Titimangsa

Titimangsa
Mendidik | Cerdas | Inovativ

Thursday, 29 April 2010

Sarana Penyebaran Budaya di Nusantara pada Masa Lampau

http://www.wacananusantara.org/2/664/perahu:-sarana-penyebaran-budaya-di-nusantara-pada-masa-lampau


Perahu: Sarana Penyebaran Budaya di Nusantara pada Masa Lampau

Bambang Budi Utomo
(Pusat Penelitian Arkeologi)
Pengantar
Para pakar sejarah kemaritiman menduga bahwa perahu telah lama memainkan peranan penting di wilayah perairan Nusantara pada masa jauh sebelum bukti tertulis menyebutkannya (prasasti dan naskah-naskah kuno). Dugaan ini didasarkan atas sebaran artefak perunggu seperti nekara, kapak, dan bejana perunggu di berbagai tempat di Nusantara mulai dari Sumatra hingga Irian, Sulawesi Utara hingga Rote. Berdasarkan bukti-bukti ini, mereka yakin bahwa pada masa akhir prasejarah telah dikenal adanya jaringan perda¬gangan antara Nusantara dan Asia daratan. Kemudian pada sekitar awal abad pertama Masehi diduga telah ada jaringan perdagangan antara Nusantara dan India. Bukti-bukti tersebut berupa barang-barang tembikar dari India (Arikamedu, Karaikadu dan Anuradha-pura) yang ditemukan di Jawa Barat (Patenggeng) dan Bali (Sem¬biran). Keberadaan barang-barang tembikar tersebut di Nusantara tentunya diangkut dengan perahu/kapal yang mampu mengarungi samudra.
Bukti tertulis tertua mengenai pemakaian perahu/kapal sebagai sarana transportasi laut tertulis pada Prasasti Kedukan Bukit (16 Juni 682 Masehi). Pada prasasti tersebut diberitakan:”Dapunta Hiyaŋ bertolak dari Minańa sambil membawa pasukan sebanyak dua laksa dengan perbekalan sebanyak 200 peti naik perahu...”. Pada masa yang sama, pada relief Candi Borobudur (abad ke-7-8 Masehi) dipahatkan beberapa macam bentuk kapal dan perahu. Dari relief ini dapat direkonstruksi dugaan bentuk-bentuk perahu/kapal yang sisa¬nya ba¬nyak ditemukan di beberapa tempat di Nusantara, misalnya di Sumatra.
Dalam makalah yang sederhana ini saya akan sedikit membicarakan mengenai teknologi rancang-bangun perahu/kapal yang dahulu pernah malang melintang di perairan Nusantara. Data yang dipakai sebagai percontoh adalah sisa perahu dari Situs Samirejo dan Kolam Pinisi yang keduanya di temukan di wilayah Provinsi Sumatra Selatan.
Perahu
Papan kayu yang merupakan sisa sebuah perahu kuno dari Situs Samirejo, Sumatra Selatan. Bentuk segi empat panjang berjajar di bagian atas papan adalah tambuko, bagian untuk mengikat satu pa-pan dengan papan lain. Di sebelah kanan tampak kemudi kuno yang ditemukan dekat dengan papan-papan kayu.

