Titimangsa

Titimangsa
Mendidik | Cerdas | Inovativ

Tuesday, 6 July 2010

Presiden Swiss Melawat Empat Hari di Indonesia

http://id.news.yahoo.com/antr/20100706/tpl-presiden-swiss-melawat-empat-hari-di-cc08abe.html

Presiden Swiss Melawat Empat Hari di Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Presiden Konfederasi Swiss Doris Leuthard melakukan lawatan selama empat hari ke Indonesia, yakni Jakarta dan Surabaya pada 6-9 Juli 2010 guna meningkatkan hubungan dan kerja sama kedua negara.

Menurut pernyataan tertulis Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Dino Patti Djalal di Jakarta Selasa, Presiden Leuthard tiba di Jakarta Selasa pagi dan dijadwalkan bertolak ke Surabaya Kamis pagi (8/7).

Di Jakarta, kata Dino, pada Rabu (7/7) Presiden Leuthard akan melakukan pertemuan dwipihak dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan menghadiri jamuan santap malam kenegaraan di Istana Negara setelah sebelumnya melakukan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Presiden Leuthard juga menghadiri Forum Bisnis tentang daya saing dengan pengusaha Indonesia dan Swiss bekerja sama dengan KADIN, mengunjungi proyek Organisasi Buruh Internasional (ILO) di Jakarta, serta melakukan pertemuan dan jamuan makan siang dengan Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan.

Di Surabaya, menurut Dino, Presiden Leuthard akan melakukan pertemuan bisnis dan jamuan santap siang dengan gubernur Jawa Timur serta melakukan kunjungan ke beberapa pusat bisnis di provinsi itu.

Indonesia dan Swiss memiliki hubungan dan kerja sama yang erat di bidang ekonomi, perdagangan, investasi dan pembangunan.

Melalui pembentukan Joint Economic and Trade Commission (JETC) pada 26 November 2009, Indonesia telah ditetapkan sebagai negara prioritas yang menjadi mitra strategis Swiss dalam pengembangan kerja sama ekonomi dan pembangunan.

Hubungan baik antara Indonesia-Swiss, ditandai pula oleh beberapa kunjungan yang telah dilaksanakan selama beberapa tahun terakhir oleh pemimpin kedua negara, yaitu pada Januari 2000, Presiden Abdurrachman Wahid berkunjung ke Bern, Swiss sedangkan pada Februari 2007, Presiden Swiss Calmy Rey mengadakan kunjungan kenegaraan ke Indonesia.

Menurut Dino, kunjungan Presiden Leuthard kali ini bukan saja mencerminkan hubungan bilateral yang telah berlangsung dengan baik antara kedua negara, namun juga merupakan upaya peningkatan persahabatan dan kerja sama kedua negara yang telah berlangsung selama 58 tahun.

Investasi Swiss di Indonesia tergolong besar, menempati urutan ke-15 sebagai periode 1990-2009, dengan total investasi sebesar 740,7 juta dolar AS yang mencakup 120 proyek, termasuk 36 proyek baru pada periode Januari 2000 hingga September 2005 dengan nilai 313 juta dolar AS.

Investasi Swiss di Indonesia antara lain di bidang industri makanan, industri kimia, farmasi, pengiriman, perkebunan, perhotelan, pengolahan air minum dan "engineering".

Khusus di bidang infrastruktur, Pemerintah Swiss juga ikut dalam pembangunan pembangkit tenaga listrik bersama Bank Pembangunan Asia.

Volume perdagangan kedua negara tahun 2007-2008 mengalami peningkatan sebesar 47,09 persen dan mencapai 983,9 juta dolar AS. Volume perdagangan di tahun 2009 sempat mengalami penurunan sebesar 38,43 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan total nilai perdagangan sebesar 621,5 juta dolar AS.

Komoditas ekspor utama Indonesia ke Swiss antara lain minyak atsiri, garmen, sepatu dan perlengkapannya, produk elektronik, furnitur, minyak kopi, teh, rempah-rempah, tumbuhan, timah, serta plastik dan produknya.

Sedangkan komoditas ekspor Swiss yang utama ke Indonesia adalah suku cadang mesin pembangkit listrik, produk farmasi, produk kimia, bahan pewarna, bahan kosmetik dan barang mewah.

Sedikitnya sekitar 75 perusahaan Swiss saat ini beroperasi di Indonesia, antara lain ABB, Air Minum Ades, Credit Suisse, Nestle, Novartis, Panalpina, Roche, Holcim dan UBS, yang seluruhnya memberi lapangan kerja bagi lebih dari 59.000 orang.

There was an error in this gadget

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907