Titimangsa

Titimangsa
Mendidik | Cerdas | Inovativ

Monday, 26 March 2012

Kembalinya Islam perlu didahului dengan kembalinya persatuan umat Muslim dalam Amirat. 

Perhatikanlah dunia Muslim hari ini dan apa yang Anda saksikan? 

Lemah, pertengkaran, korupsi merajalela dan uang menjadi raja. Kita melihat perpecahan, bukan persatuan. Kita melihat anarki, bukan pemerintahan - lihatlah Tunisia, Irak atau Somalia. Kita melihat 'penguasa despot tak berdaya' merencanakan kehancuran dan penghancuran sesamanya, sambil tunduk-patuh kepada tuan-tuan uang dan para bankir dunia, dan menjuali aset rakyat mereka dengan nota janji (uang kertas). Muslim hari ini hampir tidak dapat disebut sebagai umat yang tunggal. Itu terjadi karena hilangnya satu elemen penting di kalangan Muslim selama hampir satu abad ini. Umat Muslim diibaratkan sebagai tubuh oleh Rasulullah salallahualai wasallam, dan agar tubuh berfungsi, dibutuhkan kepala. Tubuh membutuhkan organ yang memberikan instruksi ke seluruh tubuh dan memungkinkannya untuk bertindak sebagai satu kesatuan yang harmonis'organ ini adalah seorang amir. 


Racun Demokrasi

Sekarang kita diajari bahwa solusi bagi kesengsaraan dunia Muslim adalah demokrasi, di mana satu-satunya cara pemerintah dan kepemimpinan muncul adalah melalui pemilihan umum. Massa Muslim yang tertindas diberikan kesempatan untuk membuat suara mereka didengar, mendapatkan pemimpin yang melayani mereka dan kepentingan mereka, dan bukan hanya kepentingan mereka sendiri dan kroni mereka. Dalam dialektika politik modern, satu-satunya alternatif yang layak bagi tiran yang tidak adil, pengerukan sumber daya alam, alternatif untuk sosok semacam Saddam Hussein atau Pol Pot, adalah negara demokrasi. Ini dikatakan sebagai bentuk pemerintahan paling damai, dan terbaik, karena pemerintah adalah untuk rakyat, oleh rakyat. Lihatlah seberapa sukses Amerika dan Eropa, kata mereka. 


Begitulah cara pemerintah dan media - yang jauh dari pers bebas yang mereka klaim, dan lebih merupakan alat kontrol dan sarana membentuk opini massa'mencoba untuk menjualnya kepada kita. Sebagai bentuk pemerintahan paling sempurna dan cara terbaik untuk memilih seorang pemimpin. Ini adalah fantasi yang sama sekali bertentangan dengan fakta'mari kita ambil Perancis sebagai studi kasus. 'Demokrasi' lahir dari genosida, dengan jalan-jalan di Perancis berwarna merah, banjir dengan darah. Dan dongeng mereka, Liberte dan Equalite'kebebasan dan kesetaraan'telah terbukti hanyalah omong kosong, sekedar alat untuk membenarkan eksploitasi massa untuk kepentingan segelintir orang.


Para politisi tidak ada yang melayani rakyat, tetapi melayani para pialang uang dan kaum kaya raya. Demokrasi tidak melayani kita, tapi merampas kita dan kemudian menyalahkan pemerintahan sebelumnya. Memang, jauh dari satu-satunya alternatif yang adil dan layak bagi diktator, demokrasilah yang mengantar mereka pada kekuasaan, Hitler hanya salah satu contoh dari yang tak terhitung jumlahnya. 


Dan, bahkan seandainya kita menerima definisi mereka sebagai kebenaran, bahwa demokrasi adalah pemerintahan suatu negara oleh rakyat, masih tetap bertentangan dengan dien Allah, karena itu berarti menerima kehendak mayoritas, apa pun dien mereka. Ini berarti menerima ajaran 'hak asasi manusia' 'bahwa seorang Muslim adalah sama dengan seorang musyrik dan agama sekadar sebagai pilihan gaya hidup, seperti satu model mobil atau merek pasta gigi, dan dapat dipertukarkan dengan mudah. Pandangan demikian sepenuhnya tidak sesuai dengan Islam, karena didasarkan kepada doktrin bahwa akal manusia'dan akal manusia memandu kehendak manusia'merupakan kriteria utama yang mendasari suatu masyarakat, bukan keadilan ilahi. 


Ini adalah pemutarbalikan realitas alam, sebab itu menyiratkan bahwa makhluq lebih tahu dari Sang Khaliq, si jahuul'bodoh, lebih tahu daripada 'alim - Yang Maha Mengetahui dan Khabiir. Ini jelas omong kosong. Orang-orang beriman dan kafir tidaklah sama. Allah berfirman, 


أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لَا يَسْتَوُونَ


yang artinya 'Apakah seorang yang beriman sama dengan yang fasiq? Mereka tidak sama.' Memandang mereka sebagai sama adalah menerima kemusyrikan sebagai pilihan gaya hidup yang nyata. Dan kita sebagai Muslim tidak bisa melakukan itu karena kita diperintahkan untuk memerangi syirik, sampai hanya Allah saja yang disembah di bumi, dan sampai dien Allah adalah yang paling penting di muka bumi. Allah berfirman, 


هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ


yang artinya: 'Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan Dien yang haq, diunggulkan dari setiap dien yang lain, meskipun kaum musyrikun membencinya.' 