1. Bukti Arkeologis
Bukti arkeologis transportasi air banyak ditemukan di berbagai tempat di Nusantara. Bukti-bukti tersebut berupa papan-papan kayu yang merupakan bagian dari sebuah pe¬rahu dan daun kemudi yang ukurannya cukup besar. Dalam makalah sederhana ini saya akan kemukakan beberapa buah runtuhan perahu yang ditemukan di Sumatra Selatan (Situs Samirejo dan Kolam Pinisi).
1.1 Samirejo
Situs Samirejo secara administratif terletak di Desa Samirejo, Keca-matan Mariana, Kabupaten Musi Banyuasin (Sumatra Selatan). Situs ini merupakan suatu tempat pada lahan gambut. Sebagian besar arealnya merupakan rawa-rawa. Bebera¬pa batang sungai yang berasal dari daerah rawa bermuara di Sungai Musi. Dari lahan rawa yang basah ini pada bulan Agustus 1987 ditemukan sisa-sisa perahu kayu. Sisa perahu yang ditemukan terdiri dari sembilan bilah papan dan sebuah kemudi. Dari sembilan bilah papan itu, dua bilah di antaranya berasal dari sebuah perahu, dan tujuh bilah lainnya berasal dari perahu yang lain.
Sisa perahu yang ditemukan itu dibangun secara tradisionil di daerah Asia Tenggara dengan teknik yang disebut “papan ikat dan kupingan pengikat” (sewn-plank and lashed-lug technique) dan diper¬kuat dengan pasak kayu/bambu. Papan kayu yang terpanjang berukuran panjang 9,95 meter dan terpendek 4,02 meter; lebar 0,23 meter; dan tebal sekitar 3,5 cm. Pada jarak-jarak tertentu (sekitar 0,5 meter), pada bilah-bilah papan kayu itu terdapat bagian yang menonjol yang berde¬nah empat persegi panjang, disebut tambuko. Di bagian itu terdapat lubang yang bergaris tengah sekitar 1 cm. Lubang-lubang itu tembus ke bagian sisi papan. Tambuko disediakan untuk memasukkan tali pengikat ke gading-gading. Papan kayu dengan tebal 3,5 cm itu, dihubungkan dengan bagian lunas perahu dengan cara mengikatnya satu sama lain. Tali ijuk (Arenga pinnata) mengikat bilah-bilah papan yang dilubangi hingga ter-su¬sun seperti bentuk perahu. Kemudian dihubungkan dengan bagian lunas perahu hingga menjadi dinding lambung. Sebagai penguat ikatan, pada jarak tertentu (sekitar 18 cm) dari tepian papan dibuat pasak-pasak dari kayu/bambu. Dari hasil rekonstruksi dapat diketahui bahwa perahu yang ditemukan di desa Sambirejo berukuran panjang 20-22 meter. Berdasarkan analisis laboratorium terhadap Karbon (C-14) dari sisa perahu Samirejo adalah 1350 ± 50 BP, yang mana sesuai dengan tahun 610-775 Masehi.
kemudi Kapal
Kemudi perahu yang ditemukan mempunyai ukuran panjang 6 meter. Bagian bilah kemudinya berukuran lebar 50 cm. Kemudi ini dibuat dari sepotong kayu, kecuali bagian bilahnya di¬tambah kayu lain untuk memperlebar. Di bagian atas dari sumbu tangkai kemudi terdapat lubang segi empat untuk memasukkan palang. Di bagian tengah kemudi terdapat dua buah lubang yang ukurannya lebih kecil untuk memasukkan tali pengikat kemudi pada kedudukannya. Bentuk kemudi semacam ini banyak ditemukan pada perahu-perahu besar yang berlayar di perairan Nusantara, misalnya perahu Pinisi.
1.2 Kolam Pinisi
Situs ini terletak di kaki sebelah barat Bukit Siguntang, sekitar 5 km. ke arah barat dari kota Palembang. Ekskavasi yang dilakukan pada tahun 1989 berhasil ditemukan lebih dari 60 bilah papan sisa sebuah perahu kuno. Meskipun ditemukan dalam jumlah yang banyak, namun keadaannya sudah rusak sebagai akibat aktivitas penduduk di mala lampau untuk mencari harta karun. Papan-papan kayu tersebut pada ujungnya dilancipkan kemudian ditancapkan ke dalam tanah untuk memperkuat lubang galian.
Papan-papan kayu yang ditemukan berukuran tebal sekitar 5 cm dan lebar antara 20-30 cm. Seluruh papan ini mempunyai kesamaan dengan papan yang ditemukan di Situs Samirejo, yaitu tembuko yang terdapat di salah satu permukaannya, dan lubang-lubang yang ditatah pada tembuko-tembuko tersebut seperti halnya pada tepian papan untuk memasukkan tali ijuk yang menyatukan papan perahu dengan gading-gading serta menyatukan papan satu dengan yang lainnya. Pada bagian tepi papan terdapat lubang-lubang yang digunakan untuk menempatkan pasak kayu/ bambu untuk memperkuat badan perahu. Pertanggalan karbon C-14 menghasilkan pertanggalan kalibrasi antara 434 dan 631 Masehi.
2. Teknik rancang-bangun perahu/kapal
Entah sejak kapan nenek moyang bangsa Indonesia mengenal pembuatan perahu. Hanya sedikit data arkeologi maupun data sejarah yang berhasil mengung-kapkan tentang hal itu. Satu-satunya data arkeologi yang sedikit mengungkapkan teknologi pembangunan perahu adalah dari lukisan gua. Di situ kita dapat melihat bagaimana bentuk perahu pada masa prasejarah. Bentuk perahu pada masa itu dapat dikatakan masih sangat sederhana. Jika dibandingkan dengan teknik pembuatan perahu pada masyarakat yang masih sederhana, mungkin ada kesamaannya. Sebatang pohon yang mempunyai garis tengah batang cukup besar mereka tebang. Kemudian bagian tengahnya dikeruk dengan menggunakan alat sederhana, seperti beliung dari batu. Nampaknya mudah, tetapi dalam kenyataannya cukup sulit. Dinding perahu harus dapat diperkirakan tebalnya. Tidak boleh terlampau tebal atau terlampau tipis. Jangan sampai badan perahu mudah pecah atau bocor apabila terantuk karang atau kandas di pantai yang keras. Apabila bentuk dasar sudah selesai, kemudian barulah diberi cadik di sisi kiri dan kanan badan perahu. Perahu jenis ini dinamakan perahu lesung atau sampan. Ukuran panjangnya kira-kira 3-5 meter dan lebar sekitar 1 meter. Contoh membangun perahu dengan tekno¬logi yang masih sederhana ini dapat dilihat pada suku-suku bangsa yang masih sederhana yang bermata-pencaharian dari menangkap ikan di sungai, danau atau di laut dangkal.
Pada jaman prasejarah, perahu bercadik memainkan peranan yang besar dalam hubungan perdagangan antar-pulau di Indonesia dan antara kepulauan di Indonesia dengan daratan Asia Tenggara. Karena adanya hubungan dengan daratan Asia Tenggara, maka terjadilah tukar menukar informasi teknologi dalam segala bidang, misalnya dalam pembangunan candi, pembangunan kota, dan tentu saja pembangunan perahu.
Akibat ada hubungan dengan daratan Asia Tenggara, dalam pembangunan perahu pun ada suatu kemajuan. Di seluruh perairan Nusantara, banyak ditemukan runtuhan perahu/kapal yang tenggelam atau kandas. Dari runtuhan itu para pakar perahu dapat mengidentifikasikan teknologi pembangunan perahu. Para pakar telah merumuskan teknologi tradisi pembangunan perahu berdasarkan wilayah budayanya, yaitu Wilayah Budaya Asia Tenggara dan Wilayah Budaya Cina (Manguin 1987: 47-48).

