikirannya kosong (mungkin gambaran sekarang bagi para anggota DPR).
Ramalan yang muncul dalam kakawihan barudak yang meramalkan akan lahir zaman di mana situasinya akan berubah, seperti kehidupan ekonomi dan religi masyarakat Sunda akan berubah terpengaruh oleh sistem ekonomi dan religi dari luar, yaitu :
Milang Bincurang
Prang …pring
Prang…pring
Saunda-unda perang
Nya perang di pangadegan
Turuni puyuh
Hayam tanah babarancang
Dikéncréng-kéncréng kucubung
Kucubung kuruwek dugel, muntel
Dalam bait kakawihan di atas, disebutkan saunda-unda perangnya perang dipangadegan pada setiap aspek kehidupan terjadi perubahan, menuntut perubahan dalam prinsip ataupangadegan yang berasal dari kata adeg yang berarti sikap.
Kakawihan barudak dalam permainannya ada yang menunjukkan ramalan mengenai sebuah gambaran atau situasi yang tidak dapat diketahui arah dan tujuannya, akan tetapi meminta korban, yaitu permainan oray-orayan :
+ Oray-orayan
= Oray naon ?
+ Oray bungka
= Bungka naon ?
+ Bungka laut
= Laut naon ?
+ Laut dipa
= Dipa naon ?
+ Di pandeuri ….ri.ri…ri.ri[6]
Nyanyian yang lahir dalam situasi yang gawat, sebagai sebuah simbol agar musuh tidak mengerti, yaitu :
Ja leuleu ja,
tulak tuh ja éman gog
Seureuh leuweung bay[7]
Nyanyian orang dewasa yang biasa dinyanyikan dalam sebuah sisindiran, lahir pada jaman tanam paksa Belanda, penanaman kopi di Bandung, yaitu :
Dengkleung déngdék
Buah kopi raranggeuyan
Ingkeun anu déwék
Ulah pati diheureuyan
Pada masa itu kopi menjadi komoditi masyarakat di Jawa Barat yang tak lepas dari kehidupan kesehariannya. Sehingga kopi, tidak saja menjadi kalangenan ‘kebiasaan’ untuk minum, melainkan kopi juga, menjadi kebiasaan dalam segala bentuk acara makan makanan ringan. Kata ngopi yang dalam arti sebenarnya adalah minum kopi, menjadi acara makan makanan ringan, yang diminum bukan kopi melainkan teh, atau makan penganan. “Geus ngopi ?”atau “Urang ngopi, yu !” Sebuah pertanyaan dan ajakan untuk makan atau sekedar makan makanan ringan.
Kakawihan barudak yang lahir pada waktu masyarakat sedang dalam keadaan susah dan timbul rumor banyaknya orang yang kaya mendadak, karena nyegik atau munjung :
Ambil-ambilan turuktuk hayam samantu
Saha anu diambil kami mah teu boga incu
boga gé anak minantu
Nani-Nani (atau siapa saja nama salah seorang anak peserta permainan ini dipanggilka dieu,
Purah nutu, purah ngéjo
Purah ngasakan baligo
Nyerieun sukuna, kacugak ku kaliagé
Aya ubarna, urat gunting campuragé
Tiguling nyocolan dagé
Maling endog … maling endog… !
Bandung sebagai kota pendidikan dengan munculnya Sakola Raja (di Jalan Merdeka, Polwiltabes Sekarang), para orang tua di seluruh pelosok (Jawa Barat) selalu menginginkan semua anaknya menjadi orang-orang terdidik, terhormat dan mampu berterima kasih kepada orang tua. Mereka berharap agar anaknya pergi dan datang ke Kota Bandung untuk menuntut ilmu maka lahirlah nyanyian :
Néléngnéngkung néléngnéngkung
Geura gedé geura jangkung
Geura sakola di Bandung
Geura makayakeun indung
Situasi dan kondisi kehidupan secara global pun tidak luput dari perhatian karuhun Sunda, karena semua merupakan fenomena alam yang sangat disadari oleh karuhun dan menjadi peringatan yang harus diperhatikan oleh anak cucu atau generasi mendatang. Jaman edan seperti saat ini telah diperingtakan agar anak cucu berhati-hati dalam menghadapinya. Wangsit dari Raja Pajajaran yang ada di Kabuyutan Galunggung, menyebutkan bakal terjadi jaman edan dan situasi yang tidak terkendali. Di antara wangsit yang terungkap adalah :
/…/
