Titimangsa

Titimangsa
Mendidik | Cerdas | Inovativ

Tuesday, 21 September 2010

Komisi A Setuju Ibu Kota Karawang

Komisi A Setuju Ibu Kota Karawang



DIPONEGORO,(GM)-
Anggota Komisi A DPRD Jabar, H. Nawafie Saleh lebih setuju Kab. Karawang menjadi ibu kota negara dibandingkan Kab. Bogor. Sebab, lahan yang rencananya akan dijadikan pusat pemerintahan di Kab. Karawang milik negara, sedangkan lahan di Jonggol masih milik masyarakat yang harus dibebaskan dulu. Selain itu, lokasi yang di Karawang lebih strategis, hanya 5 km dari Tol Jakarta-Cikampek.

"Lahan yang disiapkan untuk ibu kota di Jonggol, Kab. Bogor memang lebih luas, yaitu mencapai 30.000 hektare, tapi lahannya milik masyarakat, sedangkan lahan di Kab. Karawang hanya sekitar 7.100 hektare, tapi milik negara. Kendati luasnya hanya 7.100 hektare, menurut saya lahan itu cukup luas untuk dijadikan daerah ibu kota pemerintahan," ungkap Nawafie kepada wartawan di Gedung DPRD Jabar, Jln. Diponegoro Bandung, Jumat (17/9).

Ia menyebutkan, lahan yang di Kab. Karawang berada di Kec. Ciampel. Orang sekitar menyebutnya Kuta Tandingan, artinya kota yang tidak tertandingi. Daerah tersebut merupakan kawasan pegunungan yang lahannya bekas milik Belanda. Daerahnya sejajar dengan Waduk Jatiluhur, sehingga aman dari longsoran atau rembesan air waduk. Bagian utara Kuta Tandingan adalah daerah pertanian yang dikenal sebagai lumbung padi Jawa Barat.

"Sehingga, jika lahan Kuta Tandingan dijadikan ibu kota pemerintahan, tidak akan mengganggu lahan lainnya, seperti lahan pertanian atau permukiman warga. Daerah Kuta Tandingan dikelilingi 9 pegunungan, di antaranya Gunung Sanggabuana, Gedogan, dan Gunung Cipaga," papar Nawafie.

Menurutnya, dari sisi tempat, Jonggol maupun Kuta Tandingan memang tidak terlalu jauh dari Jakarta. "Kalau dibandingkan memang Karawang sedikit lebih dekat dibandingkan Jonggol. Namun jika dibandingkan dari sudut yang lain, pemindahan ibu kota negara lebih ideal ke Karawang," katanya.

Diakui Nawafie, selama ini Komisi A belum menentukan sikap apa pun atas wacana pemindahan ibu kota. Meskipun masalah ini merupakan kewenangan pemerintah pusat, namun karena Karawang berada di Jawa Barat, Pemprov Jabar setidaknya harus memberikan kontribusi terhadap wacana pemidahan ibu kota tersebut.

Sebelumnya, Wagub Jabar, Dede Yusuf juga lebih mendukung pemindahan ibu kota negara ke Karawang dibandingkan ke Jonggol, Kab. Bogor. Pemikirannya didasarkan atas kesiapan sarana dan infrastruktur yang ada di Karawang yang dinilai lebih siap dibandingkan Jonggol. "Saya melihat Karawang lebih siap menjadi ibu kota negara. Paling tidak di sana dibangun untuk pusat kegiatan pemerintahan," kata Dede

Dede mengatakan, wacana Jonggol menjadi ibu kota negara banyak muncul. Namun, ia lebih mendukung jika kantor pusat pemerintahan dipindahkan ke Karawang saja. "Wacana mengenai pemindahan ibu kota dan pusat pemerintahan ke Jonggol sudah ada sejak tahun '80-an. Tapi kita juga punya opsi lain ke teman-teman di DPR, kenapa tidak di Karawang saja," ujarnya.

Di salah satu kabupaten di Jabar itu ada ribuan hektare lahan kosong yang bisa digunakan untuk membangun pusat pemerintahan, khususnya pusat-pusat perkantoran. Selain itu, akses jalan yang mudah, ditambah adanya jalan tol. Jarak tempuh dari Jakarta pun sebentar, hanya 20 menit. "Karena itu kita mengusulkan kantor presiden dan DPR di Karawang saja," katanya. (B.96)**




http://www.karawangkab.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=349&Itemid=219
SITUS KUTA TANDINGAN

Situs Kuta Tandingan diperkirakan merupakan meninggalan Kerajaan kecil dalam Kekuasaan Kerajaan Pajajaran, yang bernama Kerajaan Kuta Tandingan Jaya yang diperintah oleh Patih Panatayuda, dibantu oleh Patih Purnakuta dan Patih Mangkubumi dengan penasehat Pamanah Rasa dan Jaksa Imbang Kencana.
Menjelang keruntuhan Pajajaran Kerajaan Kuta Tandingan Jaya melepaskan diri atau diambil alih oleh tentara Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Syech Maulana Yusuf, sebab pada tahun 1626 daerah Udug - udug dijadikan Markas Tentara Kesultanan Banten dibawah pimipinan Pager Gunung atau lebih dikenal dengan Pangeran Puger, daerah Udug - udug merupakan tempat yang strategis untuk pengawasan lalu lintas perahu di Sungan Citarum, dari daerah ini Pasukan Tentara Kesulatanan Banten menyerang Sumedang Larang juga merupakan Pos Pertahanan untuk menangkal serangan balik dari Sumedang Larang dan Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Sultan Agung. Di daerah ini Banyak ditemukan goa - goa Vertikal atau biasa disebut Luweng, yang belum dijamah ataupun diteliti kedalamannya. Lokasi SItus Kuta Tandingan terletak di Desa Mulyasejati, Kecamatan Ciampel 38 km dari Ibu Kota Kabupaten Karawang.

DISKUSI TTG KUTA TANDINGAN
http://archive.kaskus.us/thread/1110515/320
There was an error in this gadget

AddThis

Bookmark and Share

Facebook Comment

Info Archive

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Arief Natadiningrat :

"Kami berharap, negara ini tidak melupakan sejarah. Dulu sebelum kemerdekaan Bung Karno meminta dukungan keraton untuk bisa membuat NKRI terwujud, karena saat itu tak ada dana untuk mendirikan negara. Saat itu keraton-keraton menyerahkan harta yang mereka punya untuk kemerdekaan negara ini,"

http://nasional.kompas.com/read/2010/12/05/1725383/Para.Sultan.Dukung.Keistimewaan.Yogya

THE FSKN STATMENT IN SULTANATE OF BANJAR : SESUNGGUHNYA KETIKA RAJA - RAJA MEMBUAT KOMITMENT DGN BUNG KARNO DALAM MENDIRIKAN REPUBLIK INI , SEMUA KERAJAAN YG MENYERAHKAN KEDAULATAN DAN KEKAYAAN HARTA TANAHNYA , DIJANJIKAN MENJADI DAERAH ISTIMEWA. NAMUN PADA KENYATAANNYA ...HANYA
YOGYAKARTA YG DI PROSES SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA ... AKANKAH AKAN MELEBAR SEPERTI KETIKA DI JANJIKAN ... HANYA TUHAN YG MAHA TAU. ( Sekjen - FSKN ) By: Kanjeng Pangeran Haryo Kusumodiningrat

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=177026175660364&set=a.105902269439422.11074.100000589496907