Pada relief Candi Borobudur terdapat 11 buah gambar perahu/kapal, dan van Erp (1923) membaginya dalam tiga jenis, yaitu 1) perahu lesung, 2) pe-rahu yang dipertinggi dengan cadik, dan 3) perahu lesung yang dipertinggi tanpa cadik.
Perahu yang dibuat dengan teknologi tradisi Asia Tenggara mempunyai ciri-ciri khas, antara lain badan (lambung) perahu ber¬bentuk seperti huruf V sehingga bagian lunasnya berlinggi, haluan dan buritan lazimnya berbentuk simetris, tidak ada sekat-sekat kedap air di bagian lambungnya, dalam seluruh proses pembangunannya sama sekali tidak menggunakan paku besi, dan kemudi berganda di bagian kiri dan kanan buritan. Teknik yang paling mengagumkan untuk masa kini, adalah cara mereka menyambung papan. Sela¬in tidak menggunakan paku besi, cara menyambung satu papan dengan papan lainnya adalah dengan mengikatnya dengan tali ijuk. Sebilah papan, pada bagian tertentu dibuat menonjol. Di bagian yang me¬nonjol ini, diberi lubang yang jumlahnya 4 buah menembus ke bagian sisi tebal. Melalui lubang-lubang ini tali ijuk kemudian dimasukkan dan diikatkan dengan bilah papan yang lain. Di bagian sisi yang tebal, diperkuat dengan pasak-pasak kayu/bambu. Teknik penyambungan papan seperti ini dikenal dengan istilah “teknik papan ikat dan kupingan pengikat” (sewn-plank and lashed-lug technique).
Sisa perahu yang ditemukan di Samirejo dan Kolam Pinisi, juga sisa perahu yang ditemukan di tempat lain di Nusantara dan negara jiran, ada kesamaan umum yang dapat kita cermati, yaitu teknologi pembuatannya. Teknologi pembuatan perahu/kapal yang ditemukan itu, antara lain a) teknik ikat, b) teknik pasak kayu/ bambu, c) teknik gabungan ikat dan pasak kayu/bambu, dan d) perpaduan teknik pasak kayu dan paku besi. Melihat teknologi rancang-bangun perahu/kapal tersebut, dapat kita ketahui pertanggalannya.
Bukti tertulis tertua yang berhubungan dengan penggunaan pasak kayu/bambu dalam pembuatan perahu/kapal di Nusantara berasal dari sumber Portugis awal abad ke-16 Masehi. Dalam sumber itu disebutkan bahwa perahu-perahu niaga orang Melayu dan Jawa yang disebut Jung (berkapasitas lebih dari 500 ton) dibuat tanpa sepotong besipun di dalamnya. Untuk menyambung papan maupun gading-gading hanya digunakan pasak kayu. Cara pembuatan perahu dengan teknik tersebut masih tetap ditemukan di Nusantara, seperti yang terlihat pada perahu-perahu niaga dari Sulawesi dan Madura yang kapasitasnya lebih dari 250 ton.
Kapal-kapal yang dibangun menurut tradisi Cina mempunyai ciri-ciri khas antara lain tidak mempunyai bagian lunas (bentuk bagian dasarnya membulat), badan perahu/kapal dibuat berpetak-petak dengan dipasangnya sekat-sekat yang strukturil, antara satu papan dengan papan lain disambung dengan paku besi, dan mempunyai kemudi sentral tunggal. Dari sekian banyak perahu kuno yang ditemukan di perairan Nusantara, sebagian besar dibangun dengan teknik tradisi Asia Teng-gara. Keturunan dari kapal-kapal yang dibangun dengan teknik tradisi Asia Tenggara adalah kapal Pinisi dan beberapa perahu tradisionil di berbagai daerah di Nusantara. Pada perahu Pinisi, teknik papan ikat dan kupingan pengikat dengan menggunakan tali ijuk sudah tidak dipakai lagi. Para pelaut Bugis sudah menggunakan teknik yang agak modern, tetapi masih mengikuti teknik tradisi Asia Tenggara.
Dalam bukunya, Antonio Galvao, seorang Portugis, pada tahun 1544 telah menguak tabir pembangunan perahu/kapal di Nusantara sebelah timur (daerah Maluku dan sekitarnya) (Poesponegoro dkk. 1984 (3): 112-113). Dia menguraikan antara lain teknik pembangunan kapal orang Maluku. Menurutnya, bentuk kapal orang Maluku yang menyerupai telur dengan kedua ujung dibuat melengkung ke atas dimaksudkan supaya kapal itu dapat berlayar maju dan mundur.
Sukubangsa Bugis adalah sukubangsa perantau. Banyak di antara mereka pergi meninggalkan kampung halamannya untuk pergi merantau ke tempat-tempat lain di Nusantara. Di tempat yang mereka tuju, mereka tinggal di tepi-tepi dan muara sungai besar, misalnya di Batanghari (Jambi). Di tepi sungai dekat hutan mereka membangun pemukiman dan juga membangun perahu pinisi. Bahan baku kayu diambil dari hutan sekitarnya. Setelah perahu selesai mereka pergi meninggalkan kampung tersebut.
Kapal itu tidak dipaku atau didempul, tetapi diikat dengan tali ijuk melalui lubang yang dibuat di bagian lunas, rusuk, linggi depan, dan linggi belakang. Di bagian dalam terdapat bagian yang menonjol dan berbentuk cincin untuk tempat memasukkan tali ijuk pengikatnya. Papan-papan disambung dengan pena (pasak) kayu atau bambu yang dimasukkan pada lubang kecil di ujung depan. Sebelumnya, pada bagian sambungan papan diolesi dengan baru (semacam damar) agar air tidak dapat masuk. Kemudian papan-papan pun disambung berapit-apit dengan kemahiran tinggi, sehingga orang yang melihatnya akan mengira bahwa bentuk itu terbuat dari satu bilah papan saja. Pada bagian haluan kapal dibuat hiasan ular naga bertanduk.
3. Penutup