Budak teu ngawaro jeung teu heman ka kolot;
murid teu tuhu ka guru;
Raja sabuana salah pamakéna;
Pandita salah pamakéna;
Panghulu salah pamakéna;
antukna patulak tawur tanpa wastu ilang buana /…/
[“Uga” Seri III, Baranangsiang No. 4 Tahun 1967]
Pepatah petitih dahulu mengingatkan bahwa pribadi atau lembaga harus dihargai : Guru wong atua karo, artinya tatanan masyarakat akan berlangsung baik apabila generasi muda hormat dan taat dan menghargai gurunya, pemerintah adil dan agung wibawa, serta para ulama arif bijaksana. Tapi kenyataannya semua kacau tanpa wastu “martabat” dan kenyataannya nampak seperti sekarang. Kekacauan ini pun terus berlangsung, sehingga Karuhun Sunda dengan kearifan melihat kota–kota di Jawa Barat akan berkembang seperti apa yang dilihat melalui mata bathinnya yang disusun dalam Uga Bandung, yaitu :
Bandung heurin ku tangtung
Cianjur katalanjuran
Sukabumi tinggal resmi
Sumedang Ngarangrangan
Sukapura ngadaun ngora
Galunggung ngadeg tumenggung
Garut jadi pangirut
Kenyataan itu kini sudah terjadi, misalnya Kota Bandung yang menjadi sebuah kota metropolitan, sudah heurin ku tangtung, PKL di mana-mana susah untuk diantisipasinya, gedung-gedung mall di mana-mana, keinginan dan kehendak yang saling tumpang tindih nampak di kota Bandung ini. Kota Cianjur, perkembangannya kini hanya sebagai kota yang hanya dilewati. Kota Sukabumi tinggal sebuah nama saja, ibukotanya akan pindah ke Pelabuhanratu. Hal tersebut terjai karena sudah ada rencana akan mengembangkan kotanya menjadi kota pariwisata dan ibukota akan berpindah ke daerah pesisir. Kota Sumedang, kini hanya sebuah kota pensiunan, ramainya pindah ke Jatinangor. Garut ? Nah, ini dia Sukapura akan ngadaun ngora, hal itu pun terbukti kini Tasikmalaya sedang berbenah untuk menjadi sebuah kota yang megah dengan pembangunan di sana-sini. Galunggung Ngadeg Tumenggung ? Kini sudah terbukti, ibukota kabupaten berdiri di Kota Singaparna yang berada di suku Gunung Galunggung.
Begitu pula dengan Uga Cilauteureun yang tersebar di daerah Garut, yaitu sebuah uga yang memperingatkan kepada anak cucu atau generasi sekarang, bahwa jaman edan akan berlangsung, di antaranya uga itu menyatakan :
Uga cicirén kaasih ti kolot urang baheula,
tanda kamelang haté,
bisi seuweu siwi Sunda,
kagoda milu édan jeung jalma nu baragajul,
lolong kana pajamanan
Makmak-mekmek hayang sugih,
loba dunya luhur pangkat,
ka batur teu inggis néjéh,
najan kudu ngahianat,
asal laksana tékad,
lir kokoro manggih Mulud,
poho kana bebeneran
Dalam situasi jaman edan itu, uga lain menyatakan :
Nagara ilang komara,
rahayat pinanggih lara,
sagala kias teu mental,
sakabéh pamingpin bingung
Semua itu memang benar adanya dan terbukti sesuai dengan kata-kata karuhun tadi, banyak orang yang ingin naik pangkat dan terpakai oleh atasan dengan cara menghianati terhadap tujuan pokoknya. Dan akibatnya rakyat jadi korban.
Ungkapan tradisional Sunda yang merupakan kalimat pendek yang disarikan dari pengalaman panjang dari sebuah komunitas. Karuhun kita membuat ungkapannya itu menyimpan makna yang dalam yang semuanya lahir karena pengalamannya, baik pengalaman yang manis, pahit, mengenaskan atau pengalaman spiritual.