Pemerintah Untuk Melaksanakan Perintah Allah

Kita menolak sepenuhnya gagasan bahwa kaum kafir memiliki hak yang sama atas bagaimana bangsa dijalankan sebagai seorang Muslim, dan jika umat Islam awal telah menerima yang kemudian dien tidak akan pernah diambil terus di tanah karena, untuk beberapa generasi pertama, mereka adalah minoritas, dengan jumlah non - subyek Muslim di kekhalifahan jauh melebihi jumlah yang muslim. Mayoritas tidak pernah, dan tidak pernah bisa, benar. Allah berfirman yang artinya, 'Jika kamu menuruti kebanyakan orang di bumi, mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Mereka tidak mengikuti apa-apa kecuali persangkaan. Mereka hanya menerka-nerka.' Pemerintah ada, bukan untuk menegakkan keinginan rakyat, melainkan untuk melaksanakan Perintah Allah. 


Jadi, demokrasi jelas bukan solusi. Tapi, kemudian, apa solusinya? Apakah yang kurang dari umat hari ini? Jawabannya adalah kepemimpinan'baik pada tingkat makro maupun tingkat mikro. Anda harus menyadari bahwa peristiwa yang paling signifikan dari abad kedua puluh bukanlah Perang Dunia (PD) I atau PD II, bukan munculnya AS sebagai kekuatan global, namun penghapusan kekhalifahan. Dari zaman Nabi sampai 1922, umat Muslim terus-menerus diperintah oleh seorang penguasa tunggal, yaitu Khalifah dari Rasulullah. Mereka adalah perekat yang menyatukan umat, dan dengan penghapusannya, semuanya jatuh hancur lebur. 


Ada sebuah pepatah Arab: 'Enam puluh tahun di bawah kekuasaan sebuah tirani lalim lebih baik daripada satu malam tanpa sultan', dan pengalaman kita tentang abad yang lalu telah menunjukkan kepada kita kebenarannya. 


Bahkan pada akhir Khilafah Utsmaniyah, meskipun telah begitu tengelamnya dan begitu korupnya, umat Muslim masih jauh lebih bersatu dan dalam keadaan jauh lebih baik daripada hari ini. Kebutuhan kepemimpinan adalah sesuatu yang Muslim sadari dari awal - hal pertama yang umat Islam lakukan setelah kematian Rasulullah, bahkan sebelum menguburkannya, adalah menunjuk seseorang untuk memimpin masyarakat sebagai penggantinya, yaitu Abu Bakar. Mereka menolak untuk membiarkan bahkan semalam saja tanpa pemimpin tunggal. Kita, sementara itu, membiarkan hampir 100 tahun berlalu tanpa kepemimpinan. 


Keharusan Kehadiran Amir

Mereka mengerti tidak mungkin ada dien dalam arti sebenarnya tanpa kepemimpinan. Umar bin al-Khaththab berkata, seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Abd al-Barr: 'Tidak ada Islam tanpa jama'ah, tidak ada jama'ah tanpa Amir, dan tiada Amir tanpa ketaatan kepadanya.' Dan Ibnu Taimiyah berkata: 'Ini harus dipahami bahwa kepemimpinan dalam masyarakat adalah salah satu kewajiban terbesar dari dien'dien tidak dapat tegak tanpa itu, sebab kepentingan terbaik dari umat manusia hanya dapat dilayani oleh mereka secara bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan masing-masing, dan setiap perkumpulan harus memiliki kepala.' Dan itu akan sangat jelas bila Anda melihat dien dan melihat hal-hal yang hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin: pengambilan dan pembagian zakat, penetapan awal dan akhir Ramadhan, dan seterusnya. 


Ibnu Taimiyah mengatakan: 'Karena Allah memerintahkan yang benar dan melarang yang salah, dan itu tidak mungkin ditegakan tanpa kekuasaan dan otoritas. Sama halnya berlaku untuk hal-hal lain yang Dia wajibkan, seperti jihad, penegakkan keadilan, pelaksanaan haji dan hukuman hudud'yang hanya bisa dijalankan dengan kekuasaan dan otoritas.' 


Hal ini berlaku pada tingkat makro dengan kata lain, umat Islam harus memiliki khalifah, tetapi juga berlaku pada tingkat mikro. Setiap komunitas Muslim, tidak peduli seberapa kecilnya, harus memiliki pemimpin. Nabi berkata, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri, 'Bila tiga orang pergi untuk perjalanan, mereka harus menunjuk satu dari mereka sebagai amir mereka.' Jadi, kesejahteraan kelompok dijaga. Kita meminta kepada Allah untuk menegakkan sunnah ini di dalam kehidupan kita dan oleh kita dan melindungi dan memperkuat komunitas kita dengan menempatkan seorang Amir yang teguh atas mereka. 


