Titimangsa

Titimangsa
Mendidik | Cerdas | Inovativ

Saturday, 14 June 2014

Cakra Manggilingan Titik Balik Peradaban Nusantara



sumber : http://reemill.blogspot.com/2013/01/cakra-manggilingan-titik-balik.html



Cakra manggilingan adalah filosofi atau keyakinan berputarnya roda kehidupan baik mikrokosmos maupun makrokosmos. Secara bahasa berasal dari kata cakra yaitu lingkaran, roda dan manggilinganyaitu berputar, menggelinding. Bentuk melingkar cakra manggilingan itu membentuk keseimbangan dalam setiap lintasan perputarannya. Kehidupan alam fisik maupun alam sosial selalu silih berganti seperti roda kehidupan, ibarat pergantian terjadinya siang dan malam. Kondisi tersebut merupakan daur alamiah untuk menciptakan keseimbangan tata surya kehidupan jagad raya. Kodrat yang Maha Kuasa berganti bagaikan cakra manggilingan. Diatas prinsip penciptaan berkepasangan itulah Tuhan Yang Maha Esa menjadikan keadilan dan keseimbangan. Hidup ini ada gelap terang, tinggi rendah, tua muda, integrasi diferensiasi, yang semua itu digulirkan oleh Tuhan sesuai dengan kapasitas waktu yang ditetapkannya. Setelah mencapai jaman keemasan atau kertayoga akhirnya mengalami masa keruntuhan atau kaliyoga. Itulah kehidupan yang selalu berubah dan berputar mejalankan hukum kekuasaannya. 

Kearifan Universal Nusantara dalam memandang daur kosmologi alam semesta juga disampaikan oleh para filosof dunia masa lalu maupun masa modern ini. Irama berulang dalam pertumbuhan budaya terkait dengan proses fluktuasi yang telah diamati selama berabad-abad dan menjadi bagian dari dinamika pokok alam semesta. Filsuf Cina yakin bahwa manifestasi realitas dihasilkan oleh dinamika yang saling mempengaruhi antara dua kutub kekuatan yaitu yin dan yang, Heraclitus dari Yunani Kuno membandingkan tatanan dunia seperti api abadi yang menyala dalam ukuran tertentu dan padam dalam ukuran tertentu, Empedocles menghubungkan perubahan-perubahan di alam semesta dengan pasang surutnya ‘cinta dan benci’. Begitu juga dengan para pemikir modern seperti Saint Simon melihat sejarah peradaban sebagai rangkaian pertukaran periode-periode organic dan kritis, sementara Herbert Spencer memandang alam semesta bergerak melalui suatu rangkaian integrasi dan diferensiasi dan Hegel memperhatikan sejarah manusia sebagai suatu perkembangan spiral dari suatu bentuk kesatuan melalui fase perpecahan menuju arah reintegrasi pada tataran yang lebih tinggi.  

Dari disiplin filsafati tersebut sangat relevan untuk dijadikan rujukan dalam melihat fenomena kehidupan dunia hari ini. Ibarat seperti kondisi malam yang gelap gulita memberikan pesan seolah kehidupan dunia dan Nusantara khususnya hari ini sedang menjalani fase keterpurukan multidimensi. Perilaku kehidupan manusia sedang berada dalam kondisi titik nadir paling bawah dalam lintasan cakra manggilingan kehidupan alam semesta. Tuhan sedang mengkutuk peradaban dunia dengan kegelapan dan kezaliman disebabkan oleh tingkah laku manusia yang melampui batas-batas ketettapannya. 

Krisis Multidimensi Lintas Benua 

Dunia sedang mengalami gejala kerusakan alam dan sosial maha dahsyat pada millennium abad 21 ini. Amerika sedang marak terjadi penembakan masal di negaranya, Eropa sedang mengalami resesi ekonomi makro yang luar biasa, Afrika masih berkutat dengan kemiskinan dan kelaparan, Australia sering mengalami bencana alam, sementara di Asia masih sering terjadi gejolak perang untuk mempertahankan eksistensi penjajahan atas nama perekonomian. Fritjof Capra, The Turning Point (2007) menyatakan bahwa pada awal dua dasawarsa terakhir abad ke dua puluh, kita menemukan diri kita berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan, kesehatan dan mata pencaharian, kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi teknologi, dan politik. Krisis ini merupakan krisis dalam dimensi intelektual, moral spiritual, suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah umat manusia. 