Uga Wangsit Siliwangi, ketika Prabu Siliwangi akanngahiyang ‘mangkat’, beliau memberikan wejangan : “Wahai rakyatku, barang siapa yang mau menjadi orang yang berpangkat pergilah ke timur. Barang siapa mau menjadi orang yang maungabarata atau suci hati, pergilah ke barat, barang siapa mau menjadi pesuruh orang yang datang dari timur, pergilah ke utara, dan barang siapa mau menjadi orang yang sengsara tapi sejati dalam “Sunda” tapi menderita seperti saya, ikutlah ke kidul ’selatan’ bersama saya. Dari wangsit itulah muncul sindiran kepada orang Sunda yang benar-benar mempertahankan prinsip kasundaannya. Sindiran itu muncul dalam peribahasa Asa aing uyah kidulUyah‘garam’ berarti sari atau inti; kidul ‘selatan’ tempat orang-orang yang ikut bersama Prabu Siliwangi.
Simbol yang dilambangkan dengan warna, di Banten dapat dilihat dari benang pengikat rokok (tali rokok daun kawung) dipergunakan sebagai tanda “ungkapan rasa” dari si pengirim kepada orang yang dikirim, seperti rokok mole ‘rokok tembakau yang digulung dengan daun kawung ‘enau’’ kemudian diikat dengan benang yang berwarna:
warna héjo ‘hijau’ = hayang paténjo;
warna hideung ‘hitam’ = Nineung;
warna bodas ‘putih’ = putih bersih;
warna beureum ‘merah’ = ngajak eureun, pegat kasuka;
warna paul ‘biru langit’ = hayang disusul;
warna biru ‘biru’ = milu;
warna wungu‘violet/bungur’ = ditunggu;
warna hawuk ‘abu-abu’ = ngundang datang;
warna gading ‘krem’ = ngabejaan gering;
warna koneng ‘kuning’ = keuheul.
Simbol-simbol seperti itu pun dewasa ini sering dianalogikan kepada kejadian-kejadian alam, baik politik, ataupun segala aspek kehidupan manusia. Sebelum Presiden Megawati Soekarnoputri naik menjadi Presiden Indonesia, jauh sebelumnya muncul gejala di masyarakat, orang-orang membuat cincin dari uang logam kuningan Rp. 100,00 Gejala alam tersebut menunjukkan bahwa presiden Indonesia nanti adalah perempuan, karena cincin dianalogikan sebagai perempuan. Begitu pula ketika Susilo Bambang Yudoyono atau lebih kita kenal dengan sebutan SBY (Baca dalam bahasa Sunda : és beyé ‘es yang masih cair’). Gejalanya muncul ketika dalam setiap perayaan tujuhbelas agustusan, di setiap pelosok kampung banyak atribut air yang berwarna warni dalam kantong plastik (seperti es bungkus yang harganya Rp. 100-an) digantungkan di atas pohon kering dan menjadi hiasan untuk meramaikan pesta rakyat tersebut. Maka dari situlah gejala alam dibaca oleh masyarakat bahwa SBY naik menjadi presiden. Tapi dia hanya sebagai orang yang mampu “meramaikan dengan warna-warninya” dan hanya sebagai hiasan belaka. Kita lihat gejala di atas, SBY menyusun kabinet dengan sebutan Kabinet Indonesia Bersatu, karena melihat keanekawarnaannya dari berbagai parpol.
Dinamika budaya dewasa ini dapat kita lihat dari berbagai aspek kehidupan masyarakat yang sedang mengalami perubahan terus menerus menjadikan anggota dari setiap masyarakat mencoba untuk mengungkapkan “rasa” melalui verbal yang sesuai dengan pengetahuannya. Ungkapan verbal biasanya terlontar berdasarkan gejala yang timbul di lingkungannya. Budaya Sunda pun tidak statis melainkan sangat dinamis, hal itu terlihat dari ungkapan yang menyatakan bahwa manusia Sunda harus mampu menyesuaikan arus kehidupan dan perubahan jaman tanpa meninggalkan budayanya sendiri : Ngindung ka waktu ngabapa ka jaman ataungigelan jaman jeung ngigelkeun jaman.
Bila sejarah merupakan sebuah gambaran tentang pengalaman kolektif atau individual di masa lampau, maka folklor pun harus seperti itu. Perbedaannya sejarah disusun atau direkonstruksi berdasarkan kaidah-kaidah tertentu, namun folklor tidak dibakukan dan hanya disampaikan secara oral, jenis realita tidak disesuaikan dengan fakta historis. Folklor harus dilihat sebagai endapan memori rakyat tetapi potensial menjadi sumber sejarah dan di samping itu folklor dapat menjadi sebuah fenomena kebudayaan.