Berbicara mengenai kebaharian, rasanya kurang lengkap kalau tidak membicarakan Śrīwijaya. Berdasarkan berita-berita tertulis yang sampai kepada kita, kerajaan ini telah malang melintang di perairan Asia Tenggara sampai ke daerah Madagaskar di selatan benua Afrika. I-tsing, seorang pendeta agama Buddha dari Cina, banyak mencatat perkembangan Kadātuan Śrīwijaya pada sekitar abad ke-7 Masehi. Ia mengatakan bahwa pelayaran ke negeri Cina dilakukan oleh kapal-kapal Śrīwijaya. Sebuah studi pelayaran masa lampau juga memperoleh bukti, bahwa banyak nama-nama tempat di pantai Campa dan Annam (Vietnam sekarang) berasal dari bahasa Melayu. Hal ini mendukung pendapat bahwa pelayaran orang-orang Mālayu ke negeri Cina memang dilakukan oleh pelaut-pelaut Mālayu dengan meng-gunakan perahunya sendiri. Studi Wolters, seorang pakar Śrīwijaya dari Cornell University, mengenai abad-abad praŚrīwijaya pun membawa kita pada kesimpulan bahwa “the shippers of the ‘Persian’ trade” adalah orang-orang Mālayu (Wolters 1967). Orang-orang Mālayu memang pelaut ulung, sehingga orang-orang Portugis membuat buku pandu laut (roteiros) berdasarkan petunjuk-petunjuk dari pelaut Mālayu. Ketangguhan bangsa Mālayu sebagai pelaut ulung hingga sekarang masih tersisa, misalnya seperti yang masih dapat disaksikan pada suku bangsa Melayu di daerah Kepulauan Riau.
Bukti tertulis mengenai penggunaan perahu sebagai sarana transportasi pada masa Śrīwijaya diperoleh dari prasasti, Berita Cina, dan Berita Arab. Prasasti Śrīwijaya yang menyebutkan penggunaan perahu adalah prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 16 Juni 682 Masehi. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Dapunta Hiyaŋ berangkat dari Minańa dengan membawa 20.000 pasukan dan 200 buah peti perbekalan yang diangkut dengan perahu-perahu. Apabila kita bandingkan dengan perahu Pinisi yang dapat mengangkut 500 orang, maka perahu yang dibutuhkan Dapunta Hiyaŋ dalam ekspedisinya sekurang-kurangnya 40 buah perahu yang seukuran dengan perahu Pinisi.
Di daerah kepulauan itu tinggal suku bangsa yang hidupnya sebagian besar tergantung kepada hasil laut. Di samping itu kesenian daerahnya pun selalu meng-gambarkan kehidupan laut. Ingatlah akan salah satu syair dendang Melayu yang bunyinya Perahu Cina ke Indragiri. Anaklah Riau jadi nahkoda. Dan masih banyak lagi syair-syair dendang Melayu yang berbau laut.
Tidak ada satupun sukubangsa yang berkebudayaan lebih maritim daripada sukubangsa Orang Laut. Sukubangsa ini mendiami daerah-daerah muara sungai dan hutan bakau di pantai timur Pulau Sumatra, Kepulauan Riau-Lingga, dan pantai barat Semenanjung Malaysia sampai ke Muangthai selatan (Lapian 1979:99). Mereka hidup di rumah-rumah di atas perahu menjadikan mereka ‘orang laut’ dalam arti yang sesungguhnya. Sebuah berita Cina yang berasal dari tahun 1225 menguraikan tentang rakyat di kerajaan Swarnnabhūmi. Disebutkan bahwa rakyat tinggal di sekitar kota atau di atas rakit yang beratap rumbia. Mereka itu tangkas dalam peperangan baik di darat maupun di laut. Dalam peperangan dengan negara lain, mereka berkumpul. Berapa pun keperluannya, dipenuhi. Mereka sendiri yang memilih panlima dan pemimpinnya. Semua pengeluaran utuk persenjataan dan perbekalan ditanggung oleh mereka masing-masing. Dalam menghadapi lawan dengan resiko mati terbunuh, di antara bangsa-bangsa lain sukar dicari tadingannya. Mungkinkah Orang Laut yang mendiami Sumatra bagian timur itu keturunan dari mereka itu ?
Akhirnya, mungkin perlu kita cermati dan tindaklanjuti pidato salah satu pimpinan parpol pemenang Pemilu 1999 yang mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara maritim tetapi dalam bidang kemaritiman (termasuk ketahanan laut) kita sangat tertinggal, dan pentingnya sumberdaya laut yang belum tergarap maksimal. Khusus untuk pertahanan laut, seorang sastrawan terkenal pemenang Magsasay berkomentar “Sebagai negara maritim mengapa kita tidak membangun angkatan laut, dan mengapa justru angkatan darat yang diperkuat”. Meskipun dengan teknologi yang sederhana, nenek moyang kita dapat berjaya di Nusantara dan dapat mengarungi samudra yang luas.
Kepustakaan
Koestoro, Lucas Partanda, 1993, “Tinggalan Perahu di Sumatra Selatan: Perahu Sriwijaya?”, dalam Sriwijaya dalam perspektif arkeologi dan sejarah hal. C1-1-10. Palembang: Pemerintah Da¬erah Tk. I Provinsi Sumatra Selatan.
Lapian, A.B., 1979, “Pelayaran dalam Periode Sriwijaya”, dalam Pra Seminar Penelitian Sriwijaya hal. 95-104. Jakarta: Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala Departemen P&K.
Petersen, Eric, 2000, Jukung Boats from the Barito Basin, Borneo. Roskilde: The Viking Ship Museum.
Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto, 1984, Sejarah Nasional Indonesia III, Jakarta: Balai Pustaka.
Wolters, O.W., 1967, Early Indonesian Commerce: A Study of the origin of Sriwijaya. New York: Cornell University Press.
Makalah yang diajukan dalam Diskusi Panel Ahli II (Pembahasan Materi Tata Pamer Museum Bahari) yang diselenggarakan pada tanggal 21 Oktober 2002 di Ruang Rambuti, Hotel Sofyan Cikini, Jakarta.


