Titimangsa

Titimangsa
Mendidik | Cerdas | Inovativ

Tuesday, 14 June 2011

Membangun dengan Kearifan Lingkungan

sumber : http://lipsus.kompas.com/ekspedisicitarum/read/2011/05/03/16302374/Membangun.dengan.Kearifan.Lingkungan

Membangun dengan Kearifan Lingkungan

Rini Kustiasih
| nurulloh | Selasa, 3 Mei 2011 | 16:30 WIB
Dibaca: 622 Komentar: 4|

Share:

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Mochammad Memed

Oleh Rini Kustiasih

BANDUNG, KOMPAS.com — Mochammad Memed (74) sedari kecil takjub pada bangunan-bangunan air yang diakrabinya di Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dalam pelarian keluarganya ke Majalaya untuk menghindari Jepang, Memed kecil menghabiskan waktu bersama teman-temannya berenang di saluran irigasi Cikaro yang airnya berasal dari Sungai Citarum.

Kelak di kemudian hari, Memed dikenal sebagai salah seorang ahli hidraulika di Tanah Air. Ia tidak hanya merancang saluran irigasi, tetapi juga mendesain ratusan bendung dan waduk yang manfaatnya luar biasa bagi bangsa.

Di usia pensiunnya, Memed masih semangat berbicara soal bangunan air, apalagi jika terkait dengan Citarum. Kerusakan lingkungan mulai dari hulu sampai hilir di Citarum akan berdampak langsung terhadap fungsi waduk dan bendung yang memanfaatkan air sungai terpanjang di Jabar itu.

”Kalau sedimentasi tak tertangani dan lumpur menumpuk di dasar danau, bagaimana jadinya kalau waduk-waduk itu sudah tak mampu lagi menahan debit air dan erosi dari hulu. Jika salah satu waduk besar di Jabar (Saguling, Cirata, Jatiluhur) jebol, efeknya lebih dahsyat daripada tsunami di Aceh. Ada ribuan hektar sawah dan jutaan orang tinggal di sana,” kata Memed saat ditemui di rumahnya, Jalan Ir H Djuanda, Bandung, akhir Maret.

Kekhawatiran Memed itu wajar mengingat kondisi ketiga waduk di Jabar yang kini kian memprihatinkan akibat pencemaran dan sedimentasi. Setiap tahun lebih dari 4 juta meter kubik lumpur masuk ke Citarum. Sebuah laporan penelitian yang dilakukan Universitas Padjadjaran juga menyebutkan, sungai itu setiap hari dialiri 11 ton tinja manusia. Tidak salah kiranya apabila ada sebutan bagi Citarum sebagai septic tank terpanjang di dunia.

Kurang perhatian

Memed yang juga mantan anggota tim peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian (dulu departemen) Pekerjaan Umum (PU)—yang membuat desain rancang bangun waduk, terutama untuk sistem pengambilan air (intake) dan penggelontoran air (spillway)—mengatakan, selain daya dukung alam yang kian kurang, perawatan terhadap waduk juga minim.

Ia menyayangkan masih sedikitnya ahli sipil basah yang berkutat dengan rancang bangun ataupun sistem hidraulika waduk dan bangunan air lainnya. Seusai eranya, ia khawatir tidak ada lagi ahli dari kalangan muda di Indonesia yang mau mendalami soal bangunan air.

”Bangunan air, apa pun itu, apakah waduk atau bendung, sangat krusial perannya, baik untuk irigasi, kelistrikan, air minum, maupun pengendalian banjir. Banyak bangunan air di daerah rusak dan belum mendapatkan perhatian,” ujarnya.

Sistem pendidikan berdasarkan satuan kredit semester (SKS), menurut dia, kurang mencukupi untuk membuat seorang mahasiswa menguasai ilmu hidraulika.

Memed yang kini masih aktif mengajar di Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi, beberapa kali menguji mahasiswanya agar membuat desain bangunan jembatan sederhana dengan kondisi sungai, tingkat kemiringan, dan aspek alam lain yang telah ditetapkan sebelumnya. Kebanyakan mahasiswa, ujarnya, gagal melewati tes itu.