[1] Harian Umum Pikiran Rakyat, Sabtu 14 Oktober 2006
[2] Mingguan berbahasa Sunda Galura, Minggu 1 Nopember 2007
[3] Mingguan berbahasa Sunda Kudjang, Jumat, 24 Juli 1981, ditulis oleh A.K. Djajasoepena.
[4] Suria Saputra “UGA” dalam Majalah Baranangsiang No. 2 taun 1967.
[5] MA. Salmun (1972), Majalah Intisari, menulis bahwa Mas Tanu itu adalah Tanujiwa, orang Sumedang yang mendapat perintah dari Campuijs ‘Belanda’ untuk membuka hutan Pajajaran dan mendirikan Kampung Baru di Bogor dan Jatinegara. Dengan kedekatannya dengan VOC di Batavia, ia berhasil menjadi Bupati Bogor pertama (1689-1705), namun pada akhirnya memberontak dan dibuang ke Tanjung Harapan Afrika. (Sejarah Bogor tidak pernah mencatat Tanujiwa sebagai Bupati, dalam Danasasmita, 1983: 84)
[6] permainannya, sejumlah anak-anak berjajar saling memegang pundak anak yang didepannya, mereka menyanyikan kakawihan tersebut, dan ada dua orang anak berdiri dan berpegangan tangan membentuk sebuah terowongan, ketika kata-kata ri….ri… diucapkan maka anak yang paling akhir ditangkap oleh dua anak yang berpegangan tangan
[7] Ketika orang Priangan mengintip pasukan Mataram di jalan yang akan dilewatinya, orang yang berjaga di garis depan melihatnya kemudian memberi tanda dengan nyanyian. Ja berarti pasukan Jawa atau pasukan Mataram,tulak tuh ja eman berarti siap-siap beri perlawanan


