Titimangsa

Titimangsa
Mendidik | Cerdas | Inovativ

Monday, 2 January 2012

Sultan Nusantara Cermati Dinar Dirham

Sultan Nusantara Cermati Dinar Dirham

Dalam sebuah pertemuan di Keraton Kasepuhan, Cirebon, lebih dari 20 Sultan se-Nusantara kembali mengenali Dinar dan Dirham.

Pertemuan itu berlangsung dengan sangat bersahaja, bertempat di Bangsal Pagelaran, dalam komplek Keraton Kasepuhan, Cirebon. Seharian penuh, Senin 19 Desember 2011 lalu, para Sultan yang datang dari berbagai kesultanan, di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, NTB, Maluku, sampai Papua, bersarasehan membahas persoalan kebangsaan saat ini. Hadir dalam pertemuan tersebut, dan memberikan berbagai masukan, Pengurus Majelis Kebangsaan Pancasila Jiwa Nusantara.

Laksamana Slamet Soebiyakto beserta jajarannya dari Majelis Kebangsaan memberikan penjelasan betapa sistem demokrasi telah menyeret bangsa Indonesia ke dalam persoalan kemanusiaan secara mendasar. Demokrasi yang didasarkan kepada persaingan bebas telah menghilangkan sifat-sifat dasar yang baik pada manusaia, seperti kasih sayang, tolong menolong, serta gotong royong, dan menghilangkan martabat manusia.

'Kita harus kembali kepada musyawarah. Kepemimpinan tidak seharusnya ditetapkan melalui proses pemilihan berdasarkan suara terbanyak,' adalah bagian dari solusi yang diberikan Majelis Kebangsaan.

Dalam salah satu sesi, Pak Zaim Saidi, yang hadir sebagai pengamat atas undangan Sultan Sepuh XIV, menambahkan bahwa ada soal penting lain yang harus dibahas, yaitu soal finansial. Harus dipahami bahwa sumber kekuasaan politik ada pada uang, yang saat ini dimanipulasi dan dikendalikan oelh segelintir orang. Solusi untuk itu, sebagaimana ia sampaikan kepada peserta, 20 di antaranya adalah para Sultan dari berbagai pelosok Nusantara, adalah menyatukan kembali kekuasaan dan sumbernya menuruti hukum Ilahi, Syariat Islam. Dan itu berarti mengembalikan peran dan wewenang para Sultan untuk menerbitkan dan mengedarkan Dinar dan Dirham, dan menarik zakat atasnya, untuk diratakan kepada kaum Dhuafa, beserta Fulus untuk uang recehnya .

Atas uraian yang singkat dari Pak Zaim tersebut, para Sultan menyambut dengan gembira, dan berharap agar mendapat penjelasan yang lebih detil nantinya dalam kesempatan lain. Kepada para Sultan Pak Zaim membagikan sebuah risalah berjudul 'Di Ambang Runtuhnya Demokrasi: Menyongsong Kembalinya Sultaniyya di Nusantara'. Para Sultan, tampak sangat paham bahwa Dinar dan Dirham dan syariat Islam, bukan barang asing, melainkan bagian dari tradisi masa lalu para tetua kita dulu.
(001)

sumber : http://wakalanusantara.com/detilurl/Sultan.Nusantara.Cermati..Dinar.Dirham/1066/id
There was an error in this gadget

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907