Indokator-indikator tersebut juga sangat jelas terlihat di Nusantara. Nusantara sebagai bagian strategis dari silang dunia memperoleh dampak signifikan terhadap kerusakan morallitas peradaban dunia tersebut. Bangsa Indonesia telah mengalami dekadensi spiritual yang besar sehingga menjadikan kehidupan sosial penuh dengan kezaliman dan kemunafikan. Krisis kepemimpinan dan krisis sosial budaya tampak dalam setiap perilaku kehidupan bangsa ini yang anarkis dan tidak toleran. Kondisi permasalahan tersebut sangat relevan dalam tatanan kearifan lokal masyarakat Jawa yang menyatakan bahwa semua kejadian yang melanda bangsa ini sebagai penggenapan dari ramalan Ronggowarsito Serat Kalatidha dalam tembang Sinom bait 7 “Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, milu edan nora tahan, yen tan milu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun, ndilalah kasra Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada”. Artinya hidup di dalam zaman edan, memang repot, akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya zaman, tidak mendapat apapun juga, akhirnya kelaparan, tapi sudah menjadi kehendak Tuhan, bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia tapi masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada. 

Faktor Utama Permasalahan Dunia  

Permasalahan kehidupan tersebut menjadi realitas yang harus dihadapi semua orang yang terlibat di kesatuan wilayah Nusantara. Upaya untuk menyelesaikan dan menanggapi persoalan tersebut dengan cara menguraikan factor utama yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi. Beberapa evaluasi dan identifikasi sumber masalah utama adalah merosotnya nilai-nilai luhur spiritualitas anak bangsa dalam menjalankan kehidupannya. Putra-putri bangsa lebih mengedepankan kemampuan intelektual daripada spiritualnya. Penyakit ini dinamakan penyakit Cyber yang hanya mengedepankan kemampuan rasional sehingga menjadikan pikiran manusia modern berubah menjadi pikiran mekanis dan digital, sering disebut HIV Human Intelligence Virus dan AIDS Acquired Intelligence Deficiency syndrome di dunia inteligensi pikiran. Inteligensi manusia bisa lenyap karena virus itu, sehingga Human Intelligence-nya mati dan diganti Artificial Intelligence, Rational Intelligence, atau Digital Intelligence (Nataatmadja,2003). 

Secara lebih global, hal ini dipengaruhi oleh rendahnya kecerdasan spiritual manusia modern yang sedang terjangkit penyakit spiritual dengan segala variasinya seperti spiritual crisis menurut Fritjof Capra, penyakit jiwa atau soul pain menurut Michael Kearney, penyakit eksistensial Carl Gustav Jung, darurat spiritual atau spiritual emergency menurut Cristina dan Stanislav Grof, patologi spiritual, alienasi spiritual maupun penyakit spiritual. 

Titik Balik Peradaban Nusantara 

Kearifan cakra manggilingan memberikan tanda bahwa segala sesuatu itu berputar. Ada siang dan ada malam, setelah hari ini malam besok harinya pasti siang. Kondisi kegelapan dunia yang terjadi hari ini menjadi peluang bagi manusia untuk memperbaikinya. Setiap manusia harus menyesuaikan diri dengan ritme perputaran alam semesta agar memperoleh perubahan menuju sinar terang matahari dunia. Ibarat sebuah waktu hari dimana waktu siang 12 jam dan waktu malam 12 jam, maka umur setiap peradaban juga mempunyai rentang waktu akan tegak dan runtuhnya. Menurut tradisi Tuhan, bahwa tiap-tiap umat ada batas waktunya, sebagaimana terjadi pada umat Nabi Musa, Isa, dan Muhammad yang masing-masing memiliki batas eksistensinya. Ada kelahiran dan kematian atau ada kebangkitan dan kehancuran. Jika dipetakan menurut kalender masehi yaitu semenjak kelahiran umat pimpinan Muhammad pada tahun 624 masehi, ditambah 700 tahun masa kejayaan sampai tradisi kehancurannya pada tahun 1324 masehi, dan ditambah lagi waktu tradisinya 700 tahun, maka menurut tradisi Tuhan umat pilihan akan dibangkitkan kembali pada awal abad ke 21 masehi atau tahun 2024 masehi. 