Sumber Padjadjaran Anyar: U G A

Monday, 3 March 2014

KEHANCURAN SISTEM KEUANGAN DUNIA




March 3, 2014 at 2:31pm

KEHANCURAN DOLLAR
Setelah hampir 100 tahun bertengger sebagai mata uang paling berpengaruh dan dijadikan sebagai cadangan devisa (reserve currency) di seluruh dunia, Dollar Amerika Serikat (USD) kini tengah berada di penghujung sejarah masa keemasannya . Krisis finansial tahun 2008, sebenarnya adalah tahun sekaratnya USD dan, seperti diramalkan banyak pengamat uang, hanya tinggal menunggu beberapa tahun lagi saja, bahkan menurut Dr. Steve Sjegured, tinggal 1 tahun saja, yakni di penghujung tahun 2011, mahluk perkasa yang bernama USD ini dipastikan tidak sanggup lagi bertahan hidup. Mengapa?

DOLLAR DICETAK TANPA JAMINAN

Berbeda dengan negara-negara lain, AS dapat mencetak dollar setiap saat tanpa harus menggunakan jaminan. Dengan memiliki hak-hak istimewa ini dan disebabkan(maaf) oleh “ketololan masyarakat dunia juga, AS dapat membeli apa saja untuk membangun negerinya tanpa harus bersusah payah bekerja keras sebagaimana bangsa-bangsa lain. Setiap saat perlu sesuatu, pemerintah AS memerintahkan  Federal Reserve untuk mencetak USD. Kapan saja dan berapa banyak saja. Pokoknya, cetak terusssss……

KEMEWAHAN SEMU

Apa yang terjadi akibat tindakan ini?. Memang, secara kasat mata Negara Adi Daya ini sangat WUAH……… Deretan gedung pencakar langit nan mewah, bentangan jala-jalan tol yang lebar-lebar, FASOS-FASUM yang lengkap, dan seabreg kemewahaan lainnya,  sampai dengan hal-hal lain yang tidak mungkin dilakukan oleh negara lain, seperti kepimilikan kapal-kapal induk yang menyebar di berbagai belahan dunia dengan segala kelengkapan mesin perangnya, perjalanan ke luar angkasa dengan pesawta ulang-alik, dsb, bisa Amerika wujudkan. Kenapa? yah… gampang…tinggal cetak  dollar saja, maka segala mimpi bisa diwujudkan. Amerika bisa lakukan ini, sedangkan negara-negara lain tidak.

HANCURNYA PRODUKTIFITAS

Tetapi, di balik semua kemudahan tersebut sesungguhnya ada kegagalan yang harus dibayar mahal oleh Amerika yang sayangnya tidak bisa dibayar dengan uang, yaitu kehancuran fundamental ekonomi real, baik sektor industri, perdagangan, pertanian maupun pertambangan. Produk-produk industri  AS,  saat ini sudah dalam keadaan sekarat. Para tenaga ahli dan terampil AS tidak sanggup lagi bersaing melawan China, India, Korea apalagi Jepang. Hampir seluruh perusahan-perusahaan AS saat ini tidak lagi masuk peringkat dunia bahkan banyak yang sudah bangkrut, tinggal menyisakan 2 perusahaan saja, yaitu Exxon Mobil dan Microsoft. Ini semua disebabkan akibat keenakan melimpahnya dollar yang membuat mereka bisa membeli apa saja yang dimau, mereka terlena sehingga kompetensinya tergerus sampai akhirnya tidak bisa bersaing lagi.

DOLLAR DITOLAK

Pada titik di mana para eksportir sudah kebanyakan dollar, seperti China memegang USD 1,5 T, Jepang USD 1,7 T dan nyaris seluruh negara di dunia memegang milyaran dollar, maka dunia mulai “ngeri” melihat tumpukan dollar tersebut. Maka mulailah terjadi beberapa kesepakatan negara untuk tidak menerima pembayaran memakai uang dollar sehingga mata uang ini mulai banyak ditolak dalam transasksi perdagangan di beberapa negara saat ini. Sebagai dampak dari gerakan ini, maka mau tidak mau, untuk belanjakan kebutuhan barang-barang, saat ini AS harus ngutang duit dalam mata uang asing sesuai dengan asal barang yang dibutuhkan. Jadi kalau perlu minyak ke Saudi Arabia, AS harus pinjam uang Real. Belanja ke China harus ngutang Yuan. Ke Jepang, Yen, dan begitu seterusnya. Sehingga hutang AS saat ini sudah menggunung sebanyak USD 13 Triliyun dan setiap hari harus menambah utang baru terus sebanyak miliyaran dollar lagi guna memenuhi kebutuhan anggaran belanja yang memang sangat boros. Hutang AS ini sudah begitu besarnya, sehingga mulai tahun 2011, jangankan untuk mencicil pokok, bahkan sekedar bayar bunga saja sudah tidak mampu.

HANCURNYA KEUANGAN DUNIA

Apabila kemampuan bayar hutang merosot, apalgi gagal bayar, maka AS akan kehilangan kepercayaan dan sebagai akibat lanjutanya, dollar sebagai mata uang yang selama ini dicetak hanya semata berdasarkan kepercayaan tersebut, maka pasar akan takut memegang dollar, maka akan terjadi pelepasan dollar yang besar-besaran di seluruh dunia, dan jika ini terjadi maka, sebenarnya bukan hanya dollar yang hancur tapi sytem keuangan dunia juga akan kiamat. PASTI.