Pemimpin umat muslim dapat ditunjuk dalam beberapa cara seperti yang ditunjukkan oleh tindakan Khulafaurasydin: dengan persetujuan orang berpengetahuan dan berpengaruh di masyarakat, dengan ditunjuk oleh Amir sebelumnya atau ditegakkan dengan ' ashabiyyah dan kekuatan senjata. Tapi begitu ia telah ditunjuk, menjadi kewajiban umat Muslim untuk menaatinya dan berbay'ah kepadanya. 


Allah berfirman: yang artinya, 'Hai orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan mereka yang memegang otoritas di antara kamu.' Dan Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata, 'Siapa pun yang menaati aku telah menaati Allah dan barangsiapa mendurhakai aku telah mendurhakai Allah. Siapa pun yang mematuhi amir telah mematuhi aku dan siapa pun yang tidak mentaati amir telah mendurhakai aku.' Anda harus mematuhi amir bahkan ketika dia berbuat salah, selama dia tidak memerintahkan kalian untuk tidak mematuhi Allah. 


Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi berkata, 'Adalah wajib bagi seorang Muslim untuk mendengarkan (penguasa yang ditunjuk di atasnya) dan mentaatinya dalam hal-hal yang dia suka dan dalam hal-hal dia tidak suka, kecuali ketika ia diperintahkan untuk mendurhakai Allah. Jika ia diperintahkan untuk tidak mematuhi Allah, maka dia tidak harus mendengarkan atau mematuhinya.' Dan Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ia berkata, 'Jika Anda melihat sesuatu pada Amir Anda yang tidak Anda sukai, maka bersabarlah. Sebab barangsiapa memisahkan diri dari Sultan bahkan hanya satu inci, akan mati jahiliyah.'


Kepatuhan Sebagai Prasayarat

Setelah Amir ditunjuk, tidak peduli bagaimana ia berkuasa, adalah tugas kita sebagai umat Islam untuk memberikan ketaatan kita'dengan melakukan itu, kita memenuhi sisi tawar-menawar kita. Jika ia tidak memenuhi beberapa tanggung jawabnya, maka itu adalah urusan dia dan Allah. Seperti Nabi berkata ketika Wa'il bin Hijr bertanya apa yang harus mereka lakukan jika pemimpin mereka menjadi tiran yang tidak adil, 'Mereka bertanggung jawab untuk apa yang mereka pikul dan Anda bertanggung jawab untuk apa yang Anda pikul.' 


Ketaatan ini oleh ditetapkan dalam tindakan bay'ah. Tindakan berbay'a adalah berjanji setia kepada amir, janji untuk mematuhinya dan tidak menantang atau menentang dia, dan merupakan fardhu kifayah. Dengan kata lain, harus dilakukan oleh beberapa angota umat'yaitu orang-orang penting dan berpengaruh dalam masyarakat - dan dengan itu kewajiban dari sisa umat telah terpenuhi. Sunah dari bay'ah pertama kali didirikan di 'Aqaba ketika sejumlah orang dari Madinah datang kepada Nabi dan berjanji untuk melayani dan menaatinya dan dilanjutkan ketika Muslim memberikan bay'ah kepada Abu Bakar di dalam masjid Madinah, sementara tubuh Nabi masih di atas tanah. Itulah pentingnya kontrak ini antara Muslim dan pemimpin mereka, karena ini menegaskan komitmen mereka kepadanya dan kepada mereka. Nabi berkata, 'Dia yang meninggal tanpa janji baiat di lehernya, meninggal dalam kematian jahiliyah.' 


Jika kita tidak memberikan bay'ah kepada amir kita, maka kita belum mengambil kepemimpinan secara serius atau menyatakan diri kita untuk mematuhi mereka. 'Amir hanyalah gelar tanpa makna berarti, bila kita tidak menerima otoritas mereka dan mematuhinya. Dan sebagaiman 'Umar berkata, 'Tidak ada Islam tanpa amir.' Jadi kita harus membiarkan amir kita untuk memimpin kita 'kita harus bersatu di belakangnya. Dan setiap komunitas Muslim, di mana pun dan tidak peduli seberapa kecil, juga harus mengangkat seorang amir. Karena hanya dengan membangun kembali kepemimpinan sejati pada tingkat lokal, kita akan mengembangkan kekuatan dan kesatuan untuk menghidupkan kembali Khalifah. Dan hanya melalui Kalifah kita akan melihat Islam kembali pada tempat yang selayaknya di atas urusan dunia. 


Catatan: Artikel ini semula merupakan naskah khutbah Jumat yang disampaikan di Masjid Jami' Cape Town. 


sumber : http://wakalanusantara.com/detilurl/Saatnya.Merestorasi.Kembali.Amirat/1138/id


Published with Blogger-droid v2.0.4
There was an error in this gadget

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907