Hal ini didukung oleh penemuan Professor James H.L Lawler (1990) dari Nexial Institue telah menemukan siklus 700 tahun terhadap bangkit dan runtuhnya peradaban kerajaan monolitik maupun fragmentary pada masa lalu yang didokumentasikan lebih dari 150 kerajaan besar di dunia. Hal senada diungkapkan oleh Manteb Sudarsono (2010) menyitir ramalan pujangga besar Ronggowarsito yang mengategorikan masa-masa sekarang ini adalah apa yang disebut sebagai kala benduKala bendu itu akan berakhir ketika pandawa mulat sirnaning temanten yaitu sebuah sengkalan atau sandi tahun yang kalau diterjemahkan menjadi tahun 2025. Tuhan akan memberikan rahmat yang luar biasa bagi mereka yang mengetahui, realisasi janji-Nya mengenai era kebangkitan, bangsa Indonesia ternyata diberi peluang pertama diantara kaum yang lain, dan tanda-tanda siksa yang teramat mengerikan itu sudah terbayang dalam suasana krisis dewasa ini (Nataatmadja,2006).  

Futurology tersebut menurut Ronggowarsito dalam serat Joko Lodang dinyatakan ing weca kang wus pinesthi, estinen murih kelakon yang artinya di dalam ramalan atau fakta potensial yang sudah ditentukan haruslah diusahakan dan diperjuangkan supaya segera dapat terjadi atau fakta konkret (Purwadi, 2004). Dalam Bahasa Ir Soekarno pada saat lahirnya Pancasila mengatakan “tidak ada satoe Weltanchauung dapat mendjadi kenjataan, menjadi realiteit, djika tidak dengan perdjoeangan! Zonder perdjoeangan itu tidaklah ia akan mendjadi realiteit”. Semua teori dan futurology masa depan tersebut harus diperjuangkan dalam bentuk konrkrit karya-karya nyata sehingga apa yang menjadi cita-cita dapat tercapai. Memaknai dari proses daur kosmologi alam semesta tersebut, bahwa kehidupan sosial dan peradaban manusia saling berputar dan silih berganti antara peradaban baik dan buruk maka terdapat sebuah potensial bagi Nusantara untuk bangkit dari keterpurukan. Nusantara sebagai bangsa strategis dan mempunyai peran vital bagi dunia mempunyai kesempatan besar untuk mengikuti laju perputaran kehidupan untuk mencapai kesejahteraan sebagaimana yang menjadi cita-cita bangsa dalam pembukaan UUD 1945. Semua putra-putri Nusantara harus sadar dan bangun dari ketertidurannya sehingga mampu menjadikan bangsa ini bangkit serta menjadi bangsa teladan bagi dunia lainnya. 

Transformasi Budaya Pancasila Untuk Dunia 

Dalam usaha untuk memperbaiki keadaan alam sosial ini dibutuhkan orang-orang yang memahami ilmu cakra manggilingan untuk mengendalikan perubahan tersebut. Pengendali cakra manggilingan disebut cakraningrat dalam bahasa Jawa dan cakravartin dalam bahasa Sriwijaya. Wahyu Cakraningrat adalah wahyu atau ilmu ‘wijining ratu’, wahyu pewaris raja sebagai lambang derajat kekuasaan yang dipercaya mampu memegang kendali kepemimpinan. Sementara itu makna daricakravartin adalah supremasi moral dan religious legitimasi para penguasa semesta atau raja diantara para raja yang memerintah di pusat mandala Sriwijaya. Sosok cakravartin adalah sosok penguasa universal, raja tertinggi diantara manusia. Makna literal dari cakravartin adalah ‘pemutar roda’ yang merujuk pada roda keberuntungan yang menaikkan atau menurunkan keberuntungan manusia. Ilmucakraningrat atau cakravartin perputaran roda zaman ini dapat dipelajari dari nilai-nilai luhur Nusantara dan dunia pada umumnya. 