Sumber Tulisan:

Deklarasi Raja, Sultan dan Kepala Kampung Adat Sunda

http://www.pikiran-rakyat.com/node/112075


BANDUNG,(PRLM).- Para Raja dan Sultan Nusantara serta Kepala Kampung Adat Sunda mengeluarkan deklarasi untuk membangkitkan kembali kearifan lokal sebagai salah satu solusi untuk menghadapi tantangan global.

Para raja dan sultan Nusantara menyadari bahwa dalam pelaksanaannya harus dilandasi oleh rasa kebersamaan yang tinggi, senasib seperjuangan, sama-sama merasa memiliki, sama-sama ikut memelihara. Serta menyadari bahwa diperlukan hubungan ikatan kerjasama dibidang seni dan budaya yang berbasis ekonomi sosial budaya di kalangan ASEAN Plus dengan ikatan emosional yang kuat antar bangsa ASEAN Plus sehingga tercipta kesejahteraan bagi masyarakat ASEAN Plus.

Demikian kutipan dari Deklarasi Raja dan Sultan Nusantara pada Konvensi Adat Raja-raja dan Sultan Nusantara, bertempat di Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Senin (26/4). “Sesungguhnya rasa persaudaraan antar bangsa merupakan suatu kebutuhan yang hakiki dari hak dan merupakan hak azasi manusia untuk dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Bangsa-bangsa di Asean mempunyai nilai historis yang sama, berasal dari satu rumpun bangsa yang sama, dengan budaya sebagai perekatnya,” ujar Benny Ahmad Samu Samu, Raja Samu Samu VI dari Negeri Abubu, Pulau Nusa Laut, Provinsi Maluku, salah seorang raja peserta Konvensi Adat Raja-raja dan Sultan Nusantara 2010.

Kerajaan dan Kesultanan di Nusantara yang tersebar di negara Asean menurut Benny, berasal dari satu rumpun dan keturunan, karenanya sudah sepantasnya menjunjung persaudaraan melalui wujud persatuan dan kesatuan dalam perdamaian.

“Dalam deklarasi yang kami tandatangani bersama karena kami para raja, sultan dan pemangku adat merasa dari latarbelakang dan ini harus dapat dibuktikan melalui eksistensinya dalam menjawab tantangan Globalisasi,” ujar Benny. (A-87/A-26).***

Raja-raja dan Sultan Gelar Konvensi




http://bataviase.co.id/node/187432

Raja Sultan Gelar Konvensi

BANDUNG, (PR).

Rasa persaudaraan antarbangsa merupakan kebutuhan hakiki dan hak asasi manusia untuk dilaksanakan sungguh-sungguh. Bangsa-bangsa di ASEAN mempunyai nilai historis dan dari satu rumpun bangsa yang sama, dengan budaya sebagai perekatnya.

Demikian deklarasi yang disepakati raja dan sultan nusantara serta sejumlah pemangku serta kepala adat pada Konvensi Adat Raja-raja dan Sultan Nusantara di Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, Senin (26/4). "Kami merasa berasal dari satu rumpun dan keturunan maka sudah sepantasnya kami menjunjung persaudaraan melalui wujud persatuan dan kesatuan dalam perdamaian," ujar Benny Ahmad Samu Samu, Raja Samu Samu VI dari Negeri Abubu, Pulau Nusa Laut, Maluku.

Dalam deklarasi tersebut, para raja, sultan, dan pemangku adat merasa harus dapat membuktikan eksistensinya dalam menjawab tantangan global. "Selain itu, implikasi dari reformasi birokrasi serta refleksi dari demokrasi semakin menuntut dalam menumbuhkan persaingan di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi tidak harus mengesampingkan persatuan dan kesatuan," ujar Benny.

Tiga kesepakatan

Konvensi Adat Raja-raja dan Sultan Nusantara menghasilkan tiga kesepakatan. Ketiga kesepakatan itu, yaitu para raja dan sultan nusantara menyadari untuk membangkitkan kembali kearifan lokal menghadapi tantangan global.Kemudian, menyadari bahwa dalam pelaksanaannya ha-rus dilandasi rasa kebersamaan yang tinggi, senasib seper-juangan, sama-sama merasa memiliki, dan sama-sama ikut memelihara. Selanjutnya, menyadari bahwa diperlukan hubungan ikatan kerja sama di bidang seni dan budaya yangberbasis ekonomi sosial budaya di kalangan ASEAN plus.

"Melalui pertemuan setiap tahun, kami berharap semakin mempererat persatuan dan kesatuan serta menciptakan kedamaian," ujar Hj. Rustuty Rumaeesan, dari Kerajaan Sekar, Papua Barat. Konvensi tersebut dihadiri sekitar lima puluh perwakilan raja dan sultan serta kepala adat dari sejumlah daerah di tanah air. Selain itu, konvensi juga dihadiri sejumlah sultan dan putri sejumlah kerajaan di Malaysia, seperti Sri Ratu Sandong dan Puteri Fauziah dari Kelantan Malaysia. (A-87)*"

Entitas terkaitASEAN | Kelantan | Kerajaan | Ketiga | Konvensi | Negeri | Papua | Rasa | Rustuty | Konvensi Adat | Pulau Nusa | Puteri Fauziah | Sultan Nusantara | Benny Ahmad Samu | Sri Ratu Sandong | Raja Samu Samu VI | Raja Sultan Gelar Konvensi | Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa |
Ringkasan Artikel Ini
Demikian deklarasi yang disepakati raja dan sultan nusantara serta sejumlah pemangku serta kepala adat pada Konvensi Adat Raja-raja dan Sultan Nusantara di Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, Senin (26/4). "Kami merasa berasal dari satu rumpun dan keturunan maka sudah sepantasnya kami menjunjung persaudaraan melalui wujud persatuan dan kesatuan dalam perdamaian," ujar Benny Ahmad Samu Samu, Raja Samu Samu VI dari Negeri Abubu, Pulau Nusa Laut, Maluku.

