Titimangsa

Titimangsa
Mendidik | Cerdas | Inovativ

Friday, 16 October 2009

NEFOS.org, No:1 « Kekuatan Baru yang Sedang Lahir (New Emerging Forces) »

Penyunting (6 Juni 2008)

Dengan mengucap syukur, NEFOS.org pada hari ini, 6 Juni 2008, dapat diakses lewat internet oleh khalayak luas. Diharapkan, materi-materi yang dimuat dalam kompilasi pertama ini, maupun berikutnya, bisa menjadi sumbangan bagi khasanah gerakan di Indonesia.

NEFOS.org berupaya menyajikan analisa dan laporan tentang pergerakan sosial, politik, budaya di penjuru bumi yang memperjuangkan dunia baru yang lebih manusiawi. Dikarenakan keterbatasan sumber daya pada saat ini, artikel-artikel yang telah dan akan dimuat sebagian besar masih berupa terjemahan dari tulisan-tulisan pilihan dalam bahasa inggris yang dinilai dapat bermanfaat bagi tiap insan berbahasa Indonesia yang menaruh minat dalam perjuangan kesejahteraan dan keadilan sosial. Namun ke depannya, diharapkan akan semakin banyak memuat tulisan penulis berbahasa Indonesia dan diskusi-diskusi ilmiah yang memajukan pemikiran progresif dan pergerakan di tanah air.

Mengapa NEFOS?

Istilah apa yang bisa menggambarkan dengan tepat fenomena internasional yang terjadi beberapa tahun belakangan ini? Kemajuan revolusioner di Venezuela pimpinan Chavez dan proses integrasi progresif Amerika Latin secara keseluruhan; kebangkitan gerakan rakyat Indian-Amerika di Bolivia dan Ekuador yang sejak pertemuannya dengan bangsa Eropa berabad-abad lalu menderita pemusnahan dan penindasan; kemajuan Revolusi Kuba yang tak hanya berhasil mempertahankan capaian revolusi namun semakin menularkan perlawanannya ke seluruh benua itu setelah mampu bertahan dari bencana ekonomi akibat keruntuhan mitra dagang terbesar mereka Uni Soviet; kegagah-beranian pejuang-pejuang Hisbullah Lebanon yang memukul mundur agresi militer imperialis Israel; keteguhan rakyat Palestina yang dicekik embargo AS-Eropa Barat, dibombardir tentara Zionis; baru-baru ini gerilyawan Maois Nepal dengan jitu mampu beralih dari perjuangan bersenjata ke parlemen dan, hebatnya, muncul sebagai pemenang demokrasi; dan tak kalah pentingnya adalah semakin meningkatnya gerakan rakyat di negeri-negeri maju dalam memprotes kejahatan-kejahatan imperialis elit-elit mereka; terakhir, yang masih hangat diperdebatkan makna progresifnya, adalah keberhasilan Barack Obama menjadi kandidat presiden yang kritis, anti-perang, dan berkulit hitam dalam negeri imperialis terbesar yang memiliki sejarah diskriminasi ras yang pelik.

Fenomena yang dapat dicap dengan berbagai macam isme ini - anti-imperialisme, anti-neoliberalisme, sosialisme, marxisme, fundamentalisme islam, bolivarianisme, maoisme, nasionalisme, bahkan liberalisme (di hadapan konservatisme) - secara garis besar dapat dilihat sebagai suatu reaksi balik dari peperangan imperialis, pemiskinan rakyat, penginjak-injakkan hak bangsa, yang semakin mendorong perjuangan untuk keadaan yang lebih baik, dunia baru yang lebih manusiawi. Memang ada juga istilah "gerakan anti-sistemik"* yang lebih mungkin mencakup fenomena tersebut, walaupun dalam tahap kini, gerakan-gerakan tersebut belum tentu menunjukkan karakter "anti-sistemik"-nya, yang lebih condong diartikan sebagai anti-sistem-yang-berlaku; yakni, "anti-kapitalis."

Sepertinya istilah New Emerging Forces (NEFOs) yang oleh Bung Karno dijabarkan dalam pidatonya, Genta Suara Revolusi (Gesuri), (1963) sebagai "satu kekuatan raksasa yang terdiri dari bangsa-bangsa dan golongan-golongan progresif yang hendak membangun satu Dunia Baru yang penuh dengan keadilan dan persahabatan antar-bangsa...yang penuh dengan perdamaian dan kesejahteraan...tanpa imperialisme dan kolonialisme dan exploitation de l'homme par l'homme et de nation par nation" [1] lebih cocok dan pas bukan saja untuk mengklasifikasikan, tapi juga untuk menghayati jiwa fenomena tersebut.

Oleh karena itu, artikel pembuka yang dipilih adalah tulisan Max Lane, seorang Indonesianis asal Australia yang sangat dekat dengan gerakan kiri di Indonesia, yang dapat mengingatkan kembali rakyat Indonesia tentang sejarahnya yang progresif di bawah pimpinan Bung Karno. Artikel "Oldefo vs Nefo" yang meskipun dimuat di Sinar Harapan enam tahun lalu, masih relevan dan dapat memberikan interpretasi yang inspiratif dan aktual terhadap konsep NEFOs yang berasal dari tahun 60an. Pengertian Oldefo Bung Karno, dijabarkan oleh Max Lane (2002) sebagai "pemerintah-pemerintah negara industri kapitalis bersama-sama elite feudal dan kompradore di negara-negara sedang berkembang." Sementara menurut Max Lane, di masa kini Oldefo mencakup juga badan-badan internasional seperti, salah satunya, WTO.