Pada masanya, Memed beruntung karena bisa berguru langsung kepada ahli sipil basah di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sempat mengenyam pendidikan dari sejumlah profesor asal Belanda. Guru-guru asal Belanda itu dikenal mumpuni soal bangunan air. Saat itu, Memed juga menerima pelajaran hidraulika langsung dari Prof Van Kregten, seorang warga Belanda.

Masuk ke ITB tahun 1956 pada Jurusan Teknik Sipil Basah, Memed dibimbing M Besari, asisten dosen dari Prof Ir R Soetedjo. Di era Orde Lama, Soetedjo menjabat Menteri Pekerjaan Umum. Memed dibimbing Besari yang amat telaten mengajari mahasiswanya. Bahkan, gurunya itu membuatkan model fisik khusus bagi setiap mahasiswa.

Tahun 1962, saat sebagai mahasiswa ITB, ia ditunjuk memimpin tim survei yang terdiri atas delapan mahasiswa sipil ITB. Survei dilakukan untuk keperluan penanganan banjir di Jabar utara yang disebabkan meluapnya Sungai Cimanuk ke daerah irigasi Cilutung, Sindopraja, dan Cipelang. Banjir itu juga disebabkan luapan Citarum ke Karawang dan Bekasi.

Tugas itu diberikan oleh Lembaga Penyelidikan Masalah Air (LPMA) dari Direktorat Jenderal Pengairan. Dari survei itulah, Memed semakin mendalami soal sumber daya air dan lahan. Ia belajar praktik langsung dalam membuat rekayasa sipil keairan.

Setelah menyelesaikan studinya di ITB, tahun 1963 Memed menjadi peneliti di LPMA. Bersama sejumlah profesornya, ia aktif mengumpulkan data, informasi, dan masalah tentang sungai, danau, bendung, dan bangunan air irigasi.

600 bangunan air

Sejak 1970 Memed aktif dalam dunia bangunan air. Bisa dibilang hampir semua bangunan air di masa Orde Baru tak lepas dari polesannya. Hingga pensiun sebagai Ahli Peneliti Utama Balitbang Kementerian PU, lebih dari 600 bangunan air ditanganinya, mulai dari identifikasi masalah, desain, perbaikan sistem hidraulik, renovasi, hingga pemugaran.

Ia, antara lain, menyempurnakan desain Bendung Krueng Aceh (Aceh), mendesain Bendung Kerasaan (Pematang Siantar), merehabilitasi Curug Walahar (Purwakarta), mendesain Bendung Lomaya (Gorontalo), dan memperbaiki sistem intake Bendung Gumbassa (Sulawesi Tengah).

Selain dalam kondisi rusak, banyak pengelola waduk dan bendung yang tidak paham fungsi bangunan air. Untuk pengendalian banjir, misalnya, waduk amat berperan. ”Sayangnya, kini daerah limpasan air waduk justru dibanguni permukiman sehingga saat muka air waduk belum kritis, spillway sudah dibuka. Pengelola waduk khawatir daerah tertentu akan banjir jika spillway telat dibuka. Padahal, daerah itu memang untuk limpasan air,” papar Memed.

Pendiri Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia ini juga menyayangkan adanya anggapan pembuatan bangunan air hanya berorientasi proyek. ”Tujuannya bukanlah proyek. Air sungai sangat sayang jika dibiarkan langsung masuk ke laut. Sungai perlu dibendung agar manfaatnya bisa dinikmati masyarakat. Misalnya untuk irigasi, pariwisata, perikanan, dan kelistrikan. Jika tidak diolah, potensi sungai akan sia-sia,” ujarnya.

Memed berprinsip, selama masih ada sisa usia, ia akan membaktikan diri bagi kemajuan dunia bangunan air di Indonesia.

Mochammad Memed

  • Lahir: Bandung, 25 Mei 1937
  • Istri: Yati Harsiyati (69)
  • Anak: Ari Harmedi (45), Muhammad Wahyudi (44), Dewi Metyasari (41)
  • Pendidikan: S-1 ITB Jurusan Teknik Sipil Basah; International Institute of Hydraulic Engineering (IHE), Belanda
  • Karier: Kepala Seksi Hidraulika Sungai di LPMA (1970); Kepala Subdirektorat Hidraulika di LPMA (1984); Kepala Balai Hidraulika di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air Balitbang Kementerian PU (1992)

There was an error in this gadget

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907