Arnold Toynbee dalam A Study of History (1972) melihat pola dasar dalam terjadinya peradaban sebagai suatu pola interaksi ‘tantangan’ dari lingkungan alam dan sosial yang memancing ‘tanggapan’ kreatif dalam suatu masyarakat, kelompok sosial, yang mendorong masyarakat itu memasuki proses peradaban dengan mengalami suatu transisi dari kondisi statis ke aktivitas dinamis. Hukum alam Tuhan memang mengatakan sebuah kondisi tak stabil akan membuat ‘pergerakan’ untuk menuju ke-stabilan Hukum Newton. Fritjof Capra (2007) menyatakan bahwa sebuah peradaban cenderung kehilangan tenaga budayanya dan kemudian runtuh setelah mencapai puncak vitalitasnya, hal ini disebabkan oleh hilangnya fleksibilitas. Hilangnya fleksibilitas dalam masyarakat yang mengalami disintegrasi ini disertai dengan hilangnya harmoni secara umum pada elemen-elemennya sehingga mengarah pada meletusnya perpecahan dan kekacauan sosial. Sementara peradaban-peradaban minoritas kreatif yang sedang berkembang menunjukkan keberagaman dan kepandaiannya yang tidak pernah berhenti dalam melanjutkan proses tantangan dan tanggapan itu. Proses evolusi budaya ini akan terus berlanjut tetapi dalam kondisi-kondisi baru dengan tokoh-tokoh yang baru pula. Kondisi tersebut sangat mirip dengan kondisi Nusantara ini sehingga upaya-upaya solusi berbasis budaya harus segera dilakukan untuk menyambut masa transisi peradaban tersebut. 

Transformasi dan evolusi pembudayaan Pancasila di Nusantara menjadi solusi titik balik peradaban ini. Pembudayaan Pancasila dapat dilakukan dengan metodologi interpretasi, internalisasi dan aktualisasi. Interpretasi Pancasila adalah mentafsirkan dan menguraikan kembali makna sila-sila Pancasila dengan berlandaskan kajian keilmuan yang ilmiah dan alamiah bersifat universal. Interpretasi digunakan untuk meyakinkan orang lain dan mendorong orang lain untuk merubah cara berpikir dan tingkah laku mereka berdasarkan Pancasila. Internalisasi Pancasila dilakukan dengan penghayatan, pengendapan kesadaran dan penyatuan nilai-nilai dalam sila Pancasila untuk menjadi kepribadian akhlak (karakter sejati) manusia Nusantara. Aktualisasi Pancasila dengan mengamalkan segala nilai-nilai Pancasila yang telah diperoleh dari proses interpretasi dan internalisasi dalam bentuk aksi-aksi nyata bidang kegiatan budaya, sosial, dan ilmiah. Nusantara harus kembali melakukan interpretasi, internalisasi, dan aktualisasi sila-sila Pancasila yang terdiri atas dasar prinsip Ketuhanan, prinsip kemanusiaan, prinsip persatuan, prinsip kerakyaatan dan prinsip keadilan. Diatas lima prinsip universal itulah bangsa Nusantara akan mengalami titik balik peradaban dunia, merubah kondisi keterpurukan bangsa menjadi bangsa percontohan yang ‘gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo dadi kiblating dunya’. 

Kunci sukses dalam setiap perjuangan adalah keyakinan dan aplikasi perbuatan. Kesatuan antara pemikiran, perkataan dan perbuatan menjadi harga mati dalam setiap usaha meraih asa. Dalam terminology pohon diibaratkan kesatuan antara akar, batang dan buah. Putra-putri Nusantara harus memiliki power of the will atau icha shakti yaitu tekad bulat untuk mengubah kondisi bangsa, memilikipower of knowingness atau gyaana shakti dengan mengembangkan keahlian, pengetahuan yang diperlukan untuk daya tahan dan bekerja keras dalam menuntut ilmu, dan terakhir harus mempunyaipower of action atau kriya shakti yaitu melaksanakan dengan berkarya setiap saat, dengan ilmu dan kesungguhan dan penuh keceriaan. Dengan dasar tersebut, sangat berpeluang bagi Nusantara untuk kembali bangkit dalam titik balik peradaban untuk kembali menjadi pusat peradaban dunia, Nusantara menjadi mercusuar dunia. 


editor : Heru Mulyanto

Friday, 13 June 2014

"New Tomorrow", and Important Updates for this week





I have to send my friend Aaron from Soldier Hugs a HUGE thank you for sending me the link to this article: http://www.soldierhugs.com/off-ledger-global-collateral-accounts/

“New Tomorrow” has put together the most succinct and well documented history of the golden road and how we got to where we are now financially that I have ever read.  Sorry David, but this article even outstrips your “Financial Tyranny” articles.