Jumlah kata di Artikel : 315
Jumlah kata di Summary : 70
Ratio : 0,222

*Ringkasan berita ini dibuat otomatis dengan bantuan mesin. Saran atau masukan dibutuhkan untuk keperluan pengembangan perangkat ini dan dapat dialamatkan ke tech at mediatrac net.


Wednesday, 28 April 2010

The Truth is out There... (Historical of Fallen President of Republic Indonesia)

http://www.facebook.com/ari.harmedi?v=info#!/notes/andy-shabet/the-truth-is-out-there-historical-of-fallen-president-of-republic-indonesia/218323653200

Fall President Indonesia based on Pancasila caused by devide et impera tactics:

1. Belief in one God (Soekarno imposed on charges that he is a communist.)
2. Humanity is just and civilized (Suharto accused of crimes dropped for serious violations of humanity.)
3. Indonesia Bersatu (Habibie fell after timor east out of Indonesia)
4. Democracy guided by the wisdom of representative deliberation (Abdurrahman Wahid was dropped after the decree and plan of People's Representative Council dissolved)
5. Social Justice for the People of Indonesia (Megawati fell after selling state assets to foreigners)

But all that is devide et impera tactic of foreign nations in the scenario for Indonesia to cover the history of this great nation. and the truth is:

1. Sukarno was dropped after a 1963 agreement with Hilton Green JFK, and after that Sukarno overthrown and assassinated JFK.
2. Suharto imposed for alleged corruption and other crimes for saving human assets is mandated by Bung Karno to form a new world according to Green hilton memorial. not to be used for luxurious for developed countries but usedi for humanitarian projects.
3. Habibie aware of this but he was betrayed by the foreigners so off the east Timor.
4. Abdurrahman Wahid was also around the world after he discovered assets of this nation in China, and after taking care that he dropped.
5. Megawati knows the history of these assets, and know that Temasek is owned by an Indonesian, so he took off indosat but also by the scenario trapped foreigners who want to control these assets.

But assets for humanitarian purposes is now mixed up by the assets of the results of human crime (drugs, war, corruption). To this Bapak Muhammad Subuh foynder of SUBUD organization want to separate return these assets into " Bank Susila Bhakti" with the aim of The Bank is one thing that separates between the angels money and demons money, but what happened until now these assets contested by the parties that religion is not to humanity purpose but to raise their respective religion. This is the irony of the world as to religious belief is more than belief in The One and Almighty God.

This is the greatest challenge now president of Indonesia, led by the leadership of Subud "Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono"


Tuesday, 20 April 2010

RUU Tentang Transfer Dana

Ruu Tentang Transfer Dana

Mengenal Bentuk Uang

http://harga-emas.com/mengenal-bentuk-uang/


Perlu Anda ketahui, Uang berdasarkan bentuknya bisa dibagi menjadi beberapa kategori, antara lain yaitu:

* Uang Fiat. Kategori bentuk uang yang termasuk uang fiat memiliki sifat dimana nilai nominalnya jauh lebih tinggi dari bahan pembuat uangnya. Jadi bentuk uang tersebut ditetapkan oleh pemerintahan negera sebagai alat tukar uang sah dalam berbisnis. Untuk memperjelasnya, uang lembaran Rp100.000,- (seratus ribu rupiah) dapat ditukarkan / dibelikan barang dengan nilai setara Rp.100.000,- tapi bila kita lihat bahan pembuat uangnya tidak bernilai seperti itu. Uang kertas dengan nominal yang lain, nilai zat pembuatnya mungkin sama, namun nilai nominalnya berbeda sesuai dengan angka nominal yang tercantum diatasnya.

bentuk uang fiat

* Uang komoditas. Uang bentuk ini memiliki ciri yaitu nilai nominal yang tercantum didalamnya memiliki nilai yang sama dengan intrinsiknya, bila dilihat dari bahan pembuatnya. Jenis uang komoditas ini contohnya emas dan perak, yang dulu digunakan sebagai alat tukar dan bertransaksi bisnis, dimana nilainya sama dengan nilai yang tertera pada uang tersebut. Tentunya uang komoditas dengan nilai nominal lebih kecil memiliki berat yang juga kecil dan uang komoditas dengan nilai yang besar memiliki berat yang lebih besar.

uang komoditas

* Uang likuid hampir sempurna. Bentuk uang ini merupakan aset yang dapat dijadikan sebagai nilai tukar uang namun tidak semua pelaku bisnis mau menerimanya karena harus ditukar lebih dahulu. Contoh yang paling mudah adalah uang dalam bentuk cek bank.

cek Mengenal Bentuk Uang

Ya, penjelasan ketiga bentuk uang diatas semoga bisa membantu pemahaman Anda tentang bentuk uang.

Posted in: Uang.
Tagged: Bentuk Uang

Sunday, 11 April 2010

BUDAYA DINAMIKA KERATON NUSANTARA

http://kenduricinta.com/article.php?id=132

03 April 2009, 09:16:24
BUDAYA DINAMIKA KERATON NUSANTARA
Ditulis Oleh: Kanjeng Pangeran Haryo Gunarso G. Kusumodiningrat
BUDAYA DINAMIKA KERATON NUSANTARA



Oleh:

Kanjeng Pangeran Haryo Gunarso G. Kusumodiningrat

Sekjend : Forum Silaturahmi Keraton se Nusantara (FSKN)

Ketua Umum : Lembaga Pengamatan Penelitian Kraton-kraton se Nusantara (LP2K)



Pemaparan makalah dalam rangka  Sarasehan tabur kebahagiaan

“ Devolusi Anak Negeri ”

 Kamis, 02 April 2009

Di Gedung Kesenian Jakarta Pusat.