Artikel selanjutnya yang terbagi dalam dua bagian, "Krisis Pangan: Demonstrasi Terbesar Kegagalan Historik Model Kapitalis", ditulis oleh tokoh Ekososialis dari Kanada, Ian Angus, disertai seruan-seruan tuntutan menurut perspektif rakyat negeri maju. Oleh karena itu ia tidak memberi penekanan terhadap masalah pengembangan kapasitas industri pertanian di negeri dunia ketiga, sebagaimana biasa ditemukan dalam wacana kiri di Indonesia, melainkan pada kedaulatan negeri berkembang dalam menentukan jalan keluar yang terbaik dari krisis pertaniannya. Alternatif yang dibela Angus bukanlah mekanisasi pertanian a la Barat, melainkan pertanian organik berskala kecil-menengah seperti di Kuba, yang diklaimnya dapat lebih produktif dan, tentunya, ramah lingkungan.

Tulisan tersebut menggambarkan juga kebobrokan OLDEFOs yang dengan serakah menyebabkan kelaparan di negeri-negeri berkembang lewat praktek monopoli dan dagangnya yang tak adil. Krisis pangan yang didorong pula oleh krisis minyak, diprediksi akan menyebabkan pergolakan besar di dunia dalam waktu dekat ini. Presiden Nikaragua sekaligus pemimpin Sandinista, Daniel Ortega, menyatakan dalam KTT Pemimpin Amerika Latin yang membahas krisis pangan awal Mei ini, bahwa dalam tiap menit yang digunakan untuk berbicara dan bertukar ide, ada 12 anak di dunia meninggal karena kurang gizi. Dalam sejam, 720 anak di bawah 10 tahun meninggal kelaparan.**

Walau demikian, pembicaraan dalam KTT tersebut lebih berguna dibandingkan pertemuan negeri-negeri imperialis, karena secara kongkrit menangani masalah pangan dengan membina kerjasama regional untuk meningkatkan produksi pangan dan mengecam penetrasi produk pertanian bersubsidi dari negeri-negeri maju. Dalam hal ini, negeri-negeri Amerika Latin yang mulai condong ke kiri, menunjukkan capaian-capaian, atau setidaknya kebijakan-kebijakan, yang menggembirakan. Mereka yang peduli dengan ini tentunya ingin tahu bagaimana kaum kiri di Amerika Latin bisa menggunakan negara sebagai alat yang dahsyat untuk menggerakkan rakyatnya maupun menghimpun sumber daya demi menuntaskan permasalahan-permasalahan kesejahteraan yang telah terbengkalai dan bahkan diperparah oleh pemerintah pro-neoliberal yang mendahuluinya.

"Tujuan-tujuan Kaum Kiri dan Perdebatan Strategi Anti-Neoliberal Di Amerika Latin" - artikel terakhir dalam kompilasi pertama ini - ditulis oleh Steve Ellner, pengamat Venezuela dan Amerika Latin yang dihormati di kalangan intelektual benua tersebut. Artikel tersebut merupakan evaluasi terhadap kegagalan dan keberhasilan gerakan kiri di Amerika Latin dengan acuan tiga strategi anti-neoliberal utama, masing-masing digagas oleh intelektual kiri yang ternama.

Ketika pada 1980an Indonesia dan negeri-negeri "Macan Asia" mengalihkan ekonominya ke sektor eksport yang mengandalkan buruh murah, akibat booming minyak yang mulai menyusut, negeri-negeri Amerika Selatan memasuki masa 'krismon' dan sudah mulai terjerat oleh kebijakan IMF. Oleh karena itu wilayah tersebut dikenal juga sebagai laboratorium neoliberalisme. Hal yang menarik adalah wilayah tersebut kini pun menjadi proyek percontohan anti-neoliberalisme, di mana unsur-unsur NEFOs di belahan bumi lainnya dengan harap-harap cemas mengamati dan mempelajarinya.

Dengan alasan ini, diharapkan NEFOS.org bisa berperan dalam proses pembelajaran tersebut di nusantara, dengan menghadirkan dokumen-dokumen yang ilmiah dan informatif ke dalam bahasa Indonesia. Sangat disadari bahwa NEFOS.org masih jauh dari sempurna dan banyak memuat kesalahan. Untuk itu koreksi, saran dan komentar dari pembaca akan disambut dengan tangan terbuka.

Terimakasih dan Selamat Membaca

penyunting@nefos.org

* Gerakan anti-sistem (anti-systemic movements) merupakan konsep yang dikembangkan pada tahun 1980an oleh akademik kiri penganut teori
atau pendekatan sistem-dunia (world-system approach), seperti Immanuel Wallerstein, Giovanni Arrighi, dan T.K. Hopkins.

**lihat "KTT Amerika Latin Hadapi Krisis Pangan" oleh Berta Joubert-Ceci

There was an error in this gadget

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907