Bagaimana menyelamatkan system keuangan dunia dari perahara ini?


JAWABANNYA HANYA SATU: KEMBALIKAN FUNGSI UANG SEBAGAI ALAT BAYAR DENGAN SYARIAH SEBAGAI SYSTEMNYA.


VirtualBank adalah lembaga keuangan yang dibangun untuk menjadi bantal penyangga atas jatuhnya system keuangan dunia agar kehidupan tetap berlanjut dengan konsep yang original, bernilai dan bebas perbudakan.

Blog ini dibuat untuk mengundang siapa saja yang tertarik memperakarsai kelahiran system keuangan dunia baru yang tidak hanya tambal sulam, tapi secara revolusioner mengubah system keuangan dunia yang gagal saat ini mulai dari akar-akarnya.

Collateral dan Zakat


Fungsi  Collateral

Fungsi collateral, tidak lebih dan tidak kurang, adalah untuk menjamin keamanan dana bank yang dipinjamkan  kepada nasabah. Kalau seorang debitor gagal bayar (NPL), bank akan menyita asset nasabah dan melelangnya untuk mengganti kerugian hutang berupa pokok, bunga plus denda.

Bentuk Collateral

Collateral umumnya berupa kekayaan tidak bergerak (fixed asset) nasabah seperti tanah dan bangunan, asset mana harus memiliki legalitas yang kuat seperti tanah sudah berupa Sertifikat Hak Milik (SHM) dan bangunan memiliki Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Asset tersebut akan dinilai oleh Konsutant Appraisal rekanan bank dan biasanya nilai harga perolehan hanya 50% dari harga pasar, disebut  Harga Likuiditas. Setelah proses audit yang ketat, bank akan mengucurkan kredit kepada nasabah setara dengan 60% kali nilai Harga Likuiditas asset nasabah tersebut. Di luar kekayaan tidak bergerak, bank menerima jaminan berupa asset bergerak, dan kondisi ini lebih bank sukai, seperti collateral berupa kendaraan

Cash Collateral

Seiring dengan pesatnya perkembangan sistem keungan, collateral saat ini bisa berupa uang itu sendiri, disebut Cash Collateral. Collateral  jenis ini  paling disukai bank dan proses pencairan kredit bisa lebih cepat dan simpel. Mengapa? Karena collateral ini membuat bank terjamin 100%, tidak ada resiko sama sekali. Cash collateral umumnya berupa  Certificate Time Deposit (CTD), Standby Letter of Credit (SBLC), Bank guarantee (BG), Medium Term Note (MTN) dan lain sebagainya.

Zakat sebagai sumber Cash Collateral

Ada 8 asnaf yang berhak menerima zakat, salah satunya adalah Ghorimin, yaitu mereka yang punya hutang. Dari sisi penjatahan, secara fiqih, Ghorimin berhak mendapat 1/6 dari total zakat yang diterima pada setiap tahun anggaran (Haul) zakat. Jatah asnaf ini kalau ditata dengan baik dapat dijadikan sebagai cash collateral untuk para pengusaha kelas bawah yang selama ini kesulitan mendapatkan kredit karena tidak memiliki collateral.
Polanya, setiap lembaga penerima zakat harus menyisihkan 1/6 dari setiap zakat yang diperoleh, lalu zakat tersebut ditempatkan di Bank dalam bentuk Surat Deposito Berjangka atau Certificat Time Deposit untuk digunakan sebagai cash collateral bagi para pengusaha kecil yang ada di lingkungan tertentu di mana zakat tersebut diintensifkan. Pengusaha yang usahanya bagus dan perlu modal tinggal direferensi  oleh pengurus mesjid untuk menggunakan fasilitas cash collateral tersebut maka kredit akan cair dengan cepat.

Sumber : http://virtualbank.wordpress.
There was an error in this gadget

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907