I.    LATAR BELAKANG.
Keberadaan Budaya sebagai aset bangsa, tidak  lepas dari sejarah yang lurus dan benar, merupakan peninggalan gagasan masa lampau, antara lain yaitu Budaya yang bersumber di Kerajaan-kerajaan se Nusantara yang kemudian dikenal, dibakukan sebagai Keraton yang diayomi oleh pemimpin komunitas Keraton dengan sesebutan Raja, Sultan, Panembahan, Pangeran Ratu, Datuk, Kadatuan, Suttan, Saoraja, Penglingsir Puri, Pemangku adat bekas Kerajaan yang telah hilang fisik bangunannya.

Kejelasan dari sudut pandang diatas, dimaksud agar tidak terjadi kekeliruan persepsi, sebagai hasil penelitian ilmiah, yang telah diputuskan dalam Konggres Musyawarah Agung - Forum Silaturahmi Keraton se Nusantara (FSKN) - I,  tanggal 29 Juli – 3 Agustus 2007 di Kuta – Bali. Dihadiri oleh 104 Keraton dan Lembaga Adat ex Kerajaan, yang posisi kedudukan Raja/Sultan terakhir disesuaikan dengan situasinya menjelang pasca Kemerdekaan RI.

Ibarat keberadaan asset budaya yang berada dilingkungan situs-situs peninggalan sejarah, tanpa menghidupkan tradisi adat-istiadat budaya di atasnya, dapat ditafsirkan sama dengan melihat benda mati, yang setiap individu mempunyai sudut pandang dan presepsi yang berbeda-beda.

Oleh karena itu semua situs peninggalan sejarah maupun fisik bangunan Keraton, bisa saja menjadi musium namun tidak untuk ” dimusiumkan” artinya, diatas tanah bertuah tersebut harus ada kehidupan yang menjadi ‘simbol panutan’ yaitu adat-istiadat, yang belakangan dengan perjuangan Forum Silaturahmi Keraton se- Nusantara (FSKN)  bersama  Lembaga Pengamatan Penelitian Kraton-kraton se- Nusantara (LP2K) mulai dapat dilestarikan dengan Payung Hukum melalui Permendagri No 39 tahun 2007, tentang Pedoman Fasilitasi Pelestarian Budaya untuk ormas  bidang Kebudayaan, Keraton dan Lembaga Adat.



II.    Pembagian Jaman dalam Penelitian Kerajaan di Nusantara.

Dari Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Pengamatan Penelitian Kraton –kraton se Nusantara (LP2K), dapat diasumsikan dan diperjelas untuk mempermudah, dengan membagi dalam 5 (lima) tahap jaman Kerajaan di  Nusantara :

1.    Zaman 100 thn Pemerintahan Hindia Belanda (1800an s/d 1900an) dimana 261 Kerajaan mendapat Pengakuan dengan Perjanjian Panjang (Politic contract) dan Perjanjian Pendek (Korte verklaring) (dokumen Leiden – Nedherland)

2.    Zaman Mataram, yang datanya telah tersimpan di Perpustakaan Keraton Surakarta, maupun Yogyakarta.

3.    Zaman Majapahit yang banyak dibuat buku-buku dari sumber di Arsip Nasional maupun dari Luar Negri.

4.    Zaman Sriwijaya dalam hal situs tempat lokasi Kerajaan, sangat minim akan bukti-bukti otentik peninggalan Kerajaan tersebut,  sehingga banyak informasi menjadi sebuah mitos dan cerita rakyat yang berkembang, daripada Penelitian secara Ilmiah.

5.    Periode Peradaban zaman Kerajaan  Mataram.

Kerajaan-Kerajaan besar yang pernah Berjaya pada masanya :

~    Kutai  ( th 300 – 1400 M )
~    Taruma Negara ( th 500 s/d 750 M )
~    Sriwijaya dan Melayu (th 650 – 1200M)
~    Pagaruyung ( th 1100 – 1400 M )
~    Singosari  (th 1200 – 1300 M )
~    Majapahit (th 1300 – 1550 M )
~    Setelah itu, Mataram, Kertosuro, Kasunanan Solo,    
~    Kasultanan Yogya, dan Keraton se Nusantara.

Jumlah Keraton yang masih ada, dari 300an Kerajaan pada era 100 tahun Pemerintahan Hindia Belanda, LP2K hanya berhasil mendata  127 Kerajaan dan Lembaga Adat ex Kerajaan di 23 Provinsi, 118 diantaranya telah bergabung dalam wadah FSKN.



III.    Dasar Pola Pikir Budaya yang Bersumber di Keraton sebagai panutan dan Pengayom Masyarakat .

Berbicara tentang Pemuliaan Budaya luhur, merupakan hal yang sangat erat kaitannya terhadap adat istiadat gagasan masa lampau yang sarat akan kebesaran jiwa, sangat menghormati kepada yang lebuh dituakan, mampu menahan diri, sanggup berkorban untuk kepentingan orang banyak, menjadi local leader  yang dapat dicontoh perilakunya dan sentuhan nurani yang dilandasi dengan spiritual. Dalam pola dasar pemikiran tersebut, dikenal sebagai  ilmu keseimbangan, artinya manusia seyogyanya hidup dengan pola fifty-fifty  yaitu 50% menyangkut materi dan 50% laku spiritual, dimana belakangan ini berkaitan dengan komitmen segala perubahan jaman.