Part 1 and 2 are complete and are very in depth with tons of links to supporting documents- a long read, but well well worth the time.

Part 1 can be read HERE

Part 2 can be read HERE

I will post a section of Part 2 that deals with our current situation in regards to the collateral accounts and the Gold bonds that are part of the Keenan suit, but first I want to give an update on several things I’ve spoken about in the past few weeks.

We’ve always known that those in the positions of being decision makers and power movers have been liberally spraying smoke screens and at times spreading outright lies to keep people off balance and confused.  The implementation of the new financial system and the release of the World Global Settlements and various other funds, and the Global Currency Revaluation has been kept under the heaviest blanket of secrecy imaginable and they don’t want to give anyone the ability to “KNOW” when it’s all going to happen.  In the past week we’ve had this lesson driven home as we’ve realized that several of those whom we thought were working with us, were in fact withholding vital information.

Regardless of the questionable sources, our own personal sources have confirmation of very vital information.  We are extremely excited about our current situation and where we all stand.

The prosperity packages are rolling out very very quickly right now- and we are looking for a magic number to trigger the event we are waiting for.

The World Global Settlements have been launched and that money is already on it’s way around the world.

The Wanta Reagan Mitterrand Protocol/Funds have been released.

The Soekarno funds are Not part of the WGS and have not yet been released.

I’m currently working confirmation that mortgages in the US are being paid off and trying to get clarification of which program/funds are involved. 

“Casper’s” latest report  was a huge pile of disinfo and lies. I’ve suspected that he’s is a disinformation specialist for a while, and this report absolutely confirms it.  A few facts mixed with a whole lot of bull crap.

The Federal Reserve is NOT printing more money.   They have not printed money since 2009, and haven’t printed even a single bill to replace the old and tattered bills since 2010.  You can’t print anything if you don’t have printing presses or paper. QE3 is not what it seems nor what is being reported in the media.

Kerry from Project Camelot posted THIS yesterday:

I am being told there are at least 3 confirmations of something going on off the coast of San Francisco, involving US Navy Ships and an unknown number of Chinese vessels.  I am being told this involves the arrest of possibly around 600 bankers.. who may be being held in a US ship… under arrest by the Hague.  The arrests are being carried out by the U.S. military.At this time, regardless of the fact that i have more data I am being asked by at least one source not to go into any more detail than that.  Apparently there are a number of operations going on at this time.At least one source has suggested that this may actually be a cover operation for something more far reaching.
 This week I had two separate sources pass me this information as well.

Regardless of the people out there bashing Drake and his messages, the arrests are taking place- quietly- and as soon as a certain financial event takes place, we will hear much more on this topic. 

I know that the vast majority of people are unwilling, or incapable, of believing in something they can’t see or hear in the media.  It takes a leap of faith to put your hope on something unseen…
…but that’s where we are at right now.  I can tell you some of what I know is happening, the rest is a leap that is a combination of faith, hope, and following your inner voice that deep inside tells you that change is here.
******************************************************

President Eddie Soekarno, the Amanah, the Book of Maklumat, and the Indonesian connection
As more information continues to come forth regarding the parameters of this extraordinary lawsuit and its ramifications on the freeing up of the global economy, the pieces of the puzzle are slowly beginning to fit together.
     As stated previously, in exchange for the gold which was surrendered by the Kuomintang government and the Dragon Family, bonds were issued in both 1928 as well as 1934 by the Federal Reserve Bank.  An additional series of bonds were issued in 1968.  These were known as ‘Kennedy Bonds’.  The issuance of these bonds provides a key link back to the aforementioned Green Hilton Memorial Agreement, signed by president John F. Kennedy.  According to the lawsuit,
“The Kennedy Bonds represent a series of notes printed for the purpose of creating a settlement fund for the gold and other precious metals transferred to the United States under the terms of the Green Hilton Memorial Agreement (GHMA), November 11, 1963 which was executed by, among others, President John F. Kennedy and President Soekarno, the first President of Indonesia, who had previously been entrusted with the care of the gold.”