Jika keberadaan pola pikir budaya tersebut dapat dipahami dengan nurani yang dalam, barangkali bangsa ini akan menjadi besar kembali seperti ketika pada jaman Sriwijaya dan Majapahit yang luas wilayahnya sampai ke Madagaskar. Namun didalam pengertian dan pemahamannya, masih sangat diperlukan dukungan komunitas Budaya secara Nasional, yang mampu menunjang segala asset warisan gagasan masa lampau tersebut, untuk mengembangkan dinamika Keraton diseluruh Nusantara sebagai Jati Diri Bangsa yang memiliki Harkat dan Martabat.



IV.    Tantangan Global pada Dinamika Keraton Nusantara.

Maraknya hiruk pikuk kebebasan demokrasi tanpa batas, dan sistim politik di Negeri ini, pada hakekatnya semakin menjauhkan fungsi Kerajaan/Keraton terhadap dinamika pengembangan Pelestarian Budaya di masyarakat , membuat sumber dan pengembangan nilai luhur tersebut menjadi terpinggirkan.

Pada era perubahan jaman ini Raja Sultan melakukan komitmen untuk tidak kembali kealam feodalisme dan tidak membentuk monarki baru, namun sebagai aristokrat kultural  Raja Sultan bertanggung jawab menjadikan bangsa ini terhormat dan disegani berbasis peradaban budaya yang adiluhung. Pada kenyataannya walaupun Keraton dalam keadaan yang memprihatinkan, Raja, Sultan, Pewaris, Ahli waris Keraton masih tetap konsisten dengan segala kemandiriannya melestarikan adat istiadat di wilayahnya masing-masing.

Jika dasar pola yang membangun dinamika tersebut tersingkirkan, barangkali generasi penerus bangsa ini harus belajar budaya dan adat istiadat yang telah hilang, dari bangsa lain.  Pelurusan Sejarah yang benar telah mengembalikan dinamika Keraton Nusantara, bahwa peran Raja-raja Nusantara di pasca Proklamasi yang intinya Undang-Undang Dasar ’45 dan Pancasila serta Proklamasi itu lahir karena adanya komitmen Raja-raja dengan Bung Karno.

Para Raja telah memberikan sumbangsihnya berupa asset kekayaannya untuk dijadikan modal didirikannya republik ini, tidak ada salahnya jika Pewaris dan Ahli waris Kerajaan mempertanyakan, “akan dibawa kemana Bangsa ini“  untuk itulah Keraton tidak mungkin dapat berjalan sendiri-sendiri, dinamika yang dibangun bersama 118 Keraton bersatu dalam wadah FSKN, seberapa besar kecilnya kerikil yang menghambat, Raja Sultan tetap didalam konsistensinya bersinergi dengan Pemerintah melalui Budaya demi mensejahterakan bangsa.



V.    Mencari jalan keluar antara tradisi murni peninggalan gagasan masa lampau dengan tanda-tanda perubahan jaman dalam membangun peradaban nusantara mempertahankan NKRI.

Pada jaman ‘ goro-goro/jaman edan’  dikatakan jika tidak ikut-ikutan tidak akan kebagian, ‘ Ratu Adil ‘ akan muncul menyelamatkan bangsa yang sedang dilanda goncangan     ( “ itu kata Paranormal “ )

Namun secara rasional, ratu adil merupakan wujud legenda yang sesungguhnya ada didalam hati nurani komunitas keraton Nusantara. Dalam hal keberadaan generasi muda yang sedang dilanda pengaruh globalisasi dan modernisasi merupakan tantangan bahwa seolah-olah yang berbau ‘tradisi ‘itu merupakan suatu hal yang sudah ‘ ketinggalan jaman ‘. Padahal nilai-nilai tradisi yang ditinggalkan, hanya akan memicu masalah besar yang akan dialami oleh bangsa ini. Dengan digelarnya Sarasehan Tabur Kebahagiaan “ Devolusi Anak Negeri “ dikaitkan dengan Pengembangan dinamika Budaya Keraton Nusantara dapat diartikan sebagai ‘ Munculnya momentum untuk mencari jalan keluar dalam membangun peradaban Nusantara dan mempertahankan pakem yang benar membentuk dinamika di semua aspek.’ Sarasehan yang langka ini mutlak dilanjutkan untuk membentuk character building, sehingga dapat dipahami dan disosialisasikan bersama seluruh anak bangsa. Sesungguhnya program  Sarasehan yang dapat menghasilkan nilai tambah ini, menjadi tanggung jawab Pemerintah dan dapat diatur dalam Peraturan Pemerintah, SKB Menteri, sehingga dikemudian hari setelah semua peserta keluar dari Gedung tempat Sarasehan ini dapat mendengar “ Gema kebesaran warisan Budaya “  yang mampu mengangkat semangat dan dinamika untuk ditindak lanjuti.                      

( jangan sampai terjadi mubazir, menjadikan suasana didalam gedung sarasehan ini bagaikan katak dalam tempurung karena hasil sarasehan kurang disosialisasikan dan ditindak lanjuti.)



Solusi :

Bahwa kesepakatan terdahulu tentang Kebudayaan Nasional adalah Puncak-puncak Kebudayaan daerah, diperubahan jaman ini agar tidak menjadi sekedar ‘ slogan ’  dapat dikembangkan,  namun perlu dibangun dinamika yang nyata, dalam menjadikan Budaya yang bersumber di Keraton se Nusantara bersama masyarakat adat, menjadi tanggung jawab Nasional untuk Dilestarikan membentuk ‘character building’.

Jelasnya : Budaya Nusantara yang hilang merupakan tanda-tanda Kemusnahan Bangsa.



Semoga bermanfaat,

Terima kasih.
There was an error in this gadget

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907