Yet another series of bonds were issued in 1998 as part of the Dragon Families attempts to collect interest on previously issued bonds.  In each instance of bond issuance, the obligations for payment were never met by the Federal Reserve nor by the Bank for International Settlements.  According to the wording of the Keenan federal lawsuit, in a statement made by Akihiko Yamaguchi, a “Signatory of the Dragon Family”, and the same gentleman mentioned previously as being a part of the Chiasso incident,
“We, the Dragon Family, requested some interest to the U.S. Government on 1998…And, we have received the Kennedy Bonds, issued in 1998, as one of the interest payments from the U.S. Government.  I recognize as my position that the Kennedy Bonds were issued by the U.S. Government as the interest only for the Dragon Family.”

According to the wording of the lien against the Federal Reserve bank, 

“The gold was acquired through a time when gold coin and gold bullion could not be privately owned and had to be surrendered to the State.  The States combined the bullion into a single central deposit (the BIS) whereby all countries would have equitable access.  The gold is actually owned by the Governments through their Ministry of Finance.  In 1948, under U.N. Resolution MISA 81704, Operation Heavy Freedom, President Soekarno was appointed as M1 (Monetary Controller) and the entire centralized system was put under his disposal as Trustee.  It is deposited into the system by a group of Trustees appointed by Soekarno.  These trustees formed an association of Trustees now known as the Amanah, otherwise known as the Mandates.  The Mandates have assigned their authority over the accounts to Neil F. Keenan and Keith F. Scott.”

What can be gleaned from this is that this entire cache of gold has been passed between trustees (Soekarno – The Amanah – Neil Keenan) since at least the late 1940′s.  The way in which the rightful owners of this gold, the Dragon family and other Asian societies, have kept track of their deposits is through something known as the The Book of Maklumat or The Book of Codes.  According to Benjamin Fulford, in an article posted on the 8th of November, 2011, just weeks before the Keenan lawsuit was filed (viewable HERE), 
“This is a book that details the historical ownership of much of the world’s gold by a group of Asian royal families. They also have copies of the original cash certificates and evidence of how this money was transferred to the custodianship of the Government of the United States for the use on behalf of the international community.”
The following short audio clip from David Wilcock (HERE) explains in very simple terms the entire history of everything that you have read previously.  
     What is also coming to light is the fact that vast swaths of gold remain buried throughout the nation of Indonesia, perhaps even far more than was buried in the Philippines by Japan during Operation Golden Lily.  Whether or not this is gold that was put on deposit through the BIS and the Federal Reserve or if it is in fact part of a vast network of treasure which was buried and kept secret by the Asian royal families is as yet unknown.  It has also been brought to the attention of this writer that large amounts of gold are buried within Taiwan, Thailand, and Australia.  Once again, it is not quite certain as to whether or not this gold has been ‘put on deposit’ or whether it has been kept a closely guarded secret.  It also bears noting that according to the wording of the Keenan Federal lawsuit, the total value of the bonds granted to the Dragon family over the course of the past eighty years stretches into the “many thousands of trillions of United States Dollars.” 
  
Pictures of Southeast Asian gold vaults provided to this writer by Drake Bailey via Neil Keenan
Gold vault in Thailand
One final thing bears noting in regards to this lawsuit and these liens.  According to personal testimony from some of the principals involved, this writer understands that there are several different financial packages that are currently on the table in regards to what exactly will take place once these funds are released, and once the cabalist structure is removed from power.  As mentioned previously, this is a world-wide effort involving more than 140 nations.  Part of the discussion involves the funding of a plethora of ground-breaking new technologies which are currently in operation and have been very carefully suppressed for at least one hundred years.  As we shall see in Part III of this research report, these new technologies have the potential to usher the world into a new golden age by providing cheap and limitless new sources of energy that will bring the world out of poverty, clean up all toxicity (air, land and sea), provide nutritious food and clean water to every person on earth, and lead us into a new dawn of deep space travel.
There was an error in